POJOKSATU.id – Memanasnya konflik di Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menyoroti lonjakan harga minyak dunia yang kini menembus angka psikologis 100 dolar AS per barel.

Hal itu disampaikan pada podcast Terus Terang dari Youtube Mahfud MD Official.

Baca Juga: Sering Pusing Setelah Olahraga? Ini 6 Penyebab dan Cara Mengatasinya

Kenaikan harga energi ini dipicu oleh eskalasi perang di kawasan Timur Tengah yang mengganggu pasokan minyak global.

Bahkan jalur strategis pengiriman minyak dunia di Selat Hormuz ikut terdampak sehingga pasar energi dunia langsung bereaksi keras. 

Mahfud mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak bisa berdampak langsung terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Baca Juga: Sering Pusing Setelah Olahraga? Ini 6 Penyebab dan Cara Mengatasinya

“Kalau betul harga minyak dunia per barel sudah lebih dari 100 dolar itu sudah sangat mengancam,” ujar Mahfud dikutip Pojoksatu.id dari  Youtube Mahfud MD Official.

Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, Indonesia sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia.

APBN sendiri menetapkan asumsi harga minyak sekitar 70 dolar AS per barel. Ketika harga global melampaui angka tersebut, tekanan terhadap anggaran negara akan meningkat.

Baca Juga: Tol Tentara

Mahfud menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga minyak memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap beban keuangan negara.

“Setiap naik 1 dolar kerugian negara itu pertambahan beban negara 7 triliun,” katanya.

Artinya, jika harga minyak melonjak dari 70 dolar menjadi 100 dolar per barel, potensi tambahan beban terhadap APBN bisa mencapai ratusan triliun rupiah.

Sejumlah analis ekonomi bahkan memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak hingga 100 dolar per barel dapat mendorong defisit anggaran Indonesia.

Hal ini sampai mendekati 4 persen dari produk domestik bruto (PDB), melampaui batas aman 3 persen yang diatur undang-undang. 

Baca Juga: Sering Pusing Setelah Olahraga? Ini 6 Penyebab dan Cara Mengatasinya

Pemerintah sendiri mengakui kenaikan harga minyak global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi.

Selama ini subsidi digunakan untuk menjaga harga BBM dan listrik tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Ini harus betul-betul dipikirkan bagaimana menjaga anggaran negara supaya rakyat tidak ikut terkena dampaknya,” ujarnya.

Baca Juga: HEBOH! Mahfud MD Ungkap Pengalaman 5 Tahun Jadi Menkopolhukam Sebut Tidak Pernah Ada Perintah Siaga 1

Karena itu, Mahfud menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar dampak perang di Timur Tengah tidak memicu tekanan besar terhadap perekonomian nasional.***