POJOKSATU.id, JAKARTA—Penampilan Gibran Rakabuming Raka di debat perdana cawapres dianggap sama dengan kejadian Jokowi ketika menghadapi debat capres di Pilpres 2014 lalu.
Kondisi Gibran Rakabuming Raka yang dianggap underdog di debat cawapres Jumat malam (22/12) di JCC Senayan, Jakarta, dianggap sama dan terjadi saat Pilpres 2014 yang dimenangkan ayah Gibran, Jokowi.
Penampilan Gibran Rakabuming Raka dalam debat Cawapres 2024 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat malam menunjukkan bahwa dia buka anak ingusan dibanding cawapres lainnya.
Penampilan ini juga dianggap kepiawaian Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran dalam merancang strategi.
Baca Juga: Usai Cak Imin Babak Belur di Debat Cawapres Perdana, Timnas Amin Protes ke KPU RI Soal Gibran
Pandangan pengamat politik kebijakan publik Universitas Indonesia (UI), Vishnu Juwono, TKN selama ini mengambil strategi berisiko dengan menurunkan ekspektasi publik terhadap kemampuan Gibran.
Pada debat semalam, strategi tersebut cukup efektif. Gibran yang sebelumnya dipandang sebagai anak ingusan berubah menjadi sosok yang disukai publik berkat gagasan dan kemampuan menangani isu debat.
"Ada kemiripan strategi dengan Presiden Jokowi di 2014, yakni menciptakan ekspektasi rendah untuk mendapatkan kejutan positif. Strategi TKN ini berhasil," kata Vishnu dalam keterangan yang diterima Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (23/12).
Dengan membranding sebagai underdog, Gibran bisa leluasa tampil dengan bahasa sederhana. Kondisi ini sama dan terjadi saat Pilpres 2014 yang dimenangkan ayah Gibran, yakni Jokowi.
Baca Juga: Penilaian Debat Cawapres : Penampilan Cak Imin Paling Hancur, Gibran Mengejutkan, Mahfud Biasa-biasa
"Posisi underdog memungkinkan Gibran tampil mengikuti jejak ayahnya dengan bahasa sederhana, menyampaikan pesan kunci berulang. Misalnya tentang program ekonomi untuk mewujudkan generasi emas di 2045," jelasnya.
Posisi ini berbeda dengan cawapres lain seperti Muhaimin Iskandar. Menurut Vishnu, Cak Imin, sapaan Muhaimin terlihat kesulitan memanfaatkan waktu terbatas.
Penggunaan istilah selepet economics juga dianggap tidak pas dengan topik pembahasan debat.
"Istilah selepet economics tidak pas untuk topik serius yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sementara Mahfud MD unggul dalam aspek substansi, terutama saat menyampaikan program ekonomi di pernyataan penutup, walaupun buru-buru," tandasnya.
Gibran Gunakan Istilah Asing
Sebelumnya, SGIE atau State of the Global Islamic Economy sempat dibahas dalam debat cawapres pertama.
Baca Juga: Dalam Acara The Game Awards 2023, Diumumkan Marvel's Blade Rilis Tahun 2024
Hal ini ditanyakan oleh cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka kepada cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Mulanya Gibran menyampaikan bahwa Cak Imin akan sangat mengerti mengenai permasalahan yang akan ditanyakan kepada dirinya. Dia bertanya kepada Cak Imin soal upaya menaikkan peringkat Indonesia di SGIE.
"Bagaimana langkah Gus Muhaimin untuk menaikkan peringkat Indonesia di SGIE?" tanya Gibran dalam arena Debat Cawapres di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Jumat (22/12/2023).
Cak Imin sempat mengaku tidak tahu, "Terus terang SGIE saya nggak paham, SGIE itu apa?".
Lalu moderator malah tak membolehkan Cak Imin mengajukan itu karena dianggap sebagai pertanyaan. Lalu waktu Cak Imin habis begitu saja tanpa ada menjawab.
Lalu Gibran kembali diberikan kesempatan oleh moderator untuk menjelaskan pertanyaannya itu yang pada sisi lain juga dianggap sebagai tanggapan pada Cak Imin oleh moderator.
Setelah Gibran menjelaskan soal SGIE, Cak Imin pun menjelaskan, ada beberapa hal yang menjadi solusi menaikkan SGIE di Indonesia.
Namun penjelasan Cak Imin atau Muhaimin Iskandar ini terasa tidak tuntas dan kurang detail dan waktu pun habis untuk dua detik.***



