POJOKSATU.id – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menyoroti potensi perpindahan atlet ke daerah lain sebagai tantangan serius pasca capaian peringkat 4 nasional di PON 2024.

Kesuksesan Sumut menembus peringkat empat nasional pada PON 2024 ternyata menyimpan tantangan baru.

Alih-alih hanya fokus pada prestasi, Gubernur Sumut Bobby Nasution kini mengingatkan ancaman yang kerap terjadi di dunia olahraga, yakni perpindahan atlet ke provinsi lain.

Baca Juga: TKA SMP di Kota Medan Tak Wajib, Disdikbud: Hanya Ukur Kemampuan Siswa

Hal itu disampaikannya saat menerima audiensi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumut di Kantor Gubernur, Selasa (7/4/2026).

Menurut Bobby Nasution, atlet berprestasi yang telah dibina daerah kerap menjadi incaran provinsi lain. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa merugikan Sumut dalam jangka panjang.

“Bagaimana atlet kita tidak tertarik untuk pindah ke daerah lain, itu harus dijaga,” ujarnya.

Baca Juga: Trump Klaim Warga Iran Minta Negaranya Terus Dibom Amerika Demi Kebebasan dan Perubahan

Capaian Sumut dalam beberapa ajang PON menunjukkan tren yang cukup signifikan.

Adapun capaiannya adalah:
- Peringkat 8 pada PON Riau 2012
- Peringkat 9 pada PON Jawa Barat 2016
- Peringkat 12 pada PON Papua 2021
- Hingga melonjak ke peringkat 4 pada PON Aceh–Sumut 2024

Namun, menurut Bobby Nasution, prestasi tinggi justru membuat atlet semakin dilirik daerah lain.

Baca Juga: Jusuf Kalla Ungkap Dua Keunggulan Bangsa Iran Sehingga Sulit Dikalahkan Amerika dan Israel

Artinya, tantangan ke depan bukan hanya meningkatkan prestasi, tetapi juga mempertahankan atlet yang sudah dibina.

Untuk mencegah fenomena tersebut, Bobby Nasution mendorong adanya strategi khusus agar atlet tetap loyal membela Sumut.

Beberapa ide yang disampaikan antara lain:
- Menjadikan atlet sebagai brand ambassador produk nasional
- Memberikan fasilitas atau keistimewaan tertentu
- Menciptakan rasa nyaman dan kebanggaan bagi atlet

Baca Juga: Mendikdasmen Pastikan TKA SMP 2026 Berjalan Lancar, Sistem Anti Kecurangan Sudah Disiapkan

Langkah ini dinilai penting agar atlet tidak hanya bertahan karena kontrak, tetapi juga karena faktor emosional dan kesejahteraan.

Menariknya, Bobby Nasution juga menggeser cara pandang terhadap olahraga.

Ia menilai sektor olahraga tidak hanya soal prestasi, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi daerah.

“Olahraga bisa menjadi industri yang berdampak pada ekonomi, seperti di negara lain,” jelasnya.

Baca Juga: Pemko Medan Kebut Penataan Kabel Tanam, Rico Waas Ingatkan Risiko Bongkar Trotoar Berulang

Dengan pendekatan ini, pembinaan atlet tidak lagi sekadar agenda olahraga, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan ekonomi.

315 Atlet Disiapkan Menuju PON 2028
Sementara itu, KONI Sumut mulai menyusun langkah konkret menghadapi PON 2028 melalui Program Pembinaan Intensif (PPI) 2026.

Program ini akan melibatkan, 315 atlet dari berbagai cabang olahraga, 84 pelatih, dan 52 tim pengawas dan pendamping

Baca Juga: Mahasiswa FTP USM Tembus 6 Besar Nasional, Inovasi Limbah Kedelai Jadi Sorotan di AFC 2026

Program tersebut dijadwalkan berlangsung dalam beberapa tahap sepanjang 2026, mencakup latihan intensif, try out, hingga training camp.

Ketua Umum KONI Sumut Hatunggal Siregar menyebut program ini sebagai bagian dari upaya menjaga konsistensi prestasi sekaligus menyiapkan regenerasi atlet. ***