POJOKSATU.ID - Isu soal badai El Nino 2026 mulai ramai dibicarakan.

Banyak yang langsung khawatir. Eh, apakah Indonesia bakal kembali mengalami kemarau panjang seperti beberapa tahun lalu?

Prediksi sejumlah lembaga klimatologi internasional menunjukkan fenomena El Nino berpotensi kembali memengaruhi wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia, pada periode 2026.

Meski belum tentu ekstrem, sinyal awal ini sudah cukup menjadi alarm agar masyarakat mulai bersiap sejak dini.

Baca Juga: Tak Ada PHK PPPK! CPNS 2026 Bandung Tetap Dibuka, Pemkot Bandung Jamin Tak Bebani APBD

Nah, sebenarnya apa sih El Nino itu, dan apa yang harus kita lakukan kalau fenomena ini benar-benar datang?

Secara sederhana, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Kedengarannya ilmiah banget, ya? Tapi dampaknya nyata.

Ketika El Nino terjadi, pola angin dan pembentukan awan berubah.

Baca Juga: Belanja Pegawai Tembus 34,13 Persen! PPPK Klungkung Sempat Waswas, Pemkab Klungkung Akhirnya Buka Suara

Akibatnya, wilayah Indonesia yang biasanya kaya hujan justru mengalami penurunan curah hujan drastis.

Hmm… inilah yang sering memicu:

  1. Kemarau lebih panjang

  2. Kekeringan di sejumlah daerah

  3. Penurunan produksi pertanian

  4. Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa El Nino bisa berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, mulai dari harga pangan hingga ketersediaan air bersih.

Para ahli iklim memantau suhu laut global yang menunjukkan kecenderungan peningkatan anomali suhu.

Kondisi ini sering menjadi “tanda awal” terbentuknya El Nino.

Meski begitu, penting dicatat prediksi bukan berarti kepastian.

Intensitasnya masih bisa berubah tergantung dinamika atmosfer beberapa bulan ke depan.

Namun ya itu tadi, lebih baik siap daripada kaget.

Baca Juga: 120 dari 460 Perumahan di Bandung Sudah Serahkan PSU, Dadang Ultimatum Pengembang Nakal

Dampak yang Paling Mungkin Terjadi di Indonesia

Kalau El Nino benar terjadi pada 2026, beberapa sektor berpotensi terdampak cukup besar.

1. Pertanian

Petani menjadi kelompok paling rentan.

Musim tanam bisa bergeser karena hujan datang lebih lambat.

2. Ketersediaan Air

Debit sungai dan waduk biasanya menurun saat kemarau panjang.

Baca Juga: Hari Pertama Masuk Sekolah di Kota Bandung, Siswa Halal Bihalal dan Bangun Lagi Semangat Belajar

Beberapa daerah rawan kekeringan perlu meningkatkan cadangan air sejak awal.

3. Kualitas Udara

Risiko kebakaran lahan meningkat saat kondisi kering ekstrem.

Nah, ini yang sering menyebabkan kabut asap.

4. Suhu Lebih Panas

Warga kota mungkin akan merasakan suhu siang hari terasa lebih menyengat dari biasanya.

Duh, kebayang kan kalau persiapan tidak dilakukan?

Tenang, El Nino bukan sesuatu yang tidak bisa dihadapi.

Ada beberapa langkah sederhana tapi penting yang bisa dilakukan sejak sekarang.

Pertama, hemat penggunaan air.

Mulai biasakan penggunaan air secara efisien, terutama di wilayah yang sering mengalami kekeringan.

Kedua, perhatikan jadwal tanam.

Petani dianjurkan mengikuti informasi cuaca resmi agar tidak salah menentukan musim tanam.

Baca Juga: Houthi Resmi Ikut Perang! Rudal dan Drone Ditembakkan ke Israel, Konflik Timur Tengah Kian Meledak

Ketiga, waspada kebakaran.

Hindari pembakaran lahan terbuka, terutama saat musim kering mulai terasa.

Keempat, pantau informasi resmi.

Update cuaca dari lembaga resmi menjadi kunci agar masyarakat tidak termakan hoaks.

Menghadapi fenomena iklim bukan hanya tugas pemerintah.

Justru keberhasilan mitigasi sering bergantung pada kesadaran masyarakat.

Baca Juga: IPM Jawa Barat 2025 Naik Jadi 75,9, Pendidikan dan Kesehatan Jadi Penopang Utama

Mulai dari menjaga sumber air, menanam pohon, hingga mengurangi aktivitas yang memicu kebakaran lahan semua langkah kecil bisa memberi dampak besar.

Dan ya, perubahan iklim global membuat fenomena seperti El Nino semakin sering dipantau secara serius.

Jadi bukan sekadar isu musiman lagi, melainkan bagian dari adaptasi jangka panjang.

Intinya begini, El Nino bukan alasan untuk panik, tapi juga bukan hal yang bisa diabaikan.

Dengan persiapan sejak awal, dampaknya bisa ditekan.

Justru momentum ini bisa menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim adalah tanggung jawab bersama.

Siapa tahu, dengan langkah kecil hari ini, kita bisa melewati 2026 tanpa krisis besar. Ya kan?***