POJOKSATU.id - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus mempercepat pengembangan wisata kesehatan (health tourism) di Indonesia.

Salah satu langkah strategis yang kini dilakukan adalah berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan serta berbagai pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem layanan kesehatan yang terintegrasi dan berdaya saing.

Upaya tersebut dibahas dalam penyusunan strategi pengembangan wisata kesehatan yang digelar di Jakarta pada 2 Juli 2026.

Baca Juga: Sudaryono Menggebrak BGN, 37 Tenaga Ahli dan 224 Pegawai Dipecat, Bakal Nambah 9 ASN Lagi

Sebagai tahap awal, pemerintah menetapkan 18 rumah sakit sebagai proyek percontohan yang akan menjadi bagian dari penguatan layanan wisata kesehatan nasional.

Rumah sakit tersebut nantinya akan dimasukkan ke dalam Katalog Wisata Kesehatan Indonesia yang ditargetkan terbit pada Oktober 2026.

Sebanyak 18 Rumah Sakit Masuk Proyek Percontohan

Dari total rumah sakit yang dipilih, sebanyak 15 rumah sakit berada di wilayah Jabodetabek dan 3 rumah sakit berada di Bali.

Baca Juga: Lupa PIN Kredivo, Apakah Tetap Bisa Mengajukan Penutupan Akun?

Beberapa rumah sakit yang masuk dalam proyek percontohan tersebut antara lain RS Pondok Indah, Hermina Kemayoran, Mayapada Lebak Bulus, Siloam Semanggi, RS Pondok Indah Bintaro, Siloam Karawaci, serta BIMC Nusa Dua di Bali.

Setiap rumah sakit akan menjalani proses pemetaan secara menyeluruh.

Tahapan tersebut meliputi penyusunan profil layanan unggulan hingga penghitungan estimasi paket wisata kesehatan yang dapat ditawarkan kepada masyarakat maupun wisatawan.

Baca Juga: KKP Lebur 11 Politeknik Jadi Ocean Institute of Indonesia demi Dorong Ekonomi Biru

Bangun Ekosistem Wisata Kesehatan yang Terintegrasi
Pengembangan wisata kesehatan tidak hanya berfokus pada pelayanan medis di rumah sakit.

Pemerintah juga menyiapkan ekosistem pendukung agar pengalaman pasien menjadi lebih nyaman dan terintegrasi, mulai dari layanan perhotelan, biro dan agen perjalanan, transportasi ramah pasien, hingga dukungan dari perusahaan asuransi.

Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, diharapkan wisata kesehatan Indonesia mampu memberikan layanan yang lebih lengkap sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat regional maupun global.

Baca Juga: Menpar Widiyanti Apresiasi Desa Wisata Kemiren Banyuwangi, Budaya Osing Jadi Kekuatan Pariwisata Berkelanjutan

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani, menegaskan bahwa pembangunan ekosistem menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor ini.

"Tahapan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem wisata kesehatan yang terintegrasi melalui kolaborasi antara fasilitas pelayanan kesehatan, pelaku usaha pariwisata, dan berbagai pemangku kepentingan terkait," ungkapnya.

Targetkan Indonesia Jadi Destinasi Health Tourism

Baca Juga: Paguyuban Vario Jawa Barat Rayakan HUT ke-17, Perkuat Soliditas Lewat Tema 'Kukuh Pangkuh Ngajadi Sadudulur'

Kehadiran katalog wisata kesehatan diharapkan menjadi acuan bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin memperoleh layanan kesehatan berkualitas di Indonesia.

Selain meningkatkan kualitas pelayanan medis, langkah ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata sekaligus memperkuat ekonomi melalui kolaborasi antara industri kesehatan dan industri pariwisata.

Dengan dukungan berbagai pihak, Indonesia diharapkan semakin siap menjadi destinasi wisata kesehatan yang mampu bersaing dengan negara lain serta memberikan pengalaman layanan yang aman, nyaman, dan berkualitas

Baca Juga: Kemenpar Perluas Pilihan Open Trip, Paket Wisata Domestik Makin Variatif dan Mudahkan Liburan

Wisata kesehatan bukan sekadar menghadirkan layanan medis yang baik, tetapi juga membangun kepercayaan melalui pelayanan yang terintegrasi.

Ketika sektor kesehatan dan pariwisata berjalan beriringan, Indonesia memiliki peluang besar menjadi tujuan kesehatan yang membanggakan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat luas.***