POJOKSATU.ID, SUMUT - Mantan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) periode 2018-2023, Edy Rahmayadi kembali ikut dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2024.
Kali ini, Edy Rahmayadi berpasangan dengan Hasan Basri Sagala yang merupakan anggota dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser).
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut mengumumkan dua pasangan calon (Paslon) pada Pilkada Sumut 2024, yaitu Bobby Nasution-Surya dan Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala.
Baca Juga: Kisruh PPPK Madina 2023, Advokat Andi Candra : Masih Ada Aktor Intelektual Bersembunyi
Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala diusung oleh PDIP, Hanura, Partai Ummat, Gelora, Buruh dan PKN.
Berikut profil Edy Rahmayadi
Edy Rahmayadi bergelar Datuk Laksamana Nara Diraja yang merupakan seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat dengan jabatan terakhir Letnan Jenderal.
Letnan Jendral TNI (Purn) H. Edy Rahmayadi lahir pada 10 Maret 1961, di Kota Sabang, Aceh. Ayahnya bernama Kapten Kal. (purn) Rachman Ishaq juga seorang Prajurit TNI Angkatan Udara keturunan Melayu Deli, sementara ibunya seorang keturunan Jawa.
Ia bersekolah SD di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1966-1972. Kemudian kembali ke Medan dan melanjutkan sekolah di SMP Angkasa pada 1972-1975.
Edy Rahmayadi merupakan alumni SMA Negeri 1 Medan pada tahun 1975-1979. Dan melanjutkan kuliah di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU).
Edy mengawali kariernya sebagai tentara dengan sekolah terlebih dahulu di Akademi Militer (Akmil) dan lulus pada 1985. Posisi pertama yang diembannya sebagai komandan bataliyon di Jajaran Kopasus TNI Angkatan Darat.
Sederet jabatan di dunia militer pun datang silih berganti pada dirinya. Sejak itu, ia banyak aktif di satuan Kostrad.
Pria kelahiran Sabang, ini pernah menjabat sebagai Dankipan B Yonif 323 Kostrad dan Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 100 Bukit Barisan.
Sebelum kenaikan pangkat dan jabatan pada satuan elit ini, Edy juga bertugas di beberapa daerah di Papua. Setelah itu, ia ditarik kembali ke Kostrad dengan menjadi Panglima Divisi Infanteri Kostrad pada tahun 2014. Kariernya pun terus naik.
Tak lama kemudian, pada 2015, ia mendapat tugas sebagai Panglima Kodam I/Bukit Barisan. Pada tahun yang sama, ia juga diminta kembali ke satuan Kostrad, namun kali ini ditunjuk sebagai orang nomor satu sebagai Panglima Kostrad.
Baca Juga: Tiger Association Bandung Rayakan 30 Tahun dengan Semangat dan Persaudaraan
Di tengah jabatan-jabatan strategisnya, Edy saat menjadi Pangdam Bukit Barisan terpanggil hatinya untuk membangkitkan kembali persepakbolaan tanah air yang saat itu sedang mengalami kevakuman karena konflik Menpora dengan PSSI yang menyebabkan pembekuan kegiatan sepakbola.
Pada saat itulah, Edy terjun langsung dalam usaha untuk membangkitkan PSMS hingga klub tersebut menjuarai Piala Kemerdekaan 2015.
Perjuangan Edy untuk memajukan PSMS Medan belum berhenti. Ia juga mengusahakan agar klub itu dapat mengikuti Piala Jenderal Sudirman meski awalnya sempat mendapat penolakan.
Baca Juga: Berkarir Puluhan Tahun, Begini Kilas Balik Awal Karir Meriam Bellina
Di dunia sepakbola, sosok Edy memang tidak terlalu menonjol. Perlahan nama Edy Rahmayadi pun mencuat ke permukaan persepakbolaan Indonesia setelah kelompok K-85 yang merupakan kumpulan dari 85 klub pemilik suara dalam kongres PSSI yang menginginkan rezim La Nyalla segera berakhir. Kelompok ini pulalah yang mencalonkan Eddy sebagai Ketua Umum PSSI.
Pada pemilihan Ketua Umum PSSI yang dilaksanakan di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, pada 10 November 2016, Edy Rahmayadi terpilih sebagai Ketua Umum dengan total suara 76, Moeldoko 23 suara, dan Eddy Rumpoko 1 suara, dan 7 suara tidak sah.
Setelah didaulat sebagai Ketua Umum PSSI, pekerjaan berat sudah menantinya. Eddy pun segera menyiapkan Timnas Indonesia untuk menghadapi Piala AFF 2016, SEA Games 2017, dan Asian Games 2018.
Harta Kekayaan
Edy Rahmayadi menuntaskan jabatannya sebagai Gubernur Sumatera Utara pada 5 September 2023 lalu. Ternyata selama 5 tahun menjabat, harta kekayaan Edy turun sebesar Rp 7,4 miliar.
Hal itu diketahui dari laporan harta kekayaan Gubsu Edy yang tercatat di laman resmi LHKP KPK. Berdasarkan laman LHKPN tersebut, di tahun pertama menjabat sebagai Gubsu, Edy memiliki harta kekayaan Rp 23,6 miliar.
Tahun 2018, Edy memiliki harta tanah dan bangunan senilai Rp 15,9 miliar. Kemudian kendaraan senilai Rp 360 juta, harta bergerak lainnya senilai Rp 193 juta, kas dan setara kas sebesar Rp 7,1 miliar.
Baca Juga: Menjelang Pengambilan Nomor Urut Pilgub Jabar, Ahmad Syaikhu Kunjungi Kampung Halaman di Cirebon
Memasuki tahun kedua atau 2019, harta Edy turun menjadi Rp 16,7 miliar. Dalam laporan tersebut, Edy tidak memiliki kendaraan bermotor dan kasnya turun menjadi Rp 645 juta.
Pada 2020, harta Edy kembali turun menjadi Rp 15,3 miliar. Kali ini terdapat 4 bidang tanah dan bangunan milik Edy yang hilang, sehingga menurunkan harta Edy senilai Rp 3,8 miliar.
Namun dari segi kas dan setara kas, Edy mengalami peningkatan menjadi Rp 3 miliar. Sedangkan Edy masih tetap tidak memiliki kendaraan bermotor.
Baca Juga: PENOLAKAN PERMANEN Seleksi Administrasi PPG Guru Tertentu, Cek Penyebab dan Solusinya
Pada 2021, harta kekayaan Edy meningkat Rp 1 miliar sehingga menjadi Rp 16,3 miliar. Kenaikan tersebut diketahui dari nilai 11 bidang tanah dan bangunan yang dimiliki Edy.
Pada laporan terakhir yang disampaikan pada 2 Februari 2023 untuk periodik 2022, harta kekayaan Petahana itu sebesar Rp 16,2 miliar. Harta Edy diketahui turun Rp 100 juta dari item harta bergerak lainnya.
Sehingga secara akumulatif, selama menjabat sebagai Gubsu, harta kekayaan Edy turun. Penurunan tersebut diketahui sekitar Rp 7,4 miliar. ***

