POJOKSATU.id, YOGYAKARTA—Jika boleh memutar waktu, Noorman Windarto, tak akan pernah mau memasukkan anaknya ke penitipan anak, Daycare Little Aresha Sorosutan, Umbulharjo, Jogja.
Kini Norman bersama istrinya harus menanggung derita akibat dua anak yang dia titipkan di Daycare Aresha ternyata diperlakukan tak manusiawi.
Putra keduanya kini tiap bulan harus masuk rumah sakit karena divonis pneumonia.
Sementara anak pertamanya kini masih mengompol disebabkan dampak psikologis ketakutan saat dititip di sana.
Baca Juga: Jejak Trauma Daycare Aresha, Anak Saya Pulang Sekolah Kayak Bengong dan Hilang Ingatan Sementara
"Anak saya yang nomor dua itu setiap bulan masuk rumah sakit, divonis pneumonia sejak bayi. Kami tidak nyangka kalau kondisi di sanalah yang menjadi penyebabnya," ungkap Noorman Windarto, orangtua korban yang menitipkan anaknya di Daycare Little Aresha.
Dia pun menemui Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo terkait kasus ini.
"Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih ya anak yang usia bayi sampai balita itu, wah luar biasa, ternyata nggak manusiawi. Kalau sama Camp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini," katanya lagi.
Baca Juga: Kemenag Bantah Isu Pengambilalihan Kas Masjid yang Dikelola oleh Pemerintah!
Di dalam bangunan dua lantai yang cenderung pengap tanpa dilengkapi Air Conditioner (AC) itu, ia melihat anak-anak diperlakukan layaknya benda mati.
"Anak ditelanjangin, hanya pakai popok, kemudian diikat pakai kain. Tidurnya pun hanya di atas playmat, bukan kasur seperti yang dijanjikan. Ada yang masih berdiri diikat di cagak pintu," ucapnya.
Tiap Bulan Masuk Rumah Sakit
Dampak buruknya sanitasi dan sirkulasi udara di Daycare Little Aresha tersebut diduga telah merusak kesehatan anak keduanya yang dititipkan sejak usia tiga bulan.
Norman menitipkan kedua anaknya sekaligus di tempat ini dalam kurun waktu yang relatif panjang.
"Anak saya yang nomor dua itu setiap bulan masuk rumah sakit, divonis pneumonia sejak bayi. Kami tidak nyangka kalau kondisi di sanalah yang menjadi penyebabnya," tambahnya.
"Kalau untuk yang cewek ini saya lebih masih ke ngompol. Nah, ternyata seiring berjalannya waktu, saya mencoba cari referensi, salah satunya adalah dampak psikologis, karena pernah ketakutan atau melihat sesuatu," lanjut Noorman.
Hingga kini, luka fisik masih membekas di tubuh anak-anaknya, mulai dari lebam di punggung hingga luka di bibir.
Setiap kali ditanya, pihak daycare selalu berkilah dengan jawaban diplomatis bahwa luka tersebut sudah ada sejak dari rumah.
Noorman bercerita, bahwa anaknya selalu menangis histeris setiap kali hendak dimandikan pada hari kerja, seolah teringat akan perlakuan kasar di daycare.
"Saya trauma kalau melihat video itu lagi, pasti menangis. Saya merasa salah, di depan Allah saya merasa tidak amanah menitipkan anak di tempat seperti itu," ucapnya.***



.webp)
