POJOKSATU.id – Pernyataan Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden KSPI Said Iqbal mengenai kemampuan intelektual Prabowo Subianto kembali menarik perhatian.
Dalam sebuah diskusi pada 2024, Said bahkan menyebut IQ Prabowo mencapai 170 dan menyamakannya dengan ilmuwan Albert Einstein.
Pernyataan tersebut disampaikan Said saat berbicara dalam diskusi mengenai Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) untuk pekerja di ANTARA Heritage Center, Jakarta, Senin (10/6/2024).
Ia mengaku mengenal Prabowo selama sekitar 10 tahun sehingga merasa cukup memahami karakter dan cara berpikirnya.
Baca Juga: Puisi 'Sontoloyo' Fadli Zon 2018 Kembali Disorot, Kini Ia Justru Duduk di Kabinet Prabowo
“Saya tahu kecintaannya Pak Prabowo dengan rakyatnya, daya menyerapnya itu tinggi. Orang cerdas, IQ-nya 170, sama-sama Einstein,” ujar Said.
Pernyataan itu kemudian berkembang menjadi salah satu pujian paling mencolok yang pernah dilontarkan Said kepada Prabowo.
Klaim bukan cuma soal IQ
Said tidak hanya menyinggung angka IQ.
Ia juga menggambarkan Prabowo sebagai sosok yang memiliki kemampuan membaca cepat dan gemar mengoleksi buku.
Menurut Said, rumah Prabowo di Hambalang dipenuhi buku dalam jumlah besar.
“Kalau Anda ke rumah beliau di Hambalang, mungkin dua kali ukuran ruangan ini, itu buku semua. Sehari beliau baca buku itu mungkin 50 buku, cepat dia bacanya,” kata Said.
Baca Juga: Bandara Soetta dan 4 Bandara Lainnya Dibuka Lagi Usai Ditutup Imbas Erupsi Anak Krakatau
Said kemudian menyebut Prabowo sebagai sosok yang sangat pintar dan mengingatkan calon menteri agar mampu mengikuti kecepatan berpikir Presiden terpilih saat itu.
“Presiden kita ini pintar, superpintar. Saya tahu sendiri, jadi menteri-menterinya nanti kedodoran, saya kasih tahu, karena ilmunya tinggi sekali,” ujarnya.
Said mengaku sudah mengenal Prabowo selama satu dekade
Dalam kesempatan tersebut, Said mengatakan penilaiannya terhadap Prabowo bukan sekadar berdasarkan pemberitaan atau penampilan di depan publik.
Ia mengaku telah memiliki kedekatan dengan Prabowo selama sekitar 10 tahun.
“Saya tahu kecintaannya Pak Prabowo dengan rakyatnya,” kata Said dalam forum tersebut.
Kedekatan itu pula yang menurut Said menjadi dasar penilaiannya mengenai karakter dan kemampuan Prabowo.
Namun, ada hal yang perlu dipisahkan secara jelas.
Baca Juga: Febiona Purban Korban Keracunan MBG Bolak-balik Rumah Sakit, BGN Belum Yakin Hilang Ingatan
Angka IQ 170 tersebut merupakan klaim Said Iqbal dalam forum, bukan hasil tes IQ Prabowo yang dipublikasikan dalam sumber resmi pemerintah.
Tidak ditemukan dalam sumber resmi yang saya telusuri bukti berupa hasil pemeriksaan psikometri yang mengonfirmasi angka tersebut.
Karena itu, menyebut “IQ Prabowo 170” sebagai fakta biografis akan terlalu jauh. Yang aman secara jurnalistik adalah menyebutnya sebagai klaim atau pernyataan Said Iqbal.
Perbandingan dengan Einstein juga perlu konteks
Said juga mengatakan angka tersebut setara dengan Albert Einstein.
Perbandingan seperti itu memang menarik perhatian, tetapi sejarah mengenai IQ Einstein sendiri tidak sesederhana angka yang sering beredar di internet.
Tidak ada catatan publik yang meyakinkan bahwa Einstein pernah mengikuti tes IQ standar dan memperoleh angka 170 yang terdokumentasi secara resmi.
Karena itu, menyamakan angka IQ Prabowo dengan Einstein dalam artikel sebaiknya ditempatkan sebagai perbandingan retoris dari Said Iqbal, bukan fakta ilmiah mengenai skor IQ keduanya.
Baca Juga: Paper Test Negatif Belum Berarti Bandara Bakal Aman, Ini yang Masih Dipantau dari Abu Anak Krakatau
Ini penting agar judul tetap menarik tanpa mengubah pernyataan politik menjadi fakta akademis.
Mengapa Said meminta menteri bekerja cepat?
Menariknya, pujian tersebut muncul bukan dalam forum kampanye, melainkan ketika Said membicarakan sejumlah kebijakan publik yang akan dihadapi pemerintahan Prabowo-Gibran.
Ia meminta calon menteri tidak lambat merespons isu seperti UKT, Tapera dan KRIS.
