POJOKSATU.id - Produksi limbah medis yang semakin meningkat diseluruh dunia pada 9 bulan terakhir ini.
Jumlah limbah medis yang berasal dari rumah sakit maupun rumah tangga semakin meningkat terutama limbah plastik yang dapat merusak ekosistem laut dan sekitarnya.
Seperti di Teluk Jakarta, limbah medis yang dihasilkan dari darat mengalir dan masuk ke dalam teluk jakarta melalui sungai.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan solusi kepada masyarakat agar limbah medis plastik sebaiknya didaur ulang dengan metode kristalisasi.
Baca Juga: Jangan Buang Sembarangan! Inilah Sanksi Membuang Limbah Medis Tanpa Aturan
Indonesia memiliki rencana akan membebaskan wilayah perairan dari limbah medis plastik hingga mencapai 70% pada tahun 2025 dan sudah ditetapkan Pemerintah Indonesia bahwa tahun 2040 mendatang negara Indonesia sudah terbebas dari sampah plastik.
Akan tetapi seiring berjalannya target yang telah ditentukan masalah lain muncul dan berdampak memperlambat perencanaan tersebut.
Masalah tersebut muncul karna adanya pandemi COVID-19 yang sudah berjalan sejak Maret 2020, sehingga limbah medis plastik yang ada di jakarta mengalir melalui sungai Marunda dan Cilincing sehingga mengalami peningkatan limbah medis plastik selama pandemi.
Maka dilakukan penelitian oleh Pusat Penelitian Oseanografi (P2O), menurut hasil penelitian yang dilakukan dengan mengidentifikasi 7 tipe dan 19 kategori sampah yang ditemukan pada sungai tersebut.
Hasil penelitian tersebut telah diterbitkan melalui jurnal yang berjudul "Uprecedented plastic-made personal protective equipment (PPE) debris in river outlets into jakarta bay during COVID-19 pandemic"
Sampah APD merupakan salah satu sampah medis yang memiliki massa lebih ringan yang paling cepat meningkat hingga dapat mencapai 780 item sampah di setiap harinya.
Jika terus dibiarkan begitu saja maka sampah APD akan terus meningkat sehingga berdampak buruk bagi pencemaran lingkungan.
Dengan meningkatnya sampah medis pada COVID-19 juga mendorong LIPI untuk menemukan solusi bagi permasalahan ini.
Salah satu solusi yang sedang dikembangkan adalah melalu metode kristalisasi, karna dengan metode kristalisasi maka produk hasil daur ulang tetap terjamin kualitasnya.
Baca Juga: Waspada! Limbah Medis Dijual Bebas Menjadi Mainan Anak-Anak
Selain itu penggunaan masker medis pada masyarakat umum dalam masa pandemi COVID-19 ini juga semakin meningkat sehingga perlu antisipasi terhadap limbah masker medis.
Adapun sampah medis lainnya seperti limbah infeksius yang bisa menularkan penyakit yang dapat mengganggu pelayanan kesehatan masyarakat, untuk masker dan sarung tangan sekali pakai itu tidak hanya akan mencemari lingkungan saja namun juga dapat mengancam kesehatan pembersih sampah dan pemulung.
Dengan metode kristalisasi juga terdapat kendala karna proses pengumpulan yang tidak mudah dan memungkinkan terjadinya degradasi yang sangat rendah karna tidak adanya shear dan stress seperti pada daur ulang biasa.
Ada beberapa plastik yang susah untuk didaur ulang seperti yang berbahan ringan karna mengandung lebih dari satu bahan polimer.
Baca Juga: Cara Tangani Bahaya Limbah Medis dengan Smart
Sedangkan jenis plastik yang mudah untuk didaur ulang dengan metode kristalisasi itu seperti jenis polyethylene (PE), poly propylene (PP), dan polystyrene (PS).
Keunggulan metode kristalisasi dapat mengubah sampah plastik daur ulang menjadi serbuk detailnya metode kristalisasi ini meliputi pemotongan plastik, pelarutan plastik, dan penyaring untuk menghasilkan plastik murni tanpa degradasi.
Manfaat dari hasil penyaringan tersebut adalah bisa digunakan kembali sebagai plastik untuk medis dan memiliki kualitas yang serupa.
Hasil penelitian tersebut diharapkan bisa menyelesaikan masalah sampah medis akibat pandemi COVID-19.***



