POJOKSATU.ID - Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR) selama ini dikenal sebagai proyek tol dalam kota yang tertunda puluhan tahun.
Namun jika diamati lebih jauh, BIUTR berpotensi menjadi lebih dari sekadar solusi kemacetan.
Ini bisa menjadi eksperimen urban pertama di Bandung yang secara struktural menggabungkan tol modern dengan kota wisata bersejarah.
Selama ini, Bandung dikenal sebagai “Kota Kembang” pusat kreativitas, budaya, kuliner, dan wisata heritage yang menjadi magnet turis lokal maupun internasional.
Tol baru dalam kota ini bisa mengubah wajah Bandung dalam jangka panjang, dari kota akhir pekan menjadi kota transit regional berkelas nasional.
Relevansi BIUTR dengan Identitas Bandung sebagai Kota Wisata
Bandung bukan Jakarta.
Peran Bandung lebih banyak sebagai kota wisata, lifestyle, dan kreativitas.
Jalanan terkenal macet di sejumlah titik seperti Pasteur, Cicaheum, dan Jalan Surapati adalah bagian dari pengalaman warga dan wisatawan.
Baca Juga: Dikaitkan dengan Isu 'Di Noel kan', Ketua KPK Tegaskan Tak Ada Target dalam Pemberantasan Korupsi
Tetapi ketika tol elevated seperti BIUTR hadir di atas jaringan jalan eksisting, ia bisa:
Membuka koridor baru pengembangan urban di sepanjang jalur tol, bukan hanya di pusat wisata saja.
Mendorong mobilitas lintas kawasan yang lebih cepat, sehingga destinasi wisata di Bandung tidak hanya terpusat di pusat kota, tetapi tersebar merata.
Menjadi “etalase modernitas” yang menunjang imej Bandung sebagai kota kreatif sekaligus efisien secara mobilitas urban.
Dengan BIUTR, Bandung bisa beralih dari peran tradisionalnya sebagai tujuan “wisata akhir pekan” menjadi kota transit yang menghubungkan wilayah urban besar lain di Jawa Barat:
Jalan tol BIUTR dirancang untuk menghubungkan antara Pasteur sampai Gedebage dan akan terkoneksi dengan jaringan tol lain seperti Padaleunyi dan Cisumdawu.
Potensi ini membuka peluang mobilitas regional lebih cepat, termasuk untuk pelaku bisnis, logistik, hingga agensi kreatif yang selama ini bergantung pada waktu tempuh tinggi.
Baca Juga: Tol Getaci dan Rekayasa Ulang Ekonomi Jawa Barat Selatan, Jalan Panjang Menggeser Takdir Wilayah
Jika tol ini benar-benar bisa “mengkatalisasi” akses dari berbagai arah, Bandung tidak hanya jadi destinasi, tetapi kota transit utama yang melayani arus manusia, barang, dan ide di Jawa Barat bahkan lintas provinsi.
BIUTR bukan tol biasa. Desainnya melintang di atas ruas kota (elevated), meliputi sejumlah jalur utama sehingga:
Kapasitas jalan eksisting akan terpecah, memberi ruang bagi lalu lintas lokal yang lebih lancar.
Ruas jalan yang saat ini penuh dengan aktivitas ekonomi kreatif, kafe, dan destinasi wisata mendapat “jalur bebas hambatan” di atasnya menghadirkan ruang publik yang lebih efisien.
Ruang kota akan direkonfigurasi sebagai koridor mobilitas urban baru bukan sekadar fungsi mobilitas kendaraan, tapi juga peluang ekonomi dan ruang sosial baru.
Ini penting BIUTR berpotensi mentransformasi jaringan ruang kota Bandung, bukan sekadar memecah kemacetan.
Baca Juga: Ada Masalah MBG Viral Tapi BGN Malah Kegirangan, Sebut Bagus Jadi Bahan Evaluasi!
BIUTR vs Transportasi Publik, Pendekatan Ganda atau Kontradiktif?
Salah satu kritik besar terhadap tol dalam kota adalah bahwa tol sering tidak menyelesaikan akar masalah macet karena tol justru menarik lebih banyak kendaraan (induced demand).
Namun dalam konteks Bandung, BIUTR bisa dipandang sebagai pendukung evolusi sistem transportasi yang lebih luas jika:
dikolaborasikan dengan jaringan transportasi publik yang layak (misalnya BRT dan LRT),
difungsikan sebagai akses utama bagi kendaraan luar kota dan logistik,
sementara ruas kota diprioritaskan untuk pejalan kaki, angkutan umum, dan kendaraan lokal.
Jika kedua hal ini berjalan bersamaan, BIUTR bisa menjadi tol pertama di Indonesia yang “menjadi bagian” dari sistem transportasi publik kota, bukan alternatif tunggalnya.
Urban Identity, Wisata Heritage vs Arsitektur Mobilitas Modern
Bandung punya dua wajah:
-
Kota heritage, jalan arsitektur bergaya kolonial, distrik kreatif seperti Braga, Cihampelas, dan Dago.
-
Kota modern, kampus teknologi, pusat startup, dan ruang kreatif yang terus berkembang.
Baca Juga: Pelajar Bersiap, Pendaftaran Paskibraka 2026 Segera Dibuka, Ini Syarat Lengkap dan Cara Daftarnya
BIUTR bisa menjadi jembatan naratif antara kedua wajah ini:
tol sebagai simbol kemajuan mobilitas;
kota wisata sebagai penopang budaya dan kreativitas.
Jika diposisikan secara bijak, kota Bandung bisa berubah dari cara pandang “macet masalah turis” menjadi “macet sebagai ruang dialog mobilitas, kreativitas, dan urban modern”.
Baca Juga: Golkar Kabupaten Cirebon Dukung Keputusan DPR RI Polri Tetap di Bawah Presiden
Dampak Ekonomi Kreatif dan Pariwisata
BIUTR juga bisa memicu efek ekonomi:
Turis lebih mudah menjelajah destinasi berbeda dalam kota tanpa rugi banyak waktu;
UMKM wisata dan kreatif bisa menjangkau pasar lebih luas karena akses jalan lebih cepat;
Modal investor bisa tertarik pada kawasan yang selama ini kurang tersentuh karena kendala akses.
Dengan begitu, BIUTR menjadi lebih dari sekadar tol ia menjadi fasilitator ekosistem ekonomi kreatif Bandung.
Proyek BIUTR membawa pesan lebih besar dibanding sekadar angka investasi atau panjang ruas tol.
Ini adalah proyek transformasi kota.
Baca Juga: Aduh Ada Lagi Aja Masalah MBG! Puluhan Siswa SMAN 2 Kudus Tumbang Usai Santap Siang
Bandung bisa menjadi model pertama di Indonesia bagaimana sebuah kota wisata heritage bertransisi menjadi kota transit regional modern tanpa kehilangan identitas budaya dan ekonomi kreatifnya.***

