POJOKSATU.id - Tahukah kamu bahwa menjadi orang tua bukanlah perihal mudah. Bullying orang tua ke anak menjadi hal yang sering kita lihat disekitar, namun sayangnya jarang disadari oleh orang tua.

Bullying orang tua ke anak jarang disadari mungkin salah satu alasannya karena orang tua itu belum belajar mengenai parenting, proses mendidik dan merawat anak-anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara fisik, emosional, sosial, dan intelektual.

Orang tua mungkin tidak tau kalau dirinya sedang membully anak, padahal sebenarnya dia sedang melakukan hal itu.

Namun, bukan berarti bullying orang tua ke anak tidak dapat kita hindari, semua bisa saja kok kita cegah.

Baca Juga: Pelaku Tindak Bullying Mahasiswi di UIN Jambi Minta Maaf, Pihak Kampus Beri Penjelasan

Maka dari itu, untuk kamu yang akan menjadi calon orang tua berikut ini 4 bullying orang tua ke anak yang jarang disadari

1. Memanggil nama dengan kondisi fisik atau sikap anak yang dianggap negatif

Memanggi nama anak dengan panggilan seperti Si Pesek, Si Kebluk, Si Hideung, Si Gendut, Si Bangor dan lainnya sangat tidak boleh dilakukan oleh orang tua, karena itu bisa membuat anak-anak menjadi sedih dan menyakiti perasaannya.

Seharusnya panggil anak-anak dengan julukan-julukan baik seperti Si Sholeh, Si Semangat, Si Pantang Menyerah, Si Berani, Si Rajin, Si Keren, dan banyak panggilan baik lainnya.

Baca Juga: Kementerian PPPA Bergerak Cepat Atasi Kasus Perundungan Siswa Sekolah Dasar yang Kakinya Terpaksa Diamputasi

Memanggil nama dengan merendahkan atau merendahkan sikap anak dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional dan mental mereka.

Penting juga untuk memberikan dukungan positif dan memotivasi anak untuk berkembang.

Memberikan pujian ketika mereka melakukan sesuatu dengan baik dapat meningkatkan rasa percaya diri dan memotivasi mereka untuk terus belajar dan berkembang.

Ingatlah bahwa pengasuhan yang baik melibatkan komunikasi yang positif, penuh kasih sayang, dan mendukung.

Dengan cara ini, anak dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih baik secara emosional dan psikologis.

Baca Juga: Sinopsis Film Budi Pekerti, Angkat Tema Perundungan di Media Sosial

2. Bercanda fisik pada anak
Bercanda fisik pada anak dapat seperti berkomunikasi dengannya dengan sebutan buruk, seperti "Itu perut atau karung? kayak gajah," atau "Kamu kayak tengkorak hidup, kurus banget".

Nah ucapan seperti ini selain dapat menyakiti perasaan anak juga dapat menurunkan sikap percaya diri pada anak dan membuat anak menjadi minder terhadap dirinya sendiri.

Anak juga akan menyalahkan dirinya sendiri karena merasa fisiknya buruk dan jadi tidak bersyukur.

Bahkan, bisa jadi anak akan mengikuti orang tuanya dan memanggil teman-temannya dengan sebutan fisik yang buruk.

Baca Juga: Aksi Perpeloncoan Empat Mahasiswa Baru di Rumpin Ternyata Instruksi dari Senior!

3. Mengancam, meremehkan, dan membanding-bandingkan anak
Ucapan orang tua yang mengancam, meremehkan, dan membanding-bandingkan anak seperti "Kalau ga nurut dicubit ya?" atau "Ya ampun gini doang ga bisa?" atau seperti "Gitu aja nangis sih, adik kamu aja bisa kok kakaknya ga bisa sih," ini harus sangat dihindari oleh orang tua.

Ancaman, penghinaan, dan perbandingan negatif terhadap anak-anak tidak hanya tidak efektif, tetapi juga dapat berdampak buruk pada perkembangan mereka secara emosional dan psikologis

Ancaman dapat menciptakan atmosfer yang tidak aman dan membuat anak merasa takut atau stres. Meremehkan anak dapat merusak harga diri mereka.

Anak yang sering diberi perasaan rendah diri dapat mengalami masalah kepercayaan diri, motivasi rendah, dan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat.

Membanding-bandingkan anak dengan anak lain, saudara kandung, atau bahkan dengan standar yang tidak realistis dapat menciptakan tekanan yang tidak sehat.

Anak mungkin merasa tidak cukup atau gagal jika mereka selalu dibandingkan dengan orang lain.

Baca Juga: Viral Mahasiswa UIN Jambi Bully Mahasiswi, Buka Tutup Pintu Lift

4. Silent treatment
Silent treatment adalah mendiamkan anak dalam waktu lama.

Silent treatment ini tidak merespon anak sama sekali bahkan sampai mengabaikan, mengucilkan, dan menganggap anak tidak ada.

Tanpa disadari banyak orang tua yang melakukan ini pada anak dan tidak sadar bahwa hal ini adalah perbuatan yang buruk.

Padahal, ini juga dapat termasuk dalam bullying, bullying pasif.

Seharusnya orang tua apabila marah ke anaknya bukannya diam tanpa kata, tetapi harusnya tetap berkomunikasi, baik memarahinya (dengan baik tentunya) atau menasihatinya, karena kalau anak didiamkan dia juga tidak tau apa kesalahannya dan malah tidak memperbaiki diri untuk kedepannya.

Menjadi orang tua itu memang berat, tetapi bisa kita usahakan dengan cara belajar dari berbagai sumber karena di masa sekarang ini informasi sangat mudah didapat.

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik tanpa bullying kepada anak.***