POJOKSATU.id — Sosok Raden Ajeng Kartini selalu dikenang sebagai pelopor emansipasi perempuan Indonesia.

Namun, di balik ketenaran namanya, ternyata pemikiran progresif Kartini tidak berdiri sendiri.

Kecerdasan dan keberanian untuk bermimpi juga mengalir dalam darah keluarganya, yang tak kalah menginspirasi.

Lahir sebagai putri Bupati Jepara, Kartini dan saudara-saudaranya besar dalam lingkungan bangsawan yang memberi mereka akses pendidikan — sebuah keistimewaan langka pada masa itu, terutama bagi perempuan.

Di Pendopo Kabupaten Jepara, mereka tumbuh bersama, dikelilingi oleh buku-buku dan pemikiran terbuka yang menjadi fondasi gagasan Kartini tentang kesetaraan.

Baca Juga: Mengenal Sosok Siti Walidah, Tokoh Emansipasi Perempuan Pendiri Aisyiyah

Tiga Sekawan Daun Semanggi

Di antara kesebelas saudara kandungnya, Kartini paling dekat dengan dua adiknya, Kardinah dan Roekmini.

Tiga bersaudara ini menjalin ikatan kuat, bukan hanya sebagai keluarga, tetapi juga sebagai rekan seperjuangan yang berbagi mimpi besar tentang masa depan kaum perempuan.

Kebersamaan mereka bahkan dijuluki het klaverblad — istilah Belanda yang berarti ‘daun semanggi’, merujuk pada tiga helai daun yang selalu melekat satu sama lain.

Ketiganya gemar ‘blusukan’, berkeliling kampung untuk melihat langsung realitas kehidupan rakyat. Dari sanalah mereka memahami ketimpangan sosial, terutama dalam pendidikan dan hak perempuan.

Kardinah, Sang Perintis Sekolah Putri

Kardinah menjadi saudari pertama Kartini yang menikah, dipinang oleh Raden Mas Haryono yang kemudian menjabat Bupati Tegal.

Meski telah menjadi istri seorang pejabat, Kardinah tidak melupakan idealismenya. Beruntung, sang suami mendukung langkah besarnya.

Melalui peran barunya sebagai istri Bupati, Kardinah mendirikan Sekolah Kepandaian Putri Wisma Pranowo di Tegal.

Sekolah ini menjadi ruang pemberdayaan perempuan lewat pendidikan keterampilan, seperti membatik dan memasak.

Baca Juga: Pentingnya Peran Perempuan Tanamkan Pancasila di Era Digital

Bahkan, Dewi Sartika — pahlawan pendidikan perempuan asal Jawa Barat — sempat mengunjungi Wisma Pranowo untuk bertukar gagasan tentang pendidikan bagi kaum perempuan.

Selain sekolah, Kardinah juga turut mendirikan sebuah rumah sakit yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kardinah Tegal.

Menariknya, pembiayaan sekolah dan rumah sakit ini berasal dari penjualan buku resep memasak dan membatik yang ia tulis sendiri.

Sosrokartono, Sang Jenius 35 Bahasa

Selain Kartini, keluarga ini juga melahirkan seorang tokoh luar biasa, yakni kakak kandung mereka, Raden Mas Panji Sosrokartono.

Sosrokartono dikenal sebagai pemuda cerdas yang menguasai tidak kurang dari 35 bahasa asing.

Ia adalah generasi pertama Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Leiden, Belanda, pada jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur.

Setelah menyelesaikan studinya, Sosrokartono menapaki karier gemilang sebagai koresponden perang surat kabar The New York Herald Tribune, salah satu media besar asal Amerika Serikat.

Ia bahkan pernah dikirim ke medan tempur untuk meliput Perang Dunia I bersama pasukan sekutu.

Baca Juga: Fakta Lain RA Kartini yang Tidak Banyak Diketahui, PERNAH DIBULLY Guru dan Murid di Sekolah, Buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang' BUKAN DISUSUN Kartini

Kemampuannya dalam bahasa asing juga membawanya menjadi Kepala Penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa, sebuah organisasi internasional yang kelak menjadi cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dukungan untuk Sang Adik

Meski berada jauh di Eropa, Sosrokartono selalu mendukung mimpi besar adiknya, Kartini.

Ia kerap mengirimkan buku-buku untuk menambah wawasan sang adik yang haus akan ilmu pengetahuan.

Namun nasib Kartini berbeda, karena aturan sosial pada masa itu tidak memberi ruang bagi perempuan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Nama yang Abadi dalam Sejarah

Kisah keluarga Kartini menjadi bukti bahwa semangat perubahan tak hanya lahir dari satu sosok, melainkan dari lingkungan yang membesarkan dan mendukungnya.

Baca Juga: Sinopsis Film Kartini, Perjuangan Kartini Mewujudkan Kesetaraan Perempuan

Meski nama Kardinah, Roekmini, dan Sosrokartono tak setenar Kartini, peran dan dedikasi mereka dalam dunia pendidikan dan kemanusiaan tak kalah menginspirasi. ***