POJOKSATU.id, DELI SERDANG - Ratusan pengungsi Rohingya di Desa Karang Gading, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera utara, mulai mendapat penolakan warga.

Seperti disampaikan Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Desa Karang Gading, Ponimin mengatakan jika masyarakat berharap para pengungsi dipindahkan lebih cepat.

"Kebetulan lokasi (pengungsi Rohingya) berbatasan dengan daerah Langkat ada Desa Kwala Besar," tutur Ponimin, Selasa (9/1/2023).

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Regional JBB dan PT Indo Raya Tenaga Tandatangani Kontrak Suplai BBM Non Subsidi

""Masyarakat sudah menyampaikan kalau bisa jangan terlalu lama, karena (mereka dengar) dari pemberitaan di media massa, pengungsi Rohingya ini banyak menimbulkan keresahan, ya kami tetap mengupayakan menyampaikan (aspirasi mereka)." tambahnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang memberi waktu hingga 14 Januatri 2024. Namun, masyarakat meminta agar Pemkab dan pihak terkait dapat memindahkan pengungsi Rohingya secepatnya.

Ponimin juga menambahkan, aspirasi masyarakat disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, dan juga lembaga yang menangani pengungsi tersebut, yakni UNHCR dan IOM.

Baca Juga: Status Masa Tanggap Darurat Gempa Sumedang Resmi Dicabut

Meski meminta relokasi, menurut Ponimin, masyarakat juga berempati kepada para pengungsi, ditandai dengan pemberian bantuan makanan setiap hari.

Di sisi lain, kata Ponimin, kondisi para pengungsi juga memprihatinkan, selain kekurangan air bersih, di sana juga tidak ada fasilitas MCK (mandi cuci dan kakus).

"Kami kira dengan jumlah 157 orang pengungsi ini, untuk buang kotoran tidak sedikit, kalau tidak ada kemungkinan (direlokasi) sampai tanggal 14, atau berlanjut, kesehatan para pengungsi tidak bisa pastikan," kata dia.

Baca Juga: Banjir Bandang Cimahi Terjang 51 Rumah, 8 Rumah Rusak Berat

Ponimin juga mengatakan, pihak desa juga tidak bisa berlama-lama, terus mengawasi para pengungsi Rohingya. Sebab, mereka juga mempunyai tugas untuk melayani masyarakat.

"Kami dari pihak desa stand by dari pagi berangkat (naik kapal ke tempat pengungsian) besok pagi baru pulang."

"Kalau memang ini terus berjalan, pelayanan ke masyarakat juga pasti kurang, tenaga perangkat desa konsentrasi ke mari jadi otomatis," tutup Ponimin. ***