POJOKSATU.id - Pengguna WhatsApp dibuat resah oleh banyaknya laporan akun yang tiba-tiba dinonaktifkan atau terkena suspend secara massal. 

Kondisi ini akhirnya mendapat perhatian langsung dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi Dr. Alexander Sabar mengatakan pihaknya telah memanggil perwakilan Meta untuk meminta penjelasan mengenai persoalan tersebut.

Langkah itu diambil setelah surat resmi yang sebelumnya dikirim Komdigi tidak mendapat respons hingga batas waktu yang diharapkan.

Baca Juga: Tujuh Kampus Indonesia Naik di QS WUR 2027, Universitas Brawijaya Melonjak 64 Posisi

"Surat kami tertanggal 14 Agustus, dan kemudian seharusnya direspons di hari Jumat. Namun karena sampai jam kerja selesai tidak ada respons dari Meta, sehingga kami memanggil Meta untuk bisa hadir secara fisik di tempat kami, di kantor ini, untuk memberikan penjelasan langsung kepada pemerintah," ujar Alex.

Pemanggilan tersebut akhirnya menghasilkan penjelasan dari pihak Meta mengenai penyebab banyaknya akun WhatsApp yang ikut terdampak.

Bukan Serangan Khusus ke Indonesia

Kepala Kebijakan Facebook & Messaging Meta Asia Pasifik Esther Samboh menjelaskan bahwa penonaktifan akun dalam jumlah besar terjadi karena sistem internal WhatsApp mengalami kesalahan ketika mendeteksi akun yang dianggap melanggar ketentuan layanan.

Baca Juga: Aktivasi Bandara Husein Jadi Momentum Branding dan Penguatan Pariwisata Kota Bandung

"Dalam melakukan proses penangkapan akun-akun yang tidak baik ini, kemudian sistem kami melakukan kesalahan dalam melakukan penangkapan akun-akun yang tidak baik ini. Namun secara cepat sistem dan mitigasi sudah dilakukan untuk mengembalikan akun-akun yang kami melakukan kesalahan dalam memblokir akun-akun ini," jelas Esther.

Menurut Esther, masalah tersebut bukan tindakan yang secara khusus menyasar pengguna di Indonesia.

Ia mengatakan gangguan terjadi secara global setelah adanya pembaruan sistem untuk mendeteksi pelanggaran.

"Hal ini terjadi secara global. Jadi bukan, tidak ada upaya secara terkoordinasi untuk Indonesia. Ini memang kesalahan sistem yang terjadi secara global dan tidak ada upaya untuk menarget Indonesia di sini," katanya.

Baca Juga: Dapodik PAUD Wajib Sinkron Sebelum 31 Agustus 2026, Terlambat Bisa Kehilangan Dana BOSP 2027

WhatsApp kemudian melakukan langkah mitigasi untuk memulihkan akun yang dinonaktifkan akibat kesalahan deteksi tersebut.

Masih Kena Suspend? Ada Jalur Banding

Bagi pengguna yang sampai sekarang belum mendapatkan kembali akses akunnya, Meta menyebut tersedia mekanisme pengajuan banding langsung melalui aplikasi WhatsApp.

"Pengguna yang masih sampai saat ini terdampak, bisa langsung melakukan banding di dalam aplikasi dan juga proses tersebut akan ditinjau oleh WhatsApp dalam kurang dari 24 jam. Itu komitmen dari kami," ungkap Esther.

Artinya, pengguna yang merasa akunnya terkena suspend secara keliru tidak perlu langsung panik.

Pengajuan banding dapat dilakukan melalui aplikasi untuk kemudian diperiksa kembali oleh WhatsApp.

Baca Juga: Aksi Kamisan ke-121 di Medan Desak Pemerintah Serius Tangani Karhutla, Soroti MBG dan Ingatkan Tuntutan 17+8

Komdigi Tak Tahu soal Akun Pimpinan Partai

Dalam kesempatan tersebut, Alex juga ditanya mengenai kabar akun WhatsApp salah satu pimpinan Partai Demokrat di DPR yang mengaku akunnya diretas atau mengalami pemblokiran.

Namun, Komdigi mengaku tidak mempunyai informasi spesifik terkait kasus tersebut.

"Nah itu dalam posisi kami di regulator tidak mengetahui hal itu,” kata Alex.

Alex menyerahkan persoalan tersebut kepada pihak Meta sebagai penyedia layanan WhatsApp.

Ia juga menegaskan bahwa pertemuan Komdigi dengan Meta tidak berkaitan dengan rencana aksi demonstrasi yang akan berlangsung keesokan harinya.

Pembahasan pertemuan difokuskan pada persoalan penonaktifan akun WhatsApp secara massal.

Baca Juga: Tak Gunakan Fasilitas Pemkab, Kantor Baru PSI Jember Segera Dibuka, Jadi Kanal Pengaduan Masyarakat

Pengguna Media Sosial Diminta Bertanggung Jawab

Meski pertemuan dengan Meta tidak membahas persiapan demonstrasi, Alex tetap menyampaikan pesan kepada masyarakat yang akan menggunakan media sosial menjelang aksi.

Dia meminta pengguna ruang digital tetap berhati-hati dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi.

"Imbauan besok ya kami tentunya berharap mereka atau masyarakat yang menggunakan media sosial dapat menggunakan media sosial dengan baik, bertanggung jawab. Tidak melakukan ujaran kebencian ataupun memprovokasi," tuturnya.

"Itu sih yang kita harapkan sehingga besok kegiatan yang akan diadakan itu bisa berjalan dengan baik tidak hanya di ruang fisik tetapi juga di ruang digital kita," pungkas Alex. ***