POJOKSATU.ID – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka akhirnya angkat bicara terkait permintaan maaf yang disampaikan Rismon Sianipar dalam polemik tudingan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Melalui pernyataan tertulis yang disampaikan pada Kamis (12/3/2026), Gibran menilai langkah Rismon yang menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf patut dihargai.
Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan kedewasaan dalam kehidupan demokrasi.
Baca Juga: Resolusi PBB Kecam Iran Serang Negara Teluk, Tapi Serangan AS dan Israel ke Iran Tak Ikut Disorot
Putra sulung Jokowi itu juga menyinggung momentum bulan Ramadan yang dinilai sangat tepat untuk memperbaiki hubungan dan memperkuat kembali tali persaudaraan di tengah masyarakat.
“Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan,” ujar Gibran dalam keterangannya.
Ia menambahkan, bulan suci tersebut seharusnya menjadi kesempatan bagi semua pihak untuk menumbuhkan semangat saling menghormati serta mempererat hubungan sosial.
Polemik yang menyeret nama Jokowi sebelumnya sempat ramai diperbincangkan publik setelah Rismon Sianipar melontarkan tudingan terkait keaslian ijazah mantan presiden tersebut.
Pernyataan itu kemudian memicu perdebatan luas di ruang publik, baik di media sosial maupun berbagai forum diskusi.
Namun belakangan, Rismon menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf atas pernyataan yang sempat ia sampaikan kepada publik.
Ia juga menyatakan kesediaannya untuk meninjau kembali berbagai pernyataan yang pernah dilontarkan sebelumnya.
Menanggapi hal tersebut, Gibran menilai sikap terbuka untuk mengakui kekeliruan merupakan hal positif dalam dinamika demokrasi.
Ia juga berharap peristiwa ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Selain itu, Gibran mengajak masyarakat untuk memanfaatkan suasana Ramadan sebagai momentum memperkuat persatuan serta menghindari konflik yang berpotensi memecah belah.
Menurutnya, semangat saling memaafkan dan menghargai perbedaan sangat penting untuk menjaga harmoni di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.***




