POJOKSATU.id - Tidaklah berlebihan jika Prof. Natalita Maulani Nursam, S.T., M.Phil., Ph.D. dinobatkan sebagai sosok Kartini modern terutama di bidang sains dan teknologi.
Sosok perempuan ini memang bukan perempuan sembarangan. Natalita telah mencatatkan namanya dalam sejarah penelitian Indonesia sebagai profesor riset perempuan termuda di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Perempuan yang lahir di Lamongan ini kini telah menjelma menjadi tokoh inspiratif bagi banyak perempuan Indonesia khususnya yang berkarir di bidang sains dan teknologi.
Perjalanan karirnya yang inspiratif dimulai pada tahun 2006 dan saat ini ia menjabat sebagai peneliti ahli utama sekaligus Ketua Kelompok Riset Perangkat Fotovoltaik di BRIN.
Baca Juga: Hari Kartini, Bidan Irenne Dorong Perempuan Karawang Lebih Peduli Kesehatan
Tak hanya itu, keahliannya dalam teknologi sel surya pun telah membawa Indonesia selangkah lebih maju dalam pengembangan energi terbarukan.
Latar belakang pendidikan perempuan kelahiran 1982 ini tidak kalah mengesankan.
Menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia, Natalita kemudian melanjutkan studi pascasarjana di dua universitas terkemuka Australia.
Australian National University dan The University of Melbourne adalah dua institusi pendidikan terkemuka yang menjadi tempat menempuh studinya.
Baca Juga: Putri Wahyu, Kartini Muda dari Unsika yang Menginspirasi Generasi Milenial
Sebagaimana dilansir dari @brin_indonesia, fokus penelitiannya berada pada pengembangan material sel surya generasi ketiga berbasis pewarna dan perovskite.
Teknologi mutakhir ini diyakini akan memegang peranan penting dalam transisi energi global.
Ketertarikannya pada bidang energi terbarukan, khususnya sel surya, berawal saat melakukan penelitian tugas akhir S1 di Teknik Elektro Universitas Indonesia.
Menurutnya, energi terbarukan merupakan elemen yang sangat penting di masa depan, khususnya dalam masyarakat modern yang tidak bisa lepas dari perangkat canggih dalam kehidupan sehari-hari.
"Terlebih dengan adanya isu perubahan iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil," ungkap Natalita dilansir dari @brin_indonesia.
Pengakuan Internasional
Dedikasi dan kontribusi Prof. Natalita dalam bidang penelitian mendapatkan pengakuan internasional pada tahun 2019 melalui penghargaan APEC-Australia Women in Research.
Penghargaan ini menegaskan bahwa kiprah perempuan dalam dunia penelitian semakin diakui secara global.
Baca Juga: Hari Kartini, Kades Cantik Ini Ajak Perempuan Karawang Tampil Berdaya
Menurutnya, representasi perempuan di dunia penelitian, khususnya di bidang ilmu teknik, sudah semakin membaik.
Hal ini terlihat dari semakin banyaknya platform penghargaan atau hibah penelitian khusus untuk peneliti perempuan.
Yang diharapkan dapat menampilkan sosok-sosok teladan yang menginspirasi perempuan muda untuk mengikuti jejak mereka.
Seperti banyak perempuan profesional lainnya, Prof. Natalita juga menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan perannya sebagai periset dan ibu.
Strategi yang ia terapkan adalah bekerja secara efisien, memilih bekerja 6 jam dengan optimal daripada 12 jam dengan ritme santai.
"Menjadi peneliti menuntut keterampilan serba bisa, dari riset, analisis data, pembimbingan, hingga manajemen proyek," kata Natalita.
Kemampuan multitasking ini sejalan dengan peran perempuan yang sering kali harus mengelola berbagai tanggung jawab sekaligus.
Peran Perempuan dalam Kemajuan Sains dan Teknologi Indonesia
Prof. Natalita memandang kesetaraan gender, termasuk di dunia sains dan teknologi, sangat penting untuk mendorong inovasi dan kreativitas.
Ia menekankan bahwa perempuan, sebagai pendidik pertama di rumah, dapat mengenalkan sains dan teknologi sejak dini kepada anak-anak.
Sehingga bisa mencetak generasi baru yang mendorong kemajuan sains dan teknologi di Indonesia.
Inspirasi untuk berkiprah di bidang ilmu teknik yang didominasi kaum pria datang dari profesor pembimbingnya saat kuliah, yang juga seorang perempuan.
Pengalaman ini membuat Natalita yakin bahwa perempuan pun dapat berkontribusi dengan cemerlang dalam bidang STEM (Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika).
Masa Depan Teknologi Sel Surya di Indonesia
Dengan kepemimpinan Prof. Natalita di Kelompok Riset Perangkat Fotovoltaik BRIN, masa depan penelitian dan pengembangan teknologi sel surya di Indonesia tampak menjanjikan.
Riset yang dilakukannya diharapkan dapat mendorong kemandirian teknologi energi terbarukan nasional.
Sebagai negara yang kaya akan sinar matahari sepanjang tahun, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan energi surya.
Penelitian Prof. Natalita dan timnya menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi tersebut melalui inovasi teknologi yang sesuai dengan kondisi Indonesia.
Kisah perjalanan Prof. Natalita Maulani Nursam dari Lamongan hingga menjadi profesor riset termuda di BRIN merupakan inspirasi bagi generasi muda Indonesia, terutama perempuan yang ingin berkarir di bidang sains dan teknologi.
Pencapaiannya membuktikan bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan dukungan yang tepat, perempuan dapat mencapai posisi tertinggi dalam bidang penelitian dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa melalui inovasi sains dan teknologi.***
Untuk mendapatkan artikel menarik dengan lebih cepat dan mudah bisa download aplikasi Pojoksatu.id untuk Android dan iOS dengan link di bawah ini:
