POJOKSATU.ID - Penerbitan status Peringatan Tsunami pascagempa M 7,7 di Flores hari ini sempat memicu kekhawatiran akan potensi gelombang tinggi hingga 3 meter.
Prediksi awal BMKG menempatkan sejumlah kawasan pesisir utara Nusa Tenggara Timur serta Sulawesi Selatan dalam zona siaga.
Pemodelan awal menunjukkan gelombang berada pada rentang 0,5 meter hingga 3 meter yang berpotensi menyapu garis pantai.
Namun hasil pengamatan riil melalui alat tsunami gauge menunjukkan fenomena kenaikan air yang relatif lebih rendah dari batas maksimum.
Baca Juga: Mengenal Kategori Ancaman Tsunami BMKG yang Sempat Melingkupi Pesisir NTT dan Sulsel
Catatan tertinggi di stasiun pemantau Maurole merekam kenaikan muka air laut sebesar 0,94 meter dari kondisi normal.
Angka tersebut masuk dalam rentang prediksi status Siaga meski berada pada batas bawah perkiraan awal.
Sementara itu di wilayah pesisir lainnya seperti Bulukumba dan Labuan Bajo, fluktuasi air tercatat di kisaran 0,2 hingga 0,5 meter.
Kesenjangan antara prediksi maksimum dan realisasi lapangan merupakan hal yang wajar dalam dinamika gelombang tsunami tektonik.
Topografi dasar laut serta bentuk garis pantai sangat memengaruhi pembentukan tinggi gelombang saat mendekati daratan.
Walau ketinggian kasat mata di sebagian besar wilayah tergolong tipis, deteksi instrumen membenarkan adanya pergerakan massa air.
Keberadaan stasiun pemantau maritim sangat membantu dalam mengonfirmasi kondisi nyata air laut secara presisi.
Data observasi ini menjadi pertimbangan utama BMKG sebelum akhirnya resmi mencabut status peringatan dini tsunami.
Pengakhiran status dilakukan setelah dipastikan tidak ada lonjakan gelombang susulan yang berpotensi membahayakan warga.***




