POJOKSATU.id - Dari kejauhan, pemandangan di Pelabuhan Nagoya, Jepang, tampak seperti aktivitas kapal pesiar biasa.
Sebuah kapal raksasa sepanjang sekitar 290 meter bersandar di Kinjo Pier.
Namun kali ini, penumpangnya bukan wisatawan yang sedang menikmati liburan di laut.
Di dalam kapal Costa Serena itu tinggal ribuan atlet dan ofisial dari berbagai negara yang datang untuk bertanding di Asian Games Aichi Nagoya 2026.
Baca Juga: Bukan Hanya Zaki, Sosok Ini Punya Peran Besar di Balik Medali Emas Pertama Indonesia
Kapal berbendera Italia dengan bobot sekitar 114.000 ton tersebut disulap menjadi salah satu pusat akomodasi resmi Asian Games.
Sekitar 4.000 atlet dan ofisial dapat ditampung di dalamnya, dengan sekitar 1.500 kabin.
Kapal itu berada di Nagoya selama periode penyelenggaraan Asian Games, dari pertengahan September hingga 6 Oktober 2026.
Yang membuat cerita Costa Serena menarik bukan hanya ukurannya.
Pertanyaan yang lebih besar justru muncul di balik keputusan tersebut:
Mengapa Jepang memilih menyewa kapal pesiar daripada membangun kampung atlet seperti yang lazim dilakukan pada pesta olahraga besar?
Baca Juga: Indonesia Hentikan Mimpi China Cetak Hattrick Emas Beregu Putra Asian Games
Jawabannya berkaitan dengan satu persoalan yang sering muncul setelah sebuah event olahraga raksasa berakhir.
Apa yang harus dilakukan terhadap bangunan yang dibangun khusus untuk pertandingan yang hanya berlangsung beberapa pekan?
Bukan Sekadar Soal Tempat Tidur
Asian Games bukan acara kecil.
Pada Aichi-Nagoya 2026, lebih dari 11.000 atlet dari 45 negara dan wilayah ikut ambil bagian.
Jika digabung dengan ofisial dan pihak terkait, jumlah orang yang membutuhkan akomodasi mencapai sekitar 17.000 orang.
Dalam penyelenggaraan event olahraga besar, salah satu solusi yang paling mudah dibayangkan adalah membangun Athletes' Village atau kampung atlet.
Baca Juga: Dari Bangkok 1998 ke Aichi-Nagoya 2026, Indonesia Kembali Kalahkan China di Final Asian Games
Konsepnya sederhana.
Bangun kompleks hunian besar.
Tempatkan atlet di sana.
Sediakan restoran, fasilitas kesehatan, area rekreasi, pusat transportasi, dan berbagai fasilitas pendukung.
Setelah pertandingan selesai, bangunan tersebut bisa dialihfungsikan menjadi apartemen atau kawasan hunian.
Baca Juga: Dari Tertinggal 0-4 hingga Mengunci Emas, Drama Zaki Ubaidillah di Partai Penentuan
Namun persoalannya tidak sesederhana itu.
Membangun kompleks khusus untuk event olahraga membutuhkan biaya besar, sementara kebutuhan tersebut bersifat sangat temporer.
Asian Games Aichi-Nagoya hanya berlangsung selama beberapa pekan.
Karena itu, penyelenggara memilih model yang berbeda.
Alih-alih membangun satu kampung atlet permanen, akomodasi peserta disebar ke berbagai lokasi.
Hotel digunakan untuk sebagian besar peserta.
Hunian modular digunakan untuk sebagian lainnya.
Sementara Costa Serena menjadi semacam kampung atlet terapung bagi ribuan peserta.
Reuters melaporkan bahwa keputusan tidak membangun Athletes' Village berkaitan dengan upaya mengendalikan biaya.
Langkah ini sekaligus menghindari risiko fasilitas tersebut menjadi white elephant, istilah untuk proyek besar yang setelah selesai tidak lagi memiliki pemanfaatan yang sepadan.
Costa Serena Menjadi Potongan Puzzle
Di sinilah kapal pesiar memainkan peran penting.
Costa Serena bukan kapal kecil.
Panjangnya sekitar 290,2 meter, memiliki 1.500 kabin dan kapasitas penumpang sekitar 3.780 orang dalam konfigurasi normal.
Untuk Asian Games, kapal tersebut digunakan sebagai akomodasi hingga sekitar 4.000 atlet dan ofisial pada satu waktu.
Kapal juga sudah memiliki fasilitas yang biasanya harus dibangun atau disediakan ketika membuat kompleks akomodasi baru.
Ada restoran.
Ada pusat kebugaran.
Ada ruang hiburan.
Ada fasilitas pendukung lainnya.
Artinya, penyelenggara tidak perlu membangun seluruh fasilitas tersebut dari nol hanya untuk digunakan selama Asian Games.
