POJOKSATU.ID - Tahun 2025 jadi babak baru industri otomotif Indonesia. Jalanan kota besar mulai dipenuhi mobil tanpa knalpot, senyap tapi bertenaga listrik.
Dari Jakarta hingga Surabaya, jumlah pengguna kendaraan listrik (EV) melonjak tajam.
Program insentif pemerintah dan kehadiran merek-merek baru seperti BYD, Wuling, dan Hyundai mempercepat transisi ini.
Baca Juga: Bupati Bandung Apresiasi ASN: Raih Nilai 96 Persen dari Ombudsman, Bukti Pelayanan Publik Makin Baik
Namun muncul pertanyaan besar Apakah infrastruktur listrik kita siap menghadapi lonjakan ini.
Lonjakan Daya dan Power Up EVent PLN
PT PLN (Persero) mencatat lonjakan permohonan tambah daya listrik rumah tangga sepanjang semester pertama 2025.
Program Power Up EVent yang diluncurkan PLN mempermudah pemilik mobil listrik untuk menambah kapasitas daya dengan biaya terjangkau.
Dari data internal PLN, permintaan tambah daya naik lebih dari 40 % dibanding tahun sebelumnya, terutama di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya.
Baca Juga: Antusias Warga Tinggi, Pemutihan Pajak Samsat Ciputat Capai Rp188 Miliar
Alasannya sederhana: mobil listrik butuh pasokan daya besar untuk proses pengisian di rumah.
Rata-rata pengguna menambah daya dari 2.200 VA ke 7.700 VA agar bisa mengisi baterai mobil di malam hari tanpa takut listrik padam.
PLN mengklaim sistem kelistrikan nasional siap, Tetapi pakar energi memperingatkan jika penetrasi EV meningkat drastis tanpa perencanaan beban, jaringan bisa kewalahan.
Infrastruktur SPKLU Masih Timpang
Walau PLN gencar membangun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), jumlahnya masih belum seimbang dengan pertumbuhan pengguna.
Per Juli 2025, tercatat sekitar 2.000 SPKLU aktif di seluruh Indonesia, sementara jumlah mobil listrik yang beredar sudah menembus 120 ribu unit.
Artinya, satu SPKLU bisa melayani hingga 60 kendaraan angka yang dianggap terlalu tinggi oleh pengamat otomotif.
Baca Juga: Soal Revisi UU HAM, Begini Kata Sekjen Kementerian HAM
Beberapa pengguna EV bahkan mengeluhkan antrean panjang saat mudik Lebaran 2025.
Banyak yang akhirnya memilih memasang home charger pribadi, meskipun biaya instalasinya cukup tinggi.
Masalah lain muncul di daerah. Di luar Pulau Jawa, jaringan SPKLU masih jarang. Beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan bahkan belum punya satu pun titik pengisian cepat.
Baca Juga: Tak Perlu Antre Panjang, Begini Cara Booking Online Pendaftaran di Mal Pelayanan Publik Garut
Tanpa pemerataan infrastruktur, adopsi kendaraan listrik bisa terhambat di luar kota besar.
Tantangan Energi Ramah Lingkungan Tapi Boros Daya
Meski disebut ramah lingkungan, mobil listrik tetap memerlukan pasokan energi besar dari pembangkit.
Baca Juga: Wali Kota Serang Tetapkan Alun-Alun Barat Jadi Lokasi Apel Rutin ASN
Ironisnya, sebagian besar listrik Indonesia masih bersumber dari PLTU batubara.
Artinya, jika transisi ke EV tidak diimbangi dengan transisi energi terbarukan, maka emisi karbon hanya berpindah dari jalan raya ke cerobong PLTU.
Pakar energi menilai ini saat yang tepat bagi PLN mempercepat program co-firing biomassa dan pembangkit EBT (Energi Baru Terbarukan).
Baca Juga: Style Hijab Sesuai Bentuk Wajah: Panduan Biar Penampilan Gak Salah Gaya
Dengan begitu, peningkatan konsumsi listrik akibat EV bisa tetap hijau dan berkelanjutan.
Antusias Tapi Waspada
Dari survei kecil PojokSatu.id terhadap komunitas pengguna EV, mayoritas mengaku puas dengan efisiensi dan kenyamanan mobil listrik.
Namun mereka berharap PLN memperbanyak SPKLU cepat dan memperbaiki sistem pembayaran digital di tiap titik.
Baca Juga: Masih Banyak Truk Tambang Bandel, Satlantas Serang Gencar Lakukan Penyekatan
Beberapa pengguna juga menyoroti keterbatasan daya di perumahan lama, yang sering tidak cukup untuk pengisian cepat.
Menuju Masa Depan Listrik yang Cerdas
Transisi menuju kendaraan listrik memang tidak bisa dibendung.
Namun kesiapan infrastruktur jadi kunci agar revolusi ini tak berubah jadi krisis daya.
PLN harus menyeimbangkan dua sisi memenuhi kebutuhan energi yang melonjak sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Baca Juga: CPNS 2026 Fokus Formasi Digital dan Kesehatan, Pemerintah Terapkan Sistem Zero Growth ASN
Jika pemerintah, PLN, dan masyarakat bergerak seirama, maka 2030 bukan lagi mimpi.
Jalanan kita bisa penuh kendaraan senyap, bersih, dan cerdas bukan sekadar tren, tapi bagian dari gaya hidup baru Indonesia.
Lonjakan kendaraan listrik 2025 membuka peluang besar, tapi juga menguji kesiapan energi nasional.
Pertanyaannya tinggal satu apakah PLN siap menyuplai masa depan tanpa asap knalpot.***



