POJOKSATU.id, SULSEL— Sekitar 13 tahun Aris Sanda bekerja sebagai sopir dan melayani warga di wilayah Wamena serta sejumlah kawasan pegunungan di Papua Pegunungan, termasuk wilayah Mbua.
Namun kisah akhir hidupnya berakhir tragis di tangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Dia tewas ditembak dan mobilnya dibakar pada Selasa (15/9/2026) pagi.
Sebelumnya, Aris Sanda sempat disandera dan dipaksa membuat video yang berisi pernyataan dukungan kepada KKB.
Aris Sanda merupakan sopir travel asal Tampan Bonga, Bangkelekila, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
Aris meninggal dunia setelah diduga menjadi korban penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) atau OPM saat sedang bekerja mencari nafkah di tanah rantau.
Bagi keluarga, Aris bukan sekadar seorang perantau. Ia merupakan tulang punggung keluarga yang tetap memberikan perhatian kepada orangtuanya di kampung halaman.
Sementara ibu Aris Sanda, Elisabet mengatakan, meski berada jauh dari Toraja Utara, Aris tidak pernah melupakan keluarganya.
Baca Juga: Sosok Willi Mbuik ASN yang Gugur Ditembak KKB, Si Bungsu yang Suka Telpon Ayah Usai Terima Gaji
Ia bahkan kerap mengirimkan uang dan kebutuhan untuk kedua orangtuanya yang telah lanjut usia.
"Saya rindu sama Mama. Kasihan Mama sama Bapak sudah tua," ucap Elisabet menirukan perkataan Aris.
Menurut Elisabet, putranya juga dikenal suka membantu adik-adik dan keponakannya. Ketika memperoleh rezeki, Aris berusaha membantu biaya pendidikan keluarga.
"Dia baik sama saudaranya. Membantu adik-adiknya, keponakannya sekolah," ujarnya.
Keinginan Aris untuk pulang ke kampung halaman sebenarnya sudah disampaikan kepada keluarganya.
Baca Juga: KKB Rampas HP ASN Willi Mbuik yang Mereka Tembak Lalu Video Call Ayahnya Sambil Tertawa
Ia disebut ingin kembali berkumpul dengan orangtua dan sanak saudaranya setelah bertahun-tahun menghabiskan hidup di tanah rantau.
Namun, keinginan tersebut tidak pernah terwujud. Aris justru meninggal dunia setelah diduga ditembak oleh kelompok bersenjata di Wamena.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Aris diduga sempat dipaksa membuat pernyataan dukungan melalui sebuah video singkat terkait Papua Merdeka sebelum akhirnya tewas ditembak.
Kabar tersebut membuat keluarga terpukul. Elisabet mengaku tidak menyangka anaknya yang selama ini bekerja mencari nafkah justru harus kehilangan nyawa.
Di tengah kesedihan, Elisabet meminta pemerintah dan aparat keamanan mengusut kasus tersebut serta menangkap pelaku.
"Saya minta tolong kepada pemerintah, supaya ditangkap itu OPM yang begitu jahat sama anak saya, yang mencari nafkah di negeri Papua. Kenapa dia kejam sampai dia bunuh," kata Elisabet.
Bagi keluarga Aris, kepulangan jenazah kini menjadi penantian terakhir setelah 23 tahun sang anak menjalani kehidupan di tanah rantau.
Sementara itu, Juru Bicara TPNPB OPM Sebby Sambom mengatakan, TPNPB Kodap III Ndugama Derakma bertanggung jawab atas penembakan tersebut.***




