POJOKSATU.ID - Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok pemberontak Houthi di Yaman secara terbuka mengumumkan serangan rudal ke wilayah Israel.

Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa mereka resmi terlibat dalam konflik yang lebih luas untuk mendukung Iran.

Serangan yang diklaim terjadi pada Sabtu (28/3) tersebut merupakan kali kedua yang dilakukan Houthi.

Baca Juga: Efisiensi Anggaran Melenceng, PPPK Terdampak, Belanja Tak Prioritas Masih Jalan

Juru bicara mereka, Yahya Saree, menyebut operasi ini bukan aksi tunggal, melainkan bagian dari koordinasi militer yang lebih besar bersama Iran dan kelompok Hezbollah di Lebanon.

Dalam pernyataannya, Saree menegaskan bahwa pihaknya meluncurkan sejumlah rudal dan drone yang menargetkan fasilitas vital serta lokasi militer Israel.

“Kelompok ini menembakkan rentetan rudal dan drone yang menargetkan beberapa situs vital dan militer di Israel, yang bersamaan dengan operasi militer yang dilakukan oleh Iran dan Hezbollah di Lebanon," ujar Saree, dilansir AFP.

Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Makan Korban, Satu Prajurit TNI Gugur Saat Bertugas di Misi Perdamaian PBB

Serangan ini disebut dilakukan secara simultan dengan operasi militer sekutu mereka di kawasan.

Sementara itu, militer Israel mengonfirmasi telah mendeteksi adanya serangan yang datang dari arah Yaman.

Sistem pertahanan udara langsung diaktifkan untuk mencegat ancaman tersebut sebelum mencapai target.

Baca Juga: Lulus PPG dari Sekolah Swasta, Apakah TPG Tetap Cair Jika Pindah ke Negeri? Ini Penjelasannya

Sebelumnya, Houthi telah memberi peringatan keras bahwa mereka siap turun tangan jika konflik yang melibatkan Iran terus meluas, terutama jika Amerika Serikat dan Israel meningkatkan tekanan militer.

Kelompok ini juga menegaskan akan bertindak jika wilayah Laut Merah digunakan sebagai jalur operasi militer oleh pihak-pihak yang terlibat konflik.

Bahkan, mereka secara tegas menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi militer langsung.

Selama beberapa waktu terakhir, Houthi memang kerap melakukan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah sebagai bentuk respons atas dinamika geopolitik kawasan.

Namun, keterlibatan langsung dalam konflik Israel menjadi eskalasi baru yang cukup signifikan.

Baca Juga: Dilema APBD Kotim 2026, TPP ASN Terancam, Guru PPPK Tetap Dipertahankan

Langkah ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah kini semakin kompleks. Tidak hanya melibatkan negara-negara besar, tetapi juga kelompok bersenjata yang memiliki pengaruh kuat di wilayahnya masing-masing.

Jika situasi terus berkembang tanpa deeskalasi, bukan tidak mungkin konflik ini akan meluas menjadi perang regional yang lebih besar dan sulit dikendalikan.***