POJOKSATU.id - Harga emas dan perak diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada pekan ini. Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian global yang belum juga mereda.
Berdasarkan data terbaru, harga emas pada Senin, 4 Mei 2026 pagi berada di level US$ 4.613,18 per troy ons atau turun tipis 0,01%.
Bahkan pada penutupan pekan lalu, emas melemah 0,17% dan secara mingguan terkoreksi hingga 2,02%.
Baca Juga: SMAN 5 Karawang Gelar Perpisahan Sederhana di Sekolah, Siswa Pakai Seragam Putih Hitam
Pergerakan harga emas dalam beberapa hari ke depan diperkirakan sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan kondisi makroekonomi.
Salah satu sorotan utama adalah perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memengaruhi pasar global.
"Fokus pekan depan akan tetap pada perkembangan pembicaraan damai antara AS dan Iran, serta dampaknya terhadap minyak, emas, dan pasar keuangan secara luas," ujar Pranav Mer dari JM Financial Services.
Baca Juga: Temui Mentri Kebudayaan, DPRD Jabar Dorong Sinkronisasi Kebijakan Budaya dengan Pusat
Meski begitu, proyeksi harga emas pekan ini masih terbilang beragam.
Survei menunjukkan sebagian analis optimistis harga akan naik, namun tak sedikit yang memprediksi penurunan atau pergerakan datar.
Dari 16 analis Wall Street yang disurvei, sebanyak 50% memperkirakan harga emas akan naik.
Sementara 31% memprediksi penurunan, dan sisanya melihat pergerakan stagnan.
Pandangan serupa juga datang dari investor individu. Sekitar 46% responden optimistis harga emas akan naik, namun 30% memperkirakan turun dan 24% lainnya melihat pergerakan terbatas.
Di sisi lain, analis pasar Marc Chandler mengingatkan adanya potensi koreksi jangka pendek.
Menurutnya, emas berpeluang menguji level US$4.495 per ons, bahkan bisa turun ke kisaran US$4.400 jika tekanan berlanjut.
Baca Juga: Bandung Zoo Terancam Kehabisan Pakan, Farhan Kejar Izin Khusus agar Satwa Tak Direlokasi
Tekanan juga datang dari kebijakan moneter global. Adam Button menilai sikap bank sentral yang cenderung “hawkish” membuat peluang kenaikan emas semakin terbatas.
Hal ini karena meningkatnya suku bunga membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik.
Sementara itu, harga perak menunjukkan pergerakan yang berbeda. Pada Senin pagi, harga perak berada di level US$75,72 per troy ons atau naik 0,51%.
Baca Juga: Bandung Zoo Terancam Kehabisan Pakan, Farhan Kejar Izin Khusus agar Satwa Tak Direlokasi
Namun secara mingguan, logam ini masih mencatat pelemahan.
Meski sempat menguat, prospek perak dalam jangka pendek dinilai belum terlalu menjanjikan.
UBS memperkirakan harga perak akan bergerak di kisaran US$85 per ons dalam 12 bulan ke depan, dengan potensi naik mendekati US$100 sebelum kembali turun.
Menariknya, volatilitas perak saat ini terbilang sangat tinggi.
Dalam jangka pendek, tingkat volatilitasnya bahkan bisa mencapai 100%, menjadikannya lebih spekulatif dibandingkan emas.
Faktor geopolitik seperti konflik AS-Iran memang sempat mendorong kenaikan harga perak.
Namun, efeknya cenderung hanya sementara dan belum cukup kuat untuk menopang tren jangka panjang.
Baca Juga: Kecelakaan KA di Bekasi Timur Masih Diusut Polisi, 4 Orang Saksi Masih Diperiksa Polda Metro
Di tengah dinamika global yang tak menentu, pergerakan emas dan perak seolah jadi cerminan kegelisahan pasar.***
Bagi investor, ini bukan sekadar soal angka, tapi tentang membaca arah dan bersabar menunggu waktu yang tepat.***




