POJOKSATU.id - Penelitian terbaru NASA mengungkap ancaman serius kenaikan permukaan air laut yang diprediksi terjadi hingga tahun 2100.
Dampaknya nggak main-main, setidaknya 10 kota besar di dunia disebut berisiko tenggelam, termasuk Jakarta.
Kenaikan air laut itu diperkirakan mencapai 3 hingga 6 kaki atau sekitar 91,4 cm hingga 182,88 cm.
Penyebab utamanya adalah perubahan iklim yang memicu mencairnya es di wilayah kutub.
Baca Juga: Aturan Baru Restitusi Pajak 2026: WTP Saja Tak Cukup, Kini Harus 'Bersih' Tanpa Catatan
Tanda-tanda ancaman ini sebenarnya sudah mulai terasa.
Fenomena banjir yang makin sering terjadi di sejumlah wilayah Jabodetabek dan Pulau Jawa dalam beberapa tahun terakhir jadi salah satu sinyal nyata yang nggak bisa diabaikan.
Dalam laporan Sciencing disebutkan, "Jakarta diketahui merupakan salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia. Masalah ini kian ekstrem, hingga pemerintah Indonesia memilih memindahkan ibu kota [ke IKN],".
Pernyataan ini menegaskan betapa seriusnya kondisi yang dihadapi ibu kota saat ini.
Lebih lanjut, laporan tersebut juga mengungkap bahwa Jakarta mengalami penurunan tanah dengan kenaikan air mencapai 17 cm per tahun.
Secara geografis, Jakarta memang berada di dataran rendah yang dulunya merupakan wilayah rawa, sehingga makin rentan terhadap banjir.
Sciencing juga menyinggung keputusan pemindahan ibu kota ke IKN pada 2022.
Risiko banjir yang terus meningkat, ditambah persoalan polusi dan infrastruktur yang tersumbat, menjadi alasan kuat di balik langkah tersebut.
Baca Juga: Kronologi Pembunuhan Dumaris Sitio, Arnold Gagal Dibunuh Padahal Sudah Dibawa Jalan ke Minas Siak
"Ibu kota baru yang dinamai IKN diprediksi akan rampung sepenuhnya pada 2045. Pada saat itu, IKN kemungkinan menjadi pelarian dari Jakarta yang tenggelam," tulis laporan tersebut.
Selain Jakarta, sejumlah kota besar lain di dunia juga menghadapi ancaman serupa.
Di Alexandria, Mesir, sekitar 30 persen wilayah diperkirakan bisa terendam pada 2050, memaksa hingga 1,5 juta orang mengungsi.
Baca Juga: Tiga Tahun Dendam Berkarat Anisa pada Keluarga Dumaris, Dulu Nikahi Anaknya yang Berkebutuhan Khusus
Kota bersejarah ini bahkan terancam kehilangan sebagian wilayah Delta Nil akibat banjir.
Di Miami, Amerika Serikat, lebih dari setengah wilayahnya berada hanya beberapa kaki di atas permukaan laut.
Bahkan sekitar 60 persen wilayah diprediksi berisiko tenggelam pada 2060. Kondisi ini diperparah dengan pembangunan masif di kawasan pesisir.
Baca Juga: Profil Arrofi Ramadhan, TikToker yang Menikah dengan Konsep Sunflower Wedding di Atas Danau
Sementara itu, Lagos di Nigeria terus mengalami banjir musiman dengan tingkat penurunan tanah lebih dari 3 inci per tahun.
Dhaka di Bangladesh juga tak kalah mengkhawatirkan, dengan laju penurunan sekitar setengah inci per tahun dan peningkatan frekuensi banjir yang terus terjadi.
Yangon di Myanmar menghadapi ancaman tambahan dari faktor geologi karena dekat dengan Sesar Sagaing. Risiko gempa besar bisa mempercepat tenggelamnya wilayah tersebut.
Baca Juga: Profil Arrofi Ramadhan, TikToker yang Menikah dengan Konsep Sunflower Wedding di Atas Danau
Bangkok, Thailand, juga perlahan kehilangan daratan.
Garis pantainya terus bergeser hingga lebih dari 1 kilometer per tahun, dan sebagian besar wilayahnya diperkirakan bisa hilang dalam satu abad mendatang.
Di India, Kolkata menghadapi ancaman dari kenaikan air laut dan eksploitasi air tanah berlebihan.
Lebih dari 10 juta orang berpotensi terdampak jika kondisi ini terus berlanjut.
Baca Juga: Terungkap! Pelaku Pembunuhan Lansia di Rumbai Pekanbaru Sempat Rencanakan Habisi Satu Keluarga
Manila di Filipina bahkan tercatat tenggelam sekitar 4 inci per tahun, lebih cepat dibanding rata-rata kenaikan air laut global.
Kerusakan hutan mangrove yang mencapai 130 ribu hektare sejak abad ke-20 memperparah situasi ini.
Sementara itu, kawasan Megalopolis Guangdong-Hong Kong-Makau di China diperkirakan akan mengalami kenaikan air laut hingga 5 kaki dalam 100 tahun ke depan, menjadikannya salah satu wilayah paling rentan di dunia.
Baca Juga: Heboh Awan Pelangi di Bogor, Begini Proses Terbentuknya Menurut BMKG dan Peneliti BRIN
Semua fakta ini menunjukkan bahwa ancaman kenaikan air laut bukan lagi isu masa depan, tapi sudah terjadi di depan mata.
Jika dibiarkan, dampaknya bisa jauh lebih luas dari yang dibayangkan.
Krisis ini bukan sekadar soal kota yang tenggelam, tapi tentang bagaimana manusia menjaga keseimbangan alam.
Sebab kalau bumi terus “lelah”, bukan tak mungkin kita sendiri yang kehabisan tempat untuk pulang.***




