POJOKSATU.id — Pohon Dewandaru yang berada di kawasan Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi dan cerita masyarakat setempat.
Pohon tersebut berada di sekitar kompleks makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono yang selama bertahun-tahun menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah.
Keberadaan pohon Dewandaru semakin menarik perhatian karena terdapat cerita turun-temurun yang mengaitkannya dengan Eyang Djoego.
Baca Juga: Compaq Bangkit Lagi Lewat QTab Ultra 12.6, Tablet Android dengan RAM 12 GB
Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, pohon Dewandaru dipercaya berasal dari tongkat milik Eyang Djoego atau Kiai Zakaria II yang ditancapkan ke tanah.
Tongkat tersebut kemudian dipercaya tumbuh menjadi sebuah pohon yang hingga kini dikenal sebagai Dewandaru.
Cerita tersebut merupakan bagian dari legenda dan kepercayaan masyarakat yang berkembang di kawasan Gunung Kawi sehingga tidak dapat disamakan dengan fakta sejarah maupun pembuktian ilmiah.
Pohon Dewandaru juga memiliki kaitan erat dengan kisah kehidupan Eyang Djoego.
Baca Juga: Mengapa Arab Saudi Tidak Merayakan Maulid Nabi? Ini Alasan dan Pandangannya
Dalam cerita yang berkembang di lingkungan Pesarean Gunung Kawi, Eyang Djoego disebut sering berada di bawah pohon tersebut.
Daun Dewandaru juga dipercaya pernah digunakan Eyang Djoego ketika membantu masyarakat yang datang meminta pertolongan.
Daun tersebut kemudian dimasukkan ke dalam air yang diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Baca Juga: Telur Ayam, Bebek, atau Puyuh, Mana yang Lebih Sehat? Ini Perbandingan Gizinya
Eyang Djoego sendiri merupakan tokoh yang memiliki kaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Setelah berakhirnya Perang Jawa, Eyang Djoego kemudian melanjutkan perjalanan dakwah hingga akhirnya menetap di wilayah Blitar bersama Raden Mas Iman Soedjono.
Eyang Djoego wafat pada 22 Januari 1871 dan kemudian dimakamkan di lereng Gunung Kawi sesuai dengan wasiatnya.
Dipercaya Membawa Keberuntungan
Seiring berkembangnya tradisi ziarah di Gunung Kawi, muncul berbagai kepercayaan mengenai pohon Dewandaru.
Baca Juga: Bantuan Logistik untuk Massa Demo DPR Kembali Tertahan, Boleh Masuk tapi Harus Jalan Kaki
Sebagian masyarakat meyakini daun, buah, atau bagian tertentu dari pohon Dewandaru yang jatuh secara alami dapat menjadi simbol keberuntungan.
Karena kepercayaan tersebut, sejumlah peziarah terkadang menunggu bagian pohon yang jatuh dengan harapan memperoleh keberuntungan.
Dewandaru bahkan dikenal dalam cerita masyarakat sebagai pohon kesabaran.
Sebutan tersebut berkaitan dengan kepercayaan bahwa seseorang harus menunggu dengan sabar jika ingin mendapatkan daun atau buah yang jatuh secara alami dari pohon tersebut.
Baca Juga: Komaruddin Nursi Kasman Angkat Sejarah Tobelo-Galela di Forum Internasional Filipina
Meski demikian, kepercayaan mengenai keberuntungan dari pohon Dewandaru merupakan bagian dari mitos dan tradisi masyarakat.
Tidak terdapat bukti ilmiah bahwa daun atau buah pohon tersebut dapat mendatangkan kekayaan maupun keberuntungan kepada seseorang.
Keberadaan pohon Dewandaru di kawasan Pesarean Gunung Kawi juga mendapat perhatian dari pengelola.
Pohon tersebut kemudian diberi pagar untuk menjaga kelestariannya dan mencegah pengunjung melakukan tindakan yang dapat merusak pohon.
Baca Juga: Water Cannon Polisi Disiagakan di Gatot Subroto Jelang Demo Besar 27 Agustus di DPR
Sebelumnya, terdapat pengunjung yang menggoyangkan pohon dengan harapan mendapatkan daun yang jatuh.
Padahal, tindakan tersebut dapat mengganggu kondisi pohon sekaligus mengurangi kesakralan dan nilai budaya yang melekat pada kawasan tersebut.
Hingga kini, pohon Dewandaru tetap menjadi salah satu bagian menarik dari kawasan Pesarean Gunung Kawi.
Keistimewaannya tidak hanya berasal dari pohonnya, tetapi juga dari cerita sejarah, legenda, tradisi ziarah, serta kepercayaan masyarakat yang telah berkembang secara turun-temurun.
Bagi pengunjung, kisah Dewandaru dapat menjadi gambaran mengenai bagaimana sebuah pohon dapat memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat dalam kehidupan masyarakat di suatu daerah.***

