POJOKSATU.id — Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla menjadi persoalan lingkungan yang kerap kembali terjadi di Indonesia, terutama saat memasuki musim kemarau.
Fenomena El Niño sering dikaitkan dengan meningkatnya risiko karhutla karena dapat membuat sejumlah wilayah mengalami kondisi yang lebih kering.
Namun, kebakaran hutan dan lahan tidak selalu terjadi akibat fenomena tersebut.
Ada berbagai faktor lain yang dapat membuat kawasan hutan dan lahan lebih rentan terbakar.
Baca Juga: Rumah Terasa Gerah Saat Kemarau? Ini Cara Membuat Ruangan Lebih Sejuk Tanpa AC
Kondisi cuaca, karakteristik lingkungan, hingga aktivitas manusia dapat saling berkaitan dan meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah pembukaan lahan dengan menggunakan metode pembakaran.
Api terkadang digunakan untuk membersihkan atau membuka lahan, tetapi dapat menyebar ke wilayah lain apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Risiko tersebut semakin besar ketika kondisi vegetasi di sekitar lahan sedang kering.
Baca Juga: Belajar Makeup untuk Pemula, Mulai dari Mana? Ini Urutan yang Mudah Diikuti
Selain pembukaan lahan, kelalaian manusia juga dapat menjadi pemicu kebakaran.
Api yang berasal dari aktivitas masyarakat dapat berkembang ketika berada di lingkungan yang dipenuhi rumput, daun, ranting, semak, atau bahan organik lain yang mudah terbakar.
Karakteristik lahan juga memiliki pengaruh besar terhadap risiko karhutla.
Salah satunya adalah lahan gambut yang sangat rentan terbakar ketika kandungan airnya menurun.
Gambut yang mengering dapat membuat api lebih mudah menyebar dan proses pemadamannya menjadi lebih sulit.
Oleh karena itu, pengelolaan tata air di kawasan gambut menjadi bagian penting dalam pencegahan kebakaran.
Baca Juga: PKL Ditertibkan, Jalan M Yamin Bekasi Kembali Dibuka untuk Publik
Musim kemarau dengan curah hujan yang rendah juga dapat meningkatkan risiko karhutla meskipun tidak disertai El Niño.
Ketika hujan jarang turun dalam waktu tertentu, vegetasi dan bahan organik di permukaan tanah akan kehilangan banyak kandungan air.
Kondisi tersebut membuat material yang sebelumnya relatif sulit terbakar menjadi lebih mudah menyala.
Apabila terdapat sumber api, kebakaran dapat berkembang dengan cepat, terutama di wilayah yang memiliki banyak vegetasi kering.
Suhu udara yang tinggi dan tingkat kelembapan yang rendah turut memperburuk kondisi lingkungan.
Baca Juga: Ojol Turun ke Jalan di Flyover Gatot Subroto: 'Kami Bukan dari Pati, tapi Bersatu untuk Masyarakat'
Suhu panas dapat mempercepat pengeringan tanaman dan bahan organik, sedangkan kelembapan rendah membuat lingkungan menjadi semakin kering.
Angin juga dapat memengaruhi perkembangan kebakaran.
Meski bukan selalu menjadi sumber awal munculnya api, angin dapat membantu proses penyebaran api ke area yang lebih luas.
Api yang semula berada di wilayah terbatas dapat berkembang ketika tertiup angin dan menemukan vegetasi kering di sekitarnya.
Baca Juga: Sejarah Pohon Dewandaru di Gunung Kawi, Dipercaya Berasal dari Tongkat Eyang Djoego
Banyaknya bahan bakar alami di permukaan lahan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Rumput, alang-alang, daun kering, ranting, dan semak yang kehilangan banyak kandungan air dapat menjadi bahan yang mudah terbakar.
Semakin banyak material kering yang tersedia, semakin besar pula peluang kebakaran menyebar apabila sumber api muncul.
Oleh sebab itu, kondisi vegetasi menjadi salah satu aspek yang penting dalam pemantauan potensi karhutla.
Aktivitas pertanian juga dapat berkaitan dengan risiko kebakaran, terutama apabila api digunakan dalam proses pengelolaan lahan.
Baca Juga: Compaq Bangkit Lagi Lewat QTab Ultra 12.6, Tablet Android dengan RAM 12 GB
Api yang tidak dikendalikan dengan baik dapat merambat keluar dari area yang sebelumnya ditentukan.
Risiko penyebaran semakin tinggi apabila kegiatan tersebut dilakukan ketika lahan sedang kering dan kondisi angin mendukung.
Oleh karena itu, penggunaan api di kawasan pertanian perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan potensi penyebarannya.
Selain El Niño, fenomena iklim lain seperti Indian Ocean Dipole atau IOD juga dapat memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia.
Ketika IOD berada dalam fase positif, sejumlah wilayah Indonesia dapat mengalami kondisi yang lebih kering pada periode tertentu.
Baca Juga: Mengapa Arab Saudi Tidak Merayakan Maulid Nabi? Ini Alasan dan Pandangannya
Meski demikian, fenomena iklim tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab munculnya api.
Kondisi kering lebih tepat dipandang sebagai faktor yang meningkatkan kerentanan suatu wilayah terhadap kebakaran ketika terdapat sumber api dan bahan yang mudah terbakar.
Dengan demikian, karhutla merupakan persoalan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Cuaca panas dan kering dapat membuat lahan lebih mudah terbakar, sedangkan aktivitas manusia dapat menjadi salah satu sumber munculnya api.
Pencegahan karhutla karena itu tidak cukup hanya dengan memantau fenomena El Nino.
Pengawasan terhadap pembukaan lahan, perlindungan kawasan gambut, pengelolaan tata air, pencegahan penggunaan api secara sembarangan, serta pemantauan kondisi cuaca juga diperlukan untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.***




