POJOKSATU.id - Ia bukan anak pejabat. Bukan pula keturunan ningrat atau priyayi. Ia tumbuh di lingkungan sederhana, sebagai anak seorang pensiunan sopir ambulans Djawatan Kesehatan Kota Surabaya.
Sejak kecil, hidup sudah menuntutnya untuk tangguh. Ia membantu ekonomi keluarga dengan menjual air minum di stasiun, menjadi loper koran, hingga menjajakan rokok keliling.
Jalanan menjadi ruang belajarnya tentang disiplin, tanggung jawab, dan arti kerja keras.
Baca Juga: Pesan Terakhir Ayah Sebelum Bocah di Sukabumi Tewas, Kuasa Hukum Ungkap Fakta Mengejutkan di DPR
Di usia 13 tahun, keberanian itu muncul lebih jelas. Ia ingin bergabung dengan Batalyon Poncowati untuk melawan Belanda.
Keinginan itu dianggap terlalu dini. Namun semangatnya tak berhenti. Ia akhirnya diizinkan bergabung dan dipercaya menjadi kurir.
Tapi, tugasnya tidak ringan. Ia mencari informasi di wilayah yang dikuasai tentara Belanda dan mengambil obat-obatan untuk kebutuhan Angkatan Darat Indonesia.
Dari situlah fondasi disiplin dan keberanian itu ditempa, di usia yang bahkan belum genap dewasa.
Anak sopir ambulans yang penuh keberanian itulah yang kelak dikenal sebagai Try Sutrisno.
Pemimpin Sejak Kecil
Try Sutrisno lahir 15 November 1935 dari pasangan Soebandi asal Garut dan Mardiyah asli Surabaya dikenal rendah hati.
Ia pernah menulis, "Saya anak rakyat biasa, bukan ningrat atau priyayi."
"Meski cuma anak sopir, Cak Su tidak lantas mengaku-aku anak orang berpangkat,” cerita Soemantri (saat itu 49 tahun, dikutip dari intisari), adik bungsu Try, yang menyebut kakaknya dengan panggilan Cak Su.
Cak Su, ujar Soemantri, adalah sosok yang berjiwa besar dan selalu siap menerima kenyataan.
Sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, tak ada setetes pun darah militer dalam keluarganya.
Baca Juga: Pria di Karawang Bunuh Pacar Usai Cekcok, Jasad Dibuang ke Saluran Air KJIE
Nilai keprajuritan itu tumbuh dari kedisiplinan ayahnya serta pergaulan dengan tentara di masa kecil.
Teman-temannya semasa remaja punya kesan yang sama ketika melihat perjalanan kariernya hingga duduk sebagai orang nomor dua di republik ini.
“Layak! Pantas! Pas!” Begitu rata-rata komentar mereka.
Sejak di bangku SD hingga SMP, tanda-tanda kepemimpinan itu sudah terlihat. Ide-idenya kerap diterima teman-teman.
Baca Juga: VIRAL Paket Luar Negeri Wanita Ini Rusak Parah, Diduga Usai Pemeriksaan Bea Cukai
Ia sering menjadi komandan upacara, ketua kelas, bahkan semacam ketua umum siswa.
Pernah suatu ketika di kelas III SMP, ia bersama para ketua kelas menyodorkan petisi kepada kepala sekolah. Isinya meminta agar seorang guru diganti karena dinilai kurang becus mengajar.
Alih-alih dikabulkan, mereka justru dimarahi. Namun keberanian menyuarakan pendapat itu menjadi bukti bahwa jiwa kepemimpinannya sudah terasah sejak remaja.
Baca Juga: Tak Mampu Bayar Zakat Fitrah, Wajib Qadha atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama Syafi’iyah
Ia dikenal supel, periang, murah senyum, dan gemar membanyol dengan logat Surabaya yang kental.
Dalam bergaul, ia tak pernah membeda-bedakan teman. Sikap menghargai, baik kepada laki-laki maupun perempuan, membuatnya disenangi banyak orang.
Bahkan ketika sudah menjadi jenderal berbintang empat dan Panglima ABRI, sikap itu disebut tak banyak berubah.
Suatu ketika, saat meninjau latihan gabungan ABRI dan bertemu para ulama di Situbondo, ia memeluk erat sahabat lamanya di depan sejumlah pejabat tinggi.
Baca Juga: Perjalanan UIM Al-Gazali: Jejak Panjang Kampus Islam Moderat di Makassar Sejak 1966
"Ini teman saya sekolah sejak kecil," ujarnya kala itu.
Meniti Tangga Militer
Tahun 1956 menjadi titik balik besar dalam hidupnya ketika diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat.
Belum genap setahun pendidikan, ia sudah diterjunkan ke medan operasi.
Pada 1957, ia terlibat dalam operasi menghadapi Pemberontakan PRRI di Sumatera, bahkan sebelum resmi lulus pada 1959.
Baca Juga: Panduan Lengkap Cara Menghitung Zakat Fitrah 2026 Sesuai Nisab Resmi, Lengkap Niat dan Doa Zakat
Tahun 1962, ia ikut dalam Operasi Pembebasan Irian Barat dan berinteraksi dengan Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Komando Mandala.
Kariernya menanjak secara bertahap. Ia menempuh pendidikan di Seskoad pada 1972, kemudian dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1974.
Jabatan demi jabatan strategis diemban, mulai dari Panglima Kodam IV/Sriwijaya hingga Kodam V/Jaya.
Baca Juga: Inilah 10 Instansi Pusat dengan Persaingan Tersulit pada Seleksi CPNS!
Pada 1985, ia menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, lalu setahun kemudian menjabat KSAD. April 1987, pangkat Jenderal resmi disandangnya.
Awal 1988, ia dipercaya menjadi Panglima ABRI dan memimpin hingga 1993 dalam masa yang penuh dinamika nasional.
Baca Juga: Daftar Instansi Daerah CPNS yang Paling Sulit Ditembus!
Jalan Tak Terduga ke Kursi Wapres
Sidang Umum MPR 1993 menjadi momen paling menentukan. Banyak pihak memprediksi kursi wakil presiden akan ditempati tokoh teknokrat seperti B. J. Habibie.
Namun dinamika politik bergerak berbeda. Dukungan kuat dari kalangan militer menguatkan namanya sebagai kandidat kompromi.
Akhirnya, mantan loper koran dan kurir tentara itu resmi terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6 untuk periode 1993–1998 mendampingi Presiden Soeharto.
Dari Jalanan ke Istana
Sebagai wakil presiden, Try dikenal lebih banyak bekerja dalam senyap.
Gaya kepemimpinannya tegas, sederhana, dan mencerminkan latar belakang militernya.
Ia tumbuh dari disiplin yang dipelajari di jalanan, keberanian yang ditempa di masa perang, dan karakter yang dibangun sejak kecil.
Kadang, sejarah memang memberi ruang bagi mereka yang sejak awal sudah berani berdiri dan berkata, saya siap. Selamat jalan, Cak Su! ***




