POJOKSATU.id — Perkembangan teknologi digital, khususnya media sosial, telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi.
Fenomena video pendek yang hadir melalui platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts semakin populer dengan durasi singkat 15-60 detik.
Meski menghadirkan hiburan, tren ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap daya ingat dan literasi di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.
Retensi Informasi
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi berlebihan video pendek dapat mengganggu daya ingat jangka panjang dan proses pemrosesan informasi secara mendalam.
Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows (2010) mengungkapkan bahwa ketergantungan terhadap internet berkontribusi pada penurunan kemampuan berpikir kritis.
Baca Juga: Kasus Aipda Robig Ngedor Pelajar Gemparkan Medsos, Video Angkuhnya Jadi Sorotan!
Hal ini diperburuk oleh rendahnya minat membaca, terutama di kalangan pengguna muda yang lebih menyukai konten visual singkat daripada teks yang lebih kompleks.
Dampak terhadap Daya Ingat
Video pendek dirancang untuk memberikan stimulasi instan yang berpotensi menimbulkan ketergantungan.
Paparan berlebihan terhadap konten cepat dan terfragmentasi ini dapat mengganggu proses konsolidasi memori, yaitu mekanisme transfer informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Akibatnya, otak tidak memiliki cukup waktu untuk mengolah informasi secara mendalam sebelum beralih ke konten berikutnya.
Selain itu, kebiasaan mengandalkan informasi instan juga berisiko menurunkan kapasitas working memory.
Hal ini menyebabkan kesulitan dalam mengingat detail atau memahami konsep yang lebih kompleks, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap proses pembelajaran dan produktivitas.
Sebuah penelitian menemukan bahwa hanya sedikit orang yang mampu mengingat informasi yang sama setelah tujuh hari, membuktikan bahwa video pendek kurang efektif dalam membangun retensi informasi jangka panjang.
Baca Juga: 12 Film Berbagai Genre, TAYANG Bulan Maret 2025, Adegan Seram Mencekam Menghantui Bioskop Indonesia,
Menurut teori Atkinson & Shiffrin (1968), memori terbagi menjadi tiga bagian utama: sensory register, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang.
Konsumsi informasi yang terlalu cepat dan berlebihan dapat menghambat retensi informasi.
Tantangan terbesar dari video pendek adalah bagaimana informasi dapat bertahan dalam memori jangka panjang mengingat alur penyampaiannya yang sangat cepat dan terbatas durasinya.
Dampak terhadap Literasi
Rendahnya minat literasi di kalangan pengguna media sosial memperburuk dampak negatif video pendek terhadap daya ingat.
Data UNESCO (2024) mencatat bahwa minat membaca di Indonesia hanya sebesar 0,001%, yang berarti hanya 1 dari 1.000 orang yang memiliki kebiasaan membaca.
Kebiasaan mengonsumsi informasi instan berkontribusi pada berkurangnya kemampuan berpikir kritis dan pemahaman terhadap konsep yang lebih kompleks.
Hal ini dapat menghambat perkembangan pemikiran analitis serta reflektif dalam kehidupan sehari-hari.
Ketergantungan pada konten visual juga mengurangi keterampilan dalam memahami teks, yang berdampak pada kemampuan mengakses informasi berkualitas.
Namun, jika dimanfaatkan secara bijak, video pendek juga memiliki manfaat, seperti meningkatkan kesadaran sosial atau membantu pembelajaran keterampilan praktis.
Tantangan utama adalah memastikan bahwa konsumsi video pendek tidak menggeser kebiasaan membaca dan menulis yang lebih mendalam.
Konsumsi Digital dan Literasi
Video pendek memang memiliki dampak besar terhadap daya ingat jangka pendek, tetapi kurang efektif dalam membangun retensi informasi jangka panjang.
Oleh karena itu, literasi media perlu ditingkatkan agar masyarakat dapat mengonsumsi informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan formal, kampanye publik, atau pelatihan yang mengajarkan keterampilan evaluasi sumber informasi serta manajemen waktu penggunaan digital.
Platform media sosial juga dapat berperan dalam mengurangi dampak negatif video pendek dengan menyediakan fitur yang mendorong konsumsi konten berkualitas.
Misalnya, dengan merekomendasikan video edukatif yang dapat merangsang pemikiran kritis dan pemahaman yang lebih mendalam.
Dengan menyeimbangkan konsumsi hiburan dan literasi, diharapkan kualitas daya ingat dan pemahaman informasi di era digital dapat semakin meningkat. *** Annisa Khoirunnur


