POJOKSATU.id — Film legendaris asal Iran Children of Heaven akhirnya hadir dalam versi Indonesia.
Film yang sempat mencuri perhatian dunia dan masuk nominasi Oscar pada akhir 1990-an ini kini diadaptasi ulang oleh sutradara Indonesia, Hanung Bramantyo, dengan sentuhan budaya lokal yang lebih dekat dengan penonton Tanah Air.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Mei 2026.
Baca Juga: AI Makin Menggeser Pekerjaan Manusia, Skill Apa yang Sulit Tergantikan? Ini Daftarnya
Versi Indonesia Children of Heaven masih mempertahankan inti cerita dari film aslinya karya sineas Iran, Majid Majidi.
Kisahnya berpusat pada dua saudara kandung, Ali dan Zahra, yang hidup dalam kondisi ekonomi serba terbatas bersama keluarga sederhana di kawasan pinggir kali Semarang pada tahun 1988.
Masalah mulai muncul ketika Ali tanpa sengaja kehilangan sepatu sekolah milik Zahra.
Baca Juga: 'Scoopy Your Mode, Your Ride' Hadirkan City Rolling Unik dan Nuansa Retro Fashionable di Bandung
Di tengah kondisi keluarga yang sedang kesulitan ekonomi, keduanya memilih untuk tidak memberi tahu orang tua mereka karena takut menambah beban.
Dari situlah perjuangan kecil namun penuh makna dimulai.
Karena tidak memiliki uang untuk membeli sepatu baru, Ali dan Zahra akhirnya harus berbagi satu pasang sepatu untuk pergi ke sekolah.
Baca Juga: Oxford Buka Beasiswa Full Funded 2026, Gratis Biaya Kuliah hingga Tunjangan Besar
Zahra memakai sepatu itu pada pagi hari, sementara Ali harus menunggu giliran dan berlari cepat agar tidak terlambat masuk sekolah.
Situasi sederhana ini menghadirkan berbagai tantangan sekaligus momen emosional yang menyentuh.
Dalam usahanya membantu sang adik, Ali kemudian melihat kesempatan melalui sebuah lomba lari di sekolah.
Ia berharap bisa memenangkan hadiah yang dapat digunakan untuk mendapatkan sepatu baru bagi Zahra.
Baca Juga: Kemdiktisaintek Tegaskan Prodi Teknik TIDAK WAJIB Diubah Jadi Rekayasa
Dari sinilah cerita berkembang menjadi kisah tentang pengorbanan, kasih sayang saudara, serta perjuangan anak-anak menghadapi keterbatasan dengan penuh ketulusan.
Meski tetap setia pada versi asli, Hanung Bramantyo menghadirkan beberapa penyesuaian agar terasa lebih dekat dengan penonton Indonesia.
Salah satunya dengan menambahkan unsur humor ringan tanpa menghilangkan sisi emosional yang menjadi kekuatan utama film ini.***


