POJOKSATU.id — Shalat Tarawih merupakan ibadah sunah yang dilakukan selama bulan Ramadan dan biasa dilaksanakan setelah shalat Isya.

Ibadah ini memiliki sejarah panjang yang berawal sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan terus berkembang pada masa pemerintahan para khalifah.

Shalat Tarawih pertama kali dilaksanakan di Masjid Nabawi, Madinah, pada tahun ke-8 Hijriah.

Pada awalnya, Nabi Muhammad SAW mengerjakannya secara individu, tetapi kemudian para sahabat yang tinggal di sekitar masjid mulai mengikuti beliau dalam shalat tersebut.

Ketika Khalifah Umar bin Khattab RA memimpin, shalat Tarawih mulai lebih tertata.

Baca Juga: RAMADHAN DIMULAI, Ini Keutamaan Shalat Tarawih Malam ke 1 Hingga Malam ke 30, SEMANGAAT..

Menurut Imam Al-Marwazi dalam kitab Qiyam Ramadan, istilah "Tarawih" mulai digunakan pada era Khalifah Umar bin Khattab RA.

Di masanya, shalat Tarawih secara berjamaah kembali dihidupkan dan disatukan dalam satu jamaah yang dipimpin seorang imam.

Dalam buku Persona Ibadah Nabi, Ahmad Rofi Usmani menceritakan bahwa pada suatu malam di bulan Ramadan, Umar bin Khattab RA bersama para sahabat pergi ke Masjid Nabawi.

Di sana, mereka melihat sebagian umat Islam melaksanakan shalat sunah dalam kelompok-kelompok kecil, sementara lainnya melakukannya secara individu.

Baca Juga: Masya Allah, Jelang Ramadan, Raja Arab Saudi Kirim 7.911 Paket Sembako dan 100 Ton Kurma untuk Muslim di Indonesia

Menyaksikan hal ini, Umar bin Khattab RA pun berkata kepada Abdurrahman Al-Qari, "Wahai Abdurrahman! Menurutku, lebih baik mereka disuruh berkumpul dan shalat bersama seorang imam."

Atas inisiatif tersebut, Umar bin Khattab RA kemudian menunjuk Ubay bin Ka'b sebagai imam untuk memimpin shalat Tarawih berjamaah.

Beberapa malam kemudian, beliau kembali ke Masjid Nabawi dan mendapati umat Islam telah melaksanakan shalat Tarawih dengan lebih terorganisir.

Baca Juga: Bayar Utang Puasa Qadha Ramadhan Setelah Nisfu Sya'ban, Apakah Boleh?

Mengenai jumlah rakaat shalat Tarawih, Al-Iraqi menyebutkan bahwa pada masa Umar bin Khattab RA, shalat Tarawih dilaksanakan sebanyak 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir.

Namun, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, jumlah rakaat Tarawih pernah dikurangi menjadi 8 rakaat dengan tujuan meringankan umat Islam dalam menjalankannya.

Seiring waktu, shalat Tarawih menjadi bagian penting dalam ibadah Ramadan di berbagai belahan dunia.

Selain menjadi amalan yang dianjurkan, shalat Tarawih juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk membaca dan mendalami Al Quran secara berjamaah, sehingga dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. ***