POJOKSATU.id — Aktivitas vulkanik terjadi hampir bersamaan di sejumlah gunung api yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Fenomena tersebut membuat sebagian masyarakat merasa cemas lantaran beberapa gunung menunjukkan peningkatan aktivitas dalam waktu yang berdekatan.

Badan Geologi (BG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) turut memberikan penjelasan untuk menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai kondisi tersebut.

Melalui akun resmi Threads @badan.geologi, lembaga tersebut menjelaskan bahwa terjadinya erupsi pada beberapa gunung api dalam waktu yang sama bukanlah sesuatu yang tidak biasa.

Baca Juga: Kuliah Tatap Muka Bisa Dialihkan ke PJJ Imbas Abu Gunung Anak Krakatau, Ini Ketentuannya

Kondisi ini berkaitan dengan posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, wilayah yang dikenal memiliki banyak gunung api aktif.

Dengan karakteristik geologi tersebut, bukan hal yang mustahil bagi beberapa gunung api di Indonesia mengalami erupsi pada hari yang sama.

Peristiwa tersebut dapat berlangsung secara alamiah dan tidak menunjukkan bahwa aktivitas satu gunung menjadi penyebab erupsi pada gunung lainnya.

"Bukan hal yang aneh. Indonesia berada di Cincin Api Pasifik dan punya banyak gunung api aktif. Beberapa gunung api dapat erupsi pada hari yang sama secara alami," terang Badan Geologi.

Baca Juga: Solid Hadapi Pemilu 2029, PKB Madina Rampungkan Pemberkasan Kepengurusan 23 Kecamatan

Beberapa gunung api yang tercatat mengalami aktivitas erupsi di antaranya Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Merapi di Yogyakarta, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.

Aktivitas serupa juga terpantau pada Gunung Ili Lewotolok dan Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur serta Gunung Ibu yang berada di Maluku Utara.

Sejumlah gunung tersebut menunjukkan perubahan aktivitas vulkanik dalam beberapa hari terakhir.

Namun, munculnya erupsi secara berdekatan tidak dapat diartikan sebagai adanya hubungan sebab-akibat di antara gunung-gunung tersebut.

Badan Geologi menegaskan bahwa aktivitas erupsi yang berlangsung pada waktu yang sama merupakan bagian dari proses vulkanik alami.

"Erupsi beberapa gunung api yang terjadi pada hari yang sama merupakan aktivitas vulkanis yang alami dan tidak saling memicu satu dan yang lainnya," jelas Badan Geologi.

Baca Juga: Mengenang Munir 22 Tahun Setelah Kematiannya, Ini Perjuangan dan Kasus HAM yang Pernah Ditangani

Setiap gunung api memiliki sistem, kondisi magma, serta karakter erupsi yang berbeda.

Oleh sebab itu, aktivitas yang meningkat pada sebuah gunung tidak secara langsung menunjukkan adanya pengaruh terhadap gunung api lain yang berada di wilayah berbeda.

Badan Geologi juga mengingatkan bahwa erupsi merupakan salah satu bentuk aktivitas alami gunung api.

Tingkat kekuatan erupsi pun dapat berbeda-beda sehingga tidak seluruh kejadian vulkanik selalu menghasilkan letusan dengan skala besar.

Masyarakat diimbau untuk tidak hanya melihat adanya erupsi, tetapi juga mencermati apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas gunung api.

Baca Juga: Rangkuman Materi TKA Matematika SMA, Pahami Peluang, Ruang Sampel hingga Penerapannya, Tantangan Banget!

Informasi serta rekomendasi resmi dari pihak berwenang juga perlu dijadikan acuan dalam menentukan langkah keselamatan.

Salah satu gunung yang mengalami perubahan karakter aktivitasnya adalah Gunung Anak Krakatau yang berada di wilayah Lampung Selatan.

Gunung tersebut sebelumnya mengalami episode erupsi menerus yang berlangsung selama kurang lebih 25 jam.

Aktivitas tersebut dimulai pada Jumat (4/9) sekitar pukul 23.07 WIB dan kemudian berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.

Setelah fase erupsi menerus berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau berubah dengan munculnya letusan yang memiliki karakter strombolian.

Badan Geologi mencatat terdapat tiga kali letusan strombolian setelah episode erupsi menerus tersebut selesai.

"Tiga kali erupsi strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir," ungkap Badan Geologi.

Erupsi strombolian merupakan salah satu tipe letusan vulkanik yang umumnya ditandai dengan ledakan yang relatif lebih ringan dan terjadi secara berkala.

Baca Juga: Karhutla Mempawah, Inalum Perkuat Penanganan dengan Kerahkan 60 Relawan Grup MIND ID

Pola aktivitas seperti ini dapat berlangsung dalam periode yang panjang.

Selama proses tersebut, sistem erupsi gunung api dapat mengalami penyesuaian dan perubahan sebelum memasuki fase aktivitas berikutnya.

Badan Geologi untuk sementara menilai kembalinya pola erupsi strombolian pada Gunung Anak Krakatau sebagai indikasi berakhirnya fase erupsi menerus yang sebelumnya berlangsung cukup lama.

"Kembalinya erupsi strombolian sebagai karakteristik erupsi Gunungapi Anak Krakatau saat ini untuk sementara ini diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang," kata Badan Geologi.

Walaupun pola erupsinya telah mengalami perubahan, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Baca Juga: Ginny Weasley Ganti Pemeran di Harry Potter Season 2, Ini Sosok Aktris Barunya

Rekomendasi keselamatan bagi masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau juga masih diberlakukan.

Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas.

Warga juga dianjurkan membatasi kegiatan di ruang terbuka, terutama ketika kondisi aktivitas vulkanik meningkat.

Ancaman yang perlu diantisipasi antara lain lontaran batu pijar yang berpotensi terjadi bersamaan dengan hujan abu vulkanik dalam intensitas tinggi.

Baca Juga: PJJ Diterapkan di Sejumlah Daerah akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Daftar Lengkapnya

Selain bahaya tersebut, aliran lava juga masih menjadi salah satu potensi risiko apabila Gunung Anak Krakatau kembali memasuki fase erupsi menerus.

Masyarakat di sekitar kawasan tersebut diharapkan terus memantau informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung api.

Rekomendasi dan batas aman yang ditetapkan Badan Geologi juga perlu dipatuhi untuk mengurangi risiko akibat aktivitas vulkanik.***