Kapal cukup didatangkan, ditambatkan di pelabuhan, dioperasikan sebagai tempat tinggal sementara, lalu meninggalkan Nagoya setelah masa penggunaannya berakhir.
Inilah yang membuat konsep tersebut berbeda dengan pembangunan kampung atlet permanen.
Bangunan mengikuti event.
Bukan event yang harus meninggalkan bangunan baru.
Jepang Membagi Akomodasi Menjadi Beberapa Bagian
Costa Serena sebenarnya bukan solusi untuk seluruh peserta Asian Games.
Ini penting karena angka 17.000 orang sering disalahartikan seolah-olah seluruhnya tinggal di kapal.
Faktanya, sekitar 4.000 atlet dan ofisial ditempatkan di Costa Serena.
Sebagian besar peserta lainnya menggunakan hotel dan akomodasi alternatif.
Laporan Seoul Economic Daily menyebut sekitar 9.000 orang ditempatkan di hotel, sekitar 4.000 di kapal pesiar, dan sekitar 2.000 lainnya di unit prefabrikasi atau hunian bergaya kontainer.
Jadi, Costa Serena bukan pengganti total Athletes' Village.
Ia adalah salah satu komponen dari sistem akomodasi terdesentralisasi.
Model tersebut membuat penyelenggara tidak harus mencari satu kawasan kosong yang cukup besar untuk dibangun menjadi sebuah desa atlet.
Peserta justru tersebar di sejumlah titik.
Bagi kota besar seperti Nagoya dan kawasan Aichi, pendekatan tersebut memberikan fleksibilitas tambahan karena infrastruktur penginapan yang sudah tersedia tetap dapat digunakan.
Ada Satu Persoalan Besar Setelah Asian Games
Di sinilah alasan paling penting dari keputusan tersebut.
Bayangkan sebuah kompleks apartemen dibangun khusus untuk menampung belasan ribu peserta.
Bangunan selesai.
Asian Games berakhir.
Atlet pulang ke negara masing-masing.
Pertanyaannya kemudian berubah:
Siapa yang akan menggunakan bangunan itu?
Memang, kampung atlet bisa dialihfungsikan.
Tetapi proses tersebut membutuhkan perencanaan sejak awal, biaya konversi, dan pasar yang mampu menyerap bangunan setelah event.
OCA secara terbuka menyebut kekhawatiran terhadap kemungkinan Athletes' Village menjadi white elephant sebagai salah satu alasan pendekatan alternatif dipilih pada Aichi-Nagoya.
Dengan menyewa kapal, persoalan tersebut menjadi berbeda.
Tidak ada kompleks apartemen baru yang harus dipikirkan nasibnya setelah Asian Games selesai.
Tidak ada kawasan hunian baru yang harus mencari penghuni.
Tidak ada bangunan sementara yang harus diubah menjadi fungsi lain.
Setelah kontrak berakhir, kapal kembali ke aktivitas komersialnya.
Bukan Berarti Model Ini Tanpa Masalah
Namun, cerita Costa Serena juga tidak bisa hanya dipoles sebagai solusi sempurna.
Dalam praktiknya, penyelenggaraan akomodasi Asian Games 2026 menghadapi sejumlah keluhan.
Ada atlet yang mengeluhkan kondisi tempat tinggal, termasuk ruang yang sempit dan ukuran tempat tidur.
Beberapa delegasi juga menghadapi persoalan logistik.
Korea Selatan, misalnya, menyampaikan kritik terhadap berbagai masalah akomodasi dan transportasi.
Reuters melaporkan adanya masalah pemesanan di kapal pesiar serta persoalan lain yang membuat sejumlah tim harus melakukan penyesuaian.
Karena itu, keputusan tidak membangun Athletes' Village permanen tidak otomatis berarti semua persoalan selesai.
Risiko pembangunan memang dapat dikurangi.
Tetapi sebagai gantinya muncul risiko lain:
Bagaimana memastikan ribuan orang dapat tinggal dengan nyaman ketika akomodasi mereka tersebar di hotel, hunian modular, dan kapal?
Inilah tantangan terbesar dari model baru tersebut.
Kapal Pesiar yang Harus Berpikir Seperti Kampung Atlet
Menariknya, Costa Serena juga tidak sekadar berfungsi sebagai hotel biasa.
Kapal tersebut dipersiapkan untuk kebutuhan atlet.
Costa Cruises menyebut kapal bekerja sama dengan JTB Nagoya dan panitia AINAGOC untuk menyesuaikan operasional selama Asian Games.
Pertanyaan yang menjadi dasar pengaturannya cukup sederhana:
Apa yang dibutuhkan atlet di antara dua pertandingan?
Artinya, pola kehidupan di atas kapal harus mengikuti ritme kompetisi.
