POJOKSATU.id - Transaksi perdagangan antarnegara anggota BRICS tengah diarahkan agar bisa berlangsung lebih cepat dan murah.

Menjelang KTT BRICS di New Delhi, India, sejumlah opsi mekanisme pembayaran lintas negara kembali menjadi pembahasan.

Gagasan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penggunaan mata uang lokal.

Negara-negara BRICS juga mengkaji kemungkinan menghubungkan sistem pembayaran cepat hingga memanfaatkan mata uang digital bank sentral atau CBDC.

Baca Juga: Link Download Perangkat Ajar Deep Learning SD Lengkap Semua Kelas dan Mapel, Gratis untuk Guru

Sumber pemerintah India menyebut mekanisme tersebut ditujukan untuk memangkas biaya transaksi bilateral sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi perdagangan dan investasi antaranggota.

"Mekanisme ini tidak ditujukan untuk melawan negara atau kelompok negara tertentu," demikian sumber pemerintah India.

Sumber tersebut menegaskan, "Fokus utama inisiatif tersebut adalah efisiensi perdagangan dan investasi."

Salah satu skema yang dipertimbangkan adalah memungkinkan transaksi diselesaikan secara langsung menggunakan mata uang nasional masing-masing negara.

Baca Juga: Gratis Download Soal TKA SD MI 2026 Matematika Lengkap Jawaban dan Pembahasan Gratis

Jaringan pembayaran nasional kemudian dapat dihubungkan agar transaksi lintas batas tidak selalu membutuhkan dolar AS ataupun bank koresponden.

Bagi India, penggunaan mata uang nasional menjadi pilihan yang lebih realistis dibandingkan membentuk mata uang tunggal BRICS.

Menteri Perdagangan India Piyush Goyal menyatakan New Delhi lebih mendukung penggunaan mata uang nasional dalam aktivitas perdagangan.

Sikap ini juga sejalan dengan langkah India untuk memperluas penggunaan rupee dalam transaksi internasional.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Bagikan 11 Ribu Masker Respons Erupsi Gunung Anak Krakatau

Di sisi teknologi pembayaran, Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Sanjay Malhotra menyebut koneksi sistem pembayaran cepat dan CBDC juga masuk dalam pembahasan.

"Karena kami merasa ada banyak peluang untuk menekan biaya," kata Malhotra.

Setiap negara anggota sebenarnya sudah memiliki infrastruktur pembayaran masing-masing.

India mempunyai Unified Payments Interface (UPI), RuPay, dan Structured Financial Messaging System.

Baca Juga: Gratis Download Soal TKA SD MI 2026 Bahasa Indonesia Lengkap Jawaban dan Pembahasan

China memiliki Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), sedangkan Rusia mengoperasikan System for Transfer of Financial Messages (SPFS) serta jaringan Mir.

Brasil pun mempunyai sistem pembayaran instan Pix yang memungkinkan transaksi berlangsung secara cepat.

Dengan beragam sistem tersebut, tantangan berikutnya adalah bagaimana jaringan pembayaran yang sudah berjalan di masing-masing negara dapat saling terhubung.

Upaya serupa juga telah dieksplorasi melalui BRICS Pay yang didukung Dewan Bisnis BRICS.

Baca Juga: Sosok Willi Mbuik ASN yang Gugur Ditembak KKB, Si Bungsu yang Suka Telpon Ayah Usai Terima Gaji

Platform tersebut menjadi salah satu bagian dari pembahasan mengenai kemungkinan menghubungkan kanal pembayaran antaranggota.

Jika mekanisme tersebut dapat diterapkan secara efektif, manfaatnya bukan hanya terasa pada transaksi perdagangan.

Biaya pembayaran yang lebih rendah juga berpotensi mendukung investasi lintas negara karena hambatan dalam proses transaksi dapat ditekan.

Namun, pembahasan ini tetap berada pada tahap pengkajian.

Baca Juga: KKB Rampas HP ASN Willi Mbuik yang Mereka Tembak Lalu Video Call Ayahnya Sambil Tertawa

BRICS juga menegaskan bahwa mekanisme pembayaran baru tersebut dirancang untuk melengkapi sistem pembayaran global yang sudah ada, bukan menggantikannya.***