POJOKSATU.ID - Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan masih tertahan di perairan Selat Hormuz yang memanas akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah pun bergerak cepat menempuh jalur diplomasi guna memastikan kedua kapal tersebut dapat keluar dengan aman.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan upaya diplomasi terus dilakukan bersama berbagai pihak terkait.

Baca Juga: Kabar Gembira Pemudik! Pemerintah Diskon Tarif Tol 30 Persen, Berlaku 4 Hari di Maret 2026

“Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” ujar Bahlil, Selasa (3/3/2026).

Selat Hormuz menjadi titik krusial jalur distribusi minyak dunia. Ketegangan meningkat setelah Iran menutup kawasan tersebut menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel.

Kapal-kapal yang memaksa melintas disebut berisiko menghadapi ancaman keamanan.

Baca Juga: Masjid Amirul Mukminin Makassar, Masjid Terapung Pertama Indonesia yang Memikat di Pantai Losari

Bahlil mengakui, jika kedua kapal pengangkut minyak mentah (crude) itu tidak dapat keluar dalam waktu dekat, maka berpotensi mengganggu pasokan energi nasional. Namun, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif.

“Kalau pun tidak bisa dikeluarkan, kita sudah cari alternatif sumber crude dari wilayah lain dan sudah dapat. Jadi itu bukan sesuatu yang sangat problem,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah telah mengamankan opsi pembelian minyak mentah dari negara lain yang jalur pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz.

Baca Juga: Kuota 1000 Peserta Dibuka! Program Magang DKI 6 Bulan Khusus Lulusan SMA, Dibiayai APBD

Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah gejolak geopolitik global.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) memastikan kondisi kapal dan awak dalam keadaan aman.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengungkapkan total ada empat kapal Pertamina di sekitar kawasan tersebut, namun dua di antaranya telah berada di luar Selat Hormuz.

“Sampai saat ini kondisi masih aman. Kami berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan pihak-pihak terkait untuk memastikan keselamatan awak dan keamanan aset kami,” kata Baron.

Ia menegaskan keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama perusahaan.

Baca Juga: Langsung Perih! Ini Dampak Makan Pedas Saat Buka Puasa yang Jarang Disadari

Selain itu, pemantauan situasi dilakukan secara intensif untuk mengantisipasi perkembangan yang dapat berdampak pada operasional.

Kawasan Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Gangguan di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia serta memengaruhi stabilitas energi berbagai negara, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Bukan Cuma yang Puasa! War Takjil Ternyata Juga Diburu Warga Non Muslim

Meski demikian, pemerintah menegaskan telah memiliki skenario mitigasi risiko guna menjaga pasokan minyak mentah tetap aman dan stabil di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.***