POJOKSATU.id - Empat poin pertama milik lawan. Zaki Ubaidillah justru memulai partai penentuan dengan situasi yang membuat tekanan semakin besar.

Di hadapannya berdiri tunggal putra China, Weng Hongyang, sementara harapan Indonesia bertumpu pada raketnya.

Ini bukan sekadar pertandingan biasa. Hasil duel tersebut menentukan siapa yang berhak membawa pulang medali emas.

Indonesia dan China sama-sama sudah mengumpulkan dua kemenangan dalam empat pertandingan sebelumnya.

Baca Juga: Gagal ke Final Asian Games 2026, Tim Badminton Putri Indonesia Dipastikan Raih Medali Perunggu

Artinya, pemain yang mampu menguasai partai kelima akan menjadi penentu kemenangan timnya di final.

Ubed, sapaan akrab Zaki, sempat tertinggal 0-4 pada awal gim pertama.

Namun, pemain muda Indonesia itu tidak membiarkan keunggulan lawan berkembang menjadi tekanan yang lebih besar.

Perlahan, ia menemukan ritme permainan dan mulai mengambil kendali atas jalannya pertandingan.

Kejar-mengejar angka berlangsung ketat hingga memasuki poin-poin krusial gim pertama.

Baca Juga: Gugur di Perempat Final China Open 2026, Segini Uang Hadiah Buat Jojo, Putri KW hingga Rachel Febi

Ubed akhirnya mampu melewati tekanan tersebut dan merebut gim pembuka dengan skor tipis 23-21.

Satu Gim Lagi Menuju Emas

Kemenangan gim pertama membuat langkah Ubed semakin mantap, tetapi pekerjaan belum selesai.

Weng Hongyang mencoba memberikan perlawanan pada gim kedua untuk menjaga peluang China merebut gelar.

Ubed justru tampil lebih tenang dan mampu membangun keunggulan sejak awal permainan.

Pada interval gim kedua, tunggal putra Indonesia tersebut berada dalam posisi unggul dan terus menjaga jarak.

Weng beberapa kali berusaha mengejar, tetapi Ubed mampu mempertahankan konsentrasi hingga pertandingan memasuki fase akhir.

Satu demi satu poin dikumpulkannya sampai keunggulan tidak lagi mampu dikejar lawan.

Ketika pukulan terakhir menghasilkan angka kemenangan, Ubed menutup gim kedua dengan skor 21-13.

Indonesia pun menang 3-2 atas China sekaligus memastikan medali emas beregu putra Asian Games 2026.

Bagi Ubed, kemenangan tersebut menjadi penutup sempurna dalam debutnya di ajang Asian Games.

Sebelumnya, Indonesia sempat berada dalam posisi sulit setelah kehilangan dua poin pertama melalui Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.

Alwi Farhan kemudian membuka jalan kebangkitan dengan mengalahkan Li Shifeng pada partai ketiga.

Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin menyamakan kedudukan melalui kemenangan pada partai keempat.

Dengan skor berubah menjadi 2-2, seluruh perhatian akhirnya tertuju kepada Ubed.

Ia masuk lapangan bukan hanya membawa nama sendiri, tetapi juga kesempatan Indonesia mengakhiri penantian panjang.

Kemenangan itu memastikan Indonesia kembali meraih emas beregu putra Asian Games setelah terakhir kali mendapatkannya pada 1998.

Dalam usia 19 tahun, Ubed berhasil melewati partai paling menentukan dengan ketenangan yang dibutuhkan seorang juara.

Dari tertinggal 0-4, ia bangkit, membalikkan keadaan, lalu menutup malam dengan satu kemenangan yang berarti emas.

Bagi Indonesia, nama Zaki Ubaidillah kini menjadi bagian dari cerita kemenangan dramatis di panggung Asian Games Aichi-Nagoya 2026.***