POJOKSATU.id – Suasana SMAN 2 Kudus mendadak berubah mencekam pada Kamis pagi 29 Januari 2026 ketika puluhan siswanya mengalami gejala sakit hampir bersamaan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam hitungan jam, satu per satu siswa mengeluh mual, pusing, muntah hingga diare, membuat ruang kelas berubah seperti ruang darurat.
Kondisi itu sontak memicu kepanikan para guru yang langsung menghubungi layanan medis.
Baca Juga: Tim Antawirya UNDIP Tembus Panggung Dunia, Lolos World Championship Shell Eco-Marathon 2027
Ambulans hilir-mudik memasuki komplek sekolah untuk mengevakuasi para siswa menuju sejumlah rumah sakit di Kudus.
Dikutip POJOKSATU.id dari laporan MuriaNews, sedikitnya 70 siswa harus mendapatkan perawatan medis di RSUD dr. Loekmono Hadi, RS Aisyiyah, RS Kumala Siwi dan RS Sarkies.
Kesaksian para siswa menyebutkan bahwa gejala mulai terasa tidak lama setelah jam makan siang.
Baca Juga: Mengenal Bullying dan Cara Efektif Mencegahnya di Lingkungan Sekolah
“Tiba-tiba pusing dan mual,” ujar salah satu siswa sebagaimana dikutip POJOKSATU.id dari Radar Pati Jawa Pos, yang melaporkan banyak siswa mengaku sakit bersamaan sejak pagi.
Situasi semakin heboh ketika jumlah siswa yang dievakuasi terus bertambah.
Laporan lain menyebut hingga ratusan siswa mengalami gejala serupa, membuat ruang IGD di beberapa rumah sakit dipadati pelajar berseragam.
Hingga saat ini, penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan.
Baca Juga: Tim Antawirya UNDIP Tembus Panggung Dunia, Lolos World Championship Shell Eco-Marathon 2027
Otoritas kesehatan telah mengambil sampel makanan MBG yang disajikan untuk diperiksa lebih lanjut.
Kasus ini menambah panjang daftar insiden dugaan keracunan menu MBG yang sebelumnya terjadi di beberapa daerah seperti Blora, Grobogan, dan Cianjur.
Pemerintah daerah diminta melakukan evaluasi total terhadap standar keamanan pangan MBG agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Sementara itu, proses belajar di SMAN 2 Kudus sempat terganggu akibat banyak siswa harus menjalani perawatan.
Baca Juga: Tim Antawirya UNDIP Tembus Panggung Dunia, Lolos World Championship Shell Eco-Marathon 2027
Orang tua siswa pun berdatangan ke sekolah dan rumah sakit untuk memastikan kondisi anak-anak mereka.***




