POJOKSATU.ID - Komika sekaligus kreator konten Pandji Pragiwaksono mengungkapkan bahwa dirinya mendapat sejumlah nasihat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat menjalani tabayun di kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).
Pertemuan tersebut dilakukan sebagai upaya dialog terbuka menyusul polemik yang muncul akibat materi pertunjukan spesialnya bertajuk Mens Rea.
Pandji menjelaskan, kedatangannya ke MUI bukan untuk berdebat, melainkan untuk memberikan penjelasan secara langsung terkait substansi materi yang ia sampaikan dalam pertunjukan tersebut.
Ia menilai dialog menjadi langkah penting agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut di ruang publik.
Menurutnya, komunikasi langsung jauh lebih sehat dibandingkan saling menilai dari potongan informasi yang beredar di media sosial.
Materi Mens Rea sendiri belakangan menuai kontroversi. Sejumlah pihak menilai beberapa bagian materi tersebut berpotensi menyinggung dan menimbulkan tafsir negatif.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Keluarkan Aturan Baru, Ini Penjelasan TASPEN soal Gaji Pensiunan 2026
Bahkan, polemik itu berujung pada laporan hukum. Pandji dilaporkan ke kepolisian oleh beberapa pihak dengan tuduhan dugaan pencemaran nama baik.
Menanggapi situasi tersebut, Pandji memilih menempuh jalur dialog terlebih dahulu.
Ia berharap klarifikasi yang disampaikan dapat memperjelas konteks dan maksud dari materi komedi yang ia bawakan.
Baca Juga: Pengamat Politik Nilai Jokowi Bawa Pengaruh Buruk bagi PSI, Padahal Dulu Dianggap Partai Progresif
Dalam pertemuan itu, Pandji mengaku mendapatkan masukan dan nasihat dari MUI agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan di ruang publik.
Kuasa hukum Pandji, Haris Azhar, menegaskan bahwa langkah tabayun ke MUI merupakan bagian dari itikad baik kliennya.
Menurut Haris, MUI dipilih sebagai pihak pertama yang diajak berdialog karena memiliki kapasitas keilmuan dan institusional dalam merespons persoalan sensitif yang berkaitan dengan masyarakat luas.
“Dari semua laporan yang ada, kami memulai dengan MUI. Kami berharap MUI, dengan fasilitas keilmuan dan institusinya, dapat merespons situasi ini dengan sangat arif,” ujar Haris, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com.
Ia menambahkan, dialog semacam ini penting agar persoalan tidak langsung dibawa ke ranah hukum tanpa upaya klarifikasi.
Haris menilai pendekatan dialogis dapat membuka ruang pemahaman yang lebih utuh dan mengurangi potensi konflik berkepanjangan.
Sementara itu, polemik Mens Rea masih terus menjadi perbincangan publik.
Sebagian pihak mendukung kebebasan berekspresi dalam seni dan komedi, sementara pihak lain menekankan pentingnya sensitivitas terhadap nilai-nilai sosial dan keagamaan.
Baca Juga: Rincian Besaran TPG Bagi Guru yang Diterima Bulan Februari 2026 setelah Adanya Pemotongan
Pandji berharap pertemuannya dengan MUI dapat menjadi langkah awal menuju penyelesaian yang lebih bijak.
Ia menegaskan komitmennya untuk tetap terbuka terhadap kritik, selama disampaikan melalui dialog yang konstruktif dan saling menghormati.***




