POJOKSATU.id — Lailatul Qadar adalah malam istimewa yang dinanti oleh umat Islam di bulan Ramadan.
Keutamaannya disebut dalam Al-Quran surat Al-Qadr ayat 3, di mana Allah SWT menetapkan bahwa malam ini lebih baik dari seribu bulan.
Meskipun banyak yang menantikannya, tidak semua orang mengetahui sejarah serta asal-usul malam yang penuh berkah ini.
Sejarah Lailatul Qadar
Dalam sebuah riwayat hadits dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan."
Malam ini diyakini sebagai malam turunnya Al Quran dan menjadi salah satu malam yang penuh ampunan serta keberkahan bagi umat Islam yang menghidupkannya dengan ibadah.
Baca Juga: Mengenali Tanda-tanda Lailatul Qadar, Salah Satunya Malam yang Begitu Sejuk dan Tenang
Menurut buku Bunga Rampai Bincang Syariah karya Mohammad Hafid (2022), sejarah Lailatul Qadar bermula saat Rasulullah SAW berkumpul bersama para sahabat di bulan Ramadan.
Beliau menceritakan kisah seorang Nabi bernama Sam'un Ghozi a.s., seorang utusan Allah untuk kaum Bani Israil.
Dikisahkan bahwa Nabi Samun Ghozi a.s. adalah seorang pejuang yang dengan gigih melawan kaum yang menentang keesaan Allah Swt.
Karena keberaniannya, raja Israel saat itu berusaha menundukkannya.
Sang raja pun menjanjikan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa menangkapnya.
Mendengar hal itu, istri Nabi Sam'un tergoda oleh iming-iming tersebut dan akhirnya menyerahkan suaminya sendiri.
Dalam peristiwa tragis itu, Nabi Sam'un Ghozi a.s. mengungkapkan rahasia kelemahannya kepada istrinya karena cinta dan kasih sayang.
Baca Juga: Tak Banyak Yang Tahu! Ini Dia Tanda-Tanda dan Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Ia berkata, "Jika engkau ingin mendapati aku dalam keadaan tak berdaya, ikatlah aku dengan rambutmu."
Istrinya pun mengikuti perkataan tersebut dan menyerahkan beliau kepada sang raja.
Akibatnya, Nabi Samun disiksa, kedua matanya dibutakan, dan ia dipajang di istana raja.
Dalam keadaan terpuruk, Nabi Sam'un Ghozi a.s. memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Diawali dengan taubat, ia berdoa meminta kekuatan.
Doanya dikabulkan, dan dengan izin Allah, beliau berhasil merobohkan istana raja bersama seluruh masyarakatnya yang zalim, termasuk istri dan kerabat yang telah mengkhianatinya.
Setelah kejadian tersebut, Nabi Sam'un bersumpah kepada Allah untuk menebus dosanya dengan beribadah tanpa henti selama seribu bulan.
Baca Juga: Saat Malam Lailatul Qadar, Apakah Perempuan Haid Bisa Memperoleh Pahala? Ini Jawabannya
Ketika Rasulullah saw. selesai menceritakan kisah ini, para sahabat pun bertanya, "Wahai Rasulullah, kami juga ingin beribadah seperti Nabi Sam'un Ghozi."
Saat itulah Malaikat Jibril datang dan mewahyukan surat Al-Qadr, yang menjelaskan bahwa Allah SWT telah menghadiahkan umat Islam sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Rasulullah SAW tersenyum dan kemudian berkata bahwa diperlihatkan kepadanya hari akhir, di mana seluruh manusia dikumpulkan di Mahsyar.
Semua nabi dan rasul masuk ke dalam surga bersama umatnya masing-masing.
Namun, ada seorang nabi yang memasuki surga sendirian dengan membawa pedang. Nabi itu adalah Sam'un Ghozi a.s.
Keutamaan Lailatul Qadar
Baca Juga: MasyaAllah! Bersihkan Hati Untuk Menyambut Malam Lailatul Qadar di Bulan Ramadhan 1445 H
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang mendirikan malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah Swt., maka ia diampuni dosanya yang telah lampau." (Shahih Bukhari, hadis nomor 35).
Amalan di Malam Lailatul Qadar
Malam ini adalah kesempatan besar bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah. Beberapa amalan yang dianjurkan meliputi:
Baca Juga: Kisah Nabi Muhammad Batal Bocorkan Waktu Pasti Malam Lailatul Qadar
- Mendirikan salat malam (Qiyamul Lail).
- Memperbanyak dzikir dan doa.
- Membaca Al-Quran.
- Memperbanyak istighfar dan taubat.
- Bersedekah kepada yang membutuhkan.
- Memperbanyak salawat kepada Nabi Muhammad saw.
- Berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku). ***




