POJOKSATU.id - Di tengah maraknya laptop tipis dan perangkat siap pakai, sebagian anak muda justru memilih jalur berbeda.
Mereka mulai ramai merakit komputer portabel sendiri yang dikenal dengan sebutan Cyberdeck, sebuah tren yang mengedepankan kreativitas, kebebasan, dan personalisasi.
Bagi para penggemarnya, Cyberdeck bukan sekadar perangkat komputasi, melainkan proyek yang mencerminkan identitas pemiliknya.
Baca Juga: Klimatologi, Jurusan yang Mengkaji Perubahan Iklim dan Masa Depan Bumi
Setiap perangkat dirakit sesuai kebutuhan dan selera, sehingga hampir tidak ada dua Cyberdeck yang benar-benar sama.
Kreator TikTok ubeboobey menyebut komputer rakitan menjadi bentuk ekspresi personal sekaligus cara untuk keluar dari dominasi produk teknologi yang diproduksi secara massal.
Menurutnya, Cyberdeck memberikan ruang bagi pengguna untuk membangun perangkat dengan tujuan dan fungsi yang benar-benar mereka inginkan.
Pandangan serupa juga dijelaskan oleh situs Cyberdeck Cafe.
Komunitas tersebut menggambarkan Cyberdeck sebagai sistem yang memberikan kendali penuh kepada pengguna atas setiap komponen di dalam perangkat.
Dalam konsep ini, kemampuan melakukan modifikasi menjadi prioritas utama, bahkan lebih penting dibanding kemudahan penggunaan.
Berbeda dengan laptop konvensional, Cyberdeck dirakit dari berbagai komponen yang bisa berasal dari perangkat berbeda.
Seluruh bagian kemudian disusun menjadi sebuah komputer portabel dengan desain yang unik.
Baca Juga: Daftar 35 Kampus Mitra Tes Bahasa Inggris untuk Daftar Beasiswa LPDP 2026, Ada IPB hingga UGM
Salah satu keunggulan Cyberdeck adalah sistemnya yang terbuka.
Artinya, komponen dapat diganti, dimodifikasi, maupun didesain ulang sesuai kebutuhan tanpa harus bergantung pada konfigurasi bawaan pabrikan.
Fleksibilitas inilah yang membuat tren tersebut menarik perhatian banyak Gen Z.
Mereka bebas bereksperimen dengan bentuk, fungsi, hingga tampilan perangkat tanpa dibatasi desain komersial.
Dalam sebuah artikel di blog Eclypsium disebutkan bahwa laptop tradisional sering kali dianggap terlalu besar untuk kebutuhan tertentu dan kurang fleksibel untuk proyek-proyek khusus.
Kondisi itu mendorong sebagian pengguna memilih membangun perangkat mereka sendiri.
Cara Membuat Cyberdeck
Merakit Cyberdeck bisa dilakukan dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, tergantung desain dan kebutuhan pengguna.
Secara umum, proses pembuatannya meliputi:
Baca Juga: Hoax Bijaksana
Memilih perangkat komputasi utama, seperti Raspberry Pi, mini PC, laptop bekas, atau komputer papan tunggal lainnya.
Menentukan layar, baik menggunakan panel LED maupun layar sentuh HDMI.
Menambahkan keyboard, serta perangkat input lain seperti touchpad atau joystick bila diperlukan.
Memasang baterai agar perangkat dapat digunakan secara portabel.
Menyiapkan casing atau wadah yang menampung seluruh komponen sehingga menjadi satu kesatuan perangkat.
Baca Juga: Cek Hasil Seleksi Administrasi PPPK Sekolah Rakyat 2026, Ada 93 Ribu Lolos, Lebih dari 55 Ribu TMS
Karena bersifat modular, pengguna juga dapat menambahkan berbagai fitur lain sesuai kebutuhan, mulai dari antena, penyimpanan tambahan, sistem pendingin, hingga aksesori elektronik lainnya.
Meski popularitasnya terus meningkat, Cyberdeck diperkirakan masih akan menjadi tren yang berkembang di kalangan komunitas tertentu.
Forbes menilai komunitas pembuat Cyberdeck akan terus bertambah seiring semakin banyak orang membagikan desain dan hasil rakitan mereka melalui media sosial.
Baca Juga: Peringatan Keras! Ombudsman Larang Sekolah Jual Seragam atau Arahkan Pembelian
Namun, adopsinya secara massal dinilai masih terbatas karena tidak semua konsumen tertarik merakit komputer sendiri.
Di balik tampilannya yang unik, Cyberdeck menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu harus dinikmati sebagai produk jadi.
Bagi sebagian orang, proses merancang, merakit, dan menyempurnakan perangkat justru menjadi pengalaman yang paling berharga, sekaligus membuktikan bahwa kreativitas masih memiliki tempat besar di dunia teknologi modern.***