Makanan, waktu makan, fasilitas kebugaran, dan kebutuhan para atlet menjadi bagian dari pengoperasian kapal selama event berlangsung.
Dengan demikian, Costa Serena bukan sekadar kapal pesiar yang kebetulan digunakan untuk tidur.
Kapal itu harus berfungsi seperti sebuah kampung atlet.
Bedanya, kampung tersebut memiliki mesin dan baling-baling.
Ada Keuntungan Lain yang Sulit Didapat dari Bangunan Permanen
Salah satu karakteristik kapal adalah mobilitas.
Costa Serena memang direncanakan bersandar di Nagoya selama Asian Games.
Namun jika kondisi cuaca ekstrem seperti topan mengancam, kapal dapat dipindahkan ke perairan terbuka sesuai prosedur keselamatan.
Laporan mengenai skema tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas kapal juga diperhitungkan dalam rencana akomodasi.
Hal seperti ini tentu berbeda dengan bangunan permanen.
Sebuah apartemen tidak bisa dipindahkan ketika cuaca ekstrem datang.
Kapal bisa.
Tetapi mobilitas tersebut juga membawa tantangan tersendiri, terutama menyangkut keselamatan, operasional pelabuhan, transportasi atlet, dan koordinasi dengan jadwal pertandingan.
Jadi, fleksibilitas bukan berarti bebas masalah.
Eksperimen untuk Event Olahraga Masa Depan
OCA menyebut Costa Serena sebagai salah satu model akomodasi alternatif dan menyebut pendekatan tersebut berpotensi menjadi model baru untuk event olahraga besar.
Ini mungkin menjadi bagian paling menarik dari eksperimen Aichi-Nagoya.
Selama bertahun-tahun, penyelenggara event olahraga besar terbiasa berpikir:
“Di mana kita harus membangun kampung atlet?”
Jepang mencoba membalik pertanyaan tersebut menjadi:
“Akomodasi apa yang sudah tersedia dan bisa kita gunakan?”
Hotel yang sudah berdiri digunakan. Kapal yang sudah beroperasi disewa.
Hunian modular digunakan untuk menambah kapasitas.
Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan akomodasi tidak harus selalu berarti pembangunan kompleks baru.
Model seperti ini juga tidak sepenuhnya baru dalam dunia olahraga.
Presiden IOC Kirsty Coventry bahkan menyebut hunian modular bukan konsep yang benar-benar baru dan pernah digunakan dalam penyelenggaraan event olahraga sebelumnya.
Ia juga memberikan penilaian positif terhadap fasilitas yang tersedia setelah melihat kondisi akomodasi Asian Games 2026.
Jadi, Mengapa Jepang Memilih Kapal Pesiar?
Jawabannya bukan semata-mata karena kapal pesiar terlihat unik.
Ada logika ekonomi dan operasional di baliknya.
Jepang menghadapi kebutuhan akomodasi dalam jumlah besar.
Tetapi tidak ingin membangun Athletes' Village permanen yang berisiko kurang termanfaatkan setelah Asian Games.
Maka lahirlah pendekatan berbeda: tidak membangun semuanya dari nol.
Sebaliknya, penyelenggara memanfaatkan apa yang sudah ada.
Hotel menjadi tempat tinggal. Hunian modular menjadi tambahan kapasitas.
Costa Serena menjadi kampung atlet terapung.
Dengan biaya sewa sekitar 4,48 miliar yen (Rp510 miliar), kapal tersebut menyediakan sekitar 1.500 kabin.
Kapal itu menjadi tempat tinggal bagi sekitar 4.000 atlet dan ofisial selama periode Asian Games.
Tetapi angka tersebut tidak boleh dibaca sebagai bukti bahwa kapal pasti lebih murah daripada membangun sebuah kampung atlet.
Data yang tersedia lebih kuat untuk mendukung kesimpulan bahwa penyelenggara memilih model ini untuk mengurangi kebutuhan pembangunan permanen.
Termasuk risiko pemanfaatan pasca-event, bukan bahwa biaya totalnya pasti paling rendah dalam segala aspek.
Dan justru di situlah eksperimen Aichi-Nagoya menjadi menarik.
Asian Games 2026 bukan hanya mempertontonkan pertandingan olahraga.
Di Nagoya, Jepang juga sedang menguji sebuah pertanyaan penting untuk masa depan pesta olahraga besar:
Apakah sebuah event olahraga harus selalu meninggalkan bangunan raksasa setelah lampu pertandingan dipadamkan?
Costa Serena memberikan salah satu jawabannya.
Bukan membangun desa baru untuk atlet.
Melainkan membawa sebuah desa sementara ke pelabuhan.
Ketika Asian Games selesai, kapal itu dapat pergi.
Dan tidak ada kampung atlet baru yang harus mencari alasan untuk tetap berdiri.***

