POJOKSATU.id — Sejarah Korea mencatat banyak kisah tragis di balik perebutan takhta kerajaan, salah satunya adalah nasib pilu Raja Danjong dari Dinasti Joseon.
Ia menjadi salah satu raja termuda dalam sejarah Korea yang harus kehilangan takhta setelah dikudeta oleh pamannya sendiri.
Sebuah peristiwa yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu tragedi politik paling menyedihkan dalam sejarah Korea.
Kisah Raja Danjong menjadi salah satu tragedi paling menyedihkan dalam sejarah Korea.
Baca Juga: Momen Terakhir Pratu Ferischal dengan Ayah Satu Hari Sebelum Kejadian, Unggah Status Mau Sholat
Ia dikenal sebagai raja muda dari Dinasti Joseon yang harus kehilangan mahkota akibat ambisi politik pamannya sendiri.
Nasib tragisnya bahkan kerap dibandingkan dengan tokoh kerajaan lain di dunia yang menjadi korban perebutan kekuasaan keluarga.
Danjong of Joseon lahir pada 1441 dengan nama Yi Hong-wi.
Ia merupakan putra dari Putra Mahkota Munjong dan cucu Raja Sejong Agung, sosok legendaris yang dikenal sebagai pencipta alfabet Hangul di Korea.
Baca Juga: Kisah Lady Jane Grey, Remaja yang Jadi Ratu Inggris lalu Dieksekusi di Usia Muda
Setelah ayahnya wafat, Danjong naik takhta pada usia sekitar 12 tahun pada 1452.
Karena masih sangat muda, pemerintahan kerajaan pada masa awal kekuasaannya banyak dibantu pejabat senior istana.
Namun, situasi politik kerajaan saat itu tidak stabil. Sejumlah bangsawan dan anggota keluarga kerajaan mulai memperebutkan pengaruh di balik layar.
Di tengah kondisi tersebut, pamannya sendiri, Sejo of Joseon atau Pangeran Suyang, mulai memperkuat kekuasaan politiknya.
Baca Juga: TMMD 128 Kodim Cilegon Gandeng BNN Edukasi Bahaya Narkoba ke Pelajar SMPN 6 Cilegon
Ia menilai kerajaan membutuhkan pemimpin yang lebih kuat dan berpengalaman.
Pada 1453, Suyang melakukan perebutan kekuasaan melalui kudeta politik yang dikenal sebagai insiden Gye Yu Jeong Nan.
Kudeta itu membuat banyak pejabat pendukung Raja Danjong tersingkir. Beberapa bahkan dihukum mati.
Tekanan politik terhadap Danjong semakin besar hingga akhirnya pada 1455, ia dipaksa turun takhta dan menyerahkan kekuasaan kepada pamannya.
Suyang kemudian naik takhta dengan gelar Raja Sejo.
Baca Juga: Sinopsis Film Children of Heaven 2026, Adaptasi Film Iran yang Kini Berlatar Indonesia
Meski sudah tidak lagi menjadi raja, Danjong tetap dianggap ancaman politik oleh pihak istana.
Ia diasingkan ke wilayah pegunungan di Yeongwol, Provinsi Gangwon.
Tidak lama kemudian, muncul upaya dari loyalis kerajaan yang ingin mengembalikannya ke takhta. Namun rencana tersebut gagal.
Akibatnya, status Danjong diturunkan menjadi rakyat biasa dan pada 1457, ia meninggal dunia di usia sangat muda.
Baca Juga: Sinopsis Film Children of Heaven 2026, Adaptasi Film Iran yang Kini Berlatar Indonesia
Banyak catatan sejarah menyebut kematiannya berkaitan dengan perintah istana, meski detail pastinya masih menjadi bahan perdebatan para sejarawan.
Tragedi Raja Danjong meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Korea. Seiring berjalannya waktu, reputasinya dipulihkan oleh generasi berikutnya.
Ia kembali diakui sebagai raja sah Dinasti Joseon dan makamnya kini menjadi salah satu situs sejarah penting di Korea Selatan.
Kisah Raja Danjong sering dianggap sebagai simbol pengkhianatan politik keluarga sekaligus potret pahit perebutan kekuasaan di lingkungan kerajaan.***