Said bahkan mengingatkan agar kebijakan tidak terus berubah setelah menuai kritik.
“Kita harapkan KRIS jangan seperti itu, malu presidennya karena berulang-ulang keluarkan, cabut, keluarkan, cabut. Pastikan kebijakan itu terkomunikasikan, tersosialisasikan, dan tidak merugikan masyarakat, termasuk kalangan buruh,” tutur Said.
Baca Juga: Tiga Bandara Kembali Beroperasi, Apa yang Berubah Setelah Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau?
Dengan demikian, ada konteks yang sering hilang ketika kutipan mengenai “IQ 170” dipotong.
Said memang memuji Prabowo, tetapi pada saat bersamaan ia juga menekan kabinet agar tidak membuat kebijakan yang membingungkan masyarakat.
Pujian Said justru datang bersama tuntutan
Di satu sisi, Said menggambarkan Prabowo sebagai pemimpin dengan kemampuan intelektual tinggi.
Di sisi lain, ia meminta para menteri mampu bekerja cepat dan memastikan kebijakan dikomunikasikan dengan baik.
Dua hal tersebut menunjukkan bahwa pujian terhadap Prabowo pada 2024 sebenarnya tidak berdiri sendiri.
Said ingin kemampuan Prabowo tersebut diterjemahkan menjadi pemerintahan yang mampu mengambil keputusan dengan cepat, tetapi tetap memperhatikan kepentingan masyarakat.
Karena itu, bagian yang paling menarik bukan hanya kalimat “IQ-nya 170”.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Abu Vulkanik, Mata dan Pernapasan Harus Dilindungi
Ada pesan lanjutan yang jauh lebih konkret: kalau Presiden disebut sangat cerdas, maka kabinet juga dituntut mampu mengimbanginya.
Klaim “50 buku sehari” juga patut ditempatkan sebagai pernyataan Said
Hal serupa berlaku terhadap klaim Prabowo membaca hingga 50 buku per hari.
Pernyataan itu memang tercatat dalam laporan ANTARA dan dikutip kembali oleh sejumlah media.
Namun, angka tersebut berasal dari cerita Said Iqbal mengenai kebiasaan membaca Prabowo.
Tidak ada data independen yang dapat memverifikasi bahwa Prabowo secara konsisten membaca 50 buku penuh setiap hari.
Baca Juga: Serius Nonsense
Karena itu, secara editorial lebih aman menulis:
“Said Iqbal mengklaim Prabowo bisa membaca hingga 50 buku sehari.”
Bukan:
“Prabowo terbukti membaca 50 buku sehari.”
Perbedaan satu kata tersebut sangat penting dalam menjaga kredibilitas naskah.
Pernyataan lama kembali relevan setelah Prabowo memimpin
Pernyataan Said disampaikan ketika Prabowo masih berstatus calon presiden terpilih.
Kini konteks politiknya berbeda karena Prabowo telah menjadi Presiden RI.
Artinya, klaim mengenai kemampuan intelektual yang dulu disampaikan Said kini dapat dibaca kembali dalam konteks kinerja pemerintahan.
Publik tentu tidak dapat mengukur kecerdasan seorang presiden hanya dari pernyataan seorang pendukung politik.
Baca Juga: MBG di Sejumlah Wilayah Dihentikan Sementara akibat PJJ, BGN Tegaskan Bukan Penghentian Permanen
Ukuran yang lebih konkret berada pada bagaimana kebijakan dibuat, seberapa cepat persoalan diselesaikan, seberapa konsisten keputusan pemerintah dan bagaimana kebijakan tersebut berdampak pada masyarakat.
Dengan kata lain, IQ 170 adalah klaim Said, tetapi keberhasilan pemerintahan harus dibuktikan melalui hasil kerja.
Bukan angka IQ yang akan menentukan
Pernyataan Said Iqbal memang menarik karena menggunakan angka yang sangat spesifik dan membandingkan Prabowo dengan Einstein.
Namun angka tersebut tetap harus ditempatkan pada konteksnya sebagai penilaian pribadi seorang tokoh politik.
Pada akhirnya, masyarakat tidak memilih presiden berdasarkan angka IQ yang diklaim seseorang.
Masyarakat akan menilai dari keputusan, kebijakan dan hasil yang dirasakan.
Dan justru di sinilah pesan Said pada 2024 menjadi menarik untuk dilihat kembali.
Ia pernah mengatakan menteri-menteri Prabowo bisa “kedodoran” karena ilmu Presiden sangat tinggi.
Baca Juga: Kemenag Terbitkan Surat Edaran PJJ akibat Abu Vulkanik, Simak Kebijakan Lengkapnya
Kini, setelah pemerintahan berjalan, publik memiliki ukuran yang jauh lebih nyata untuk menilainya:
apakah kabinet benar-benar mampu mengimbangi Presiden melalui kebijakan yang cepat, konsisten dan tidak merugikan masyarakat?
Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada apakah angka 170 benar-benar ada.



