POJOKSATU.id, TAPTENG—Hingga dua bulan bencana, korban jiwa di Tapanuli Tengah (Tapteng) yang masih hilang atau belum ditemukan mencapai 34 orang.
Data terbaru dari Pemkab Tapanuli Tengah, hingga Jumat (23/1), jumlah warga yang hilang mencapai 34 orang, dan meninggal dunia 130 jiwa.
Untuk jumlah penduduk yang mengungsi sebanyak 4.801 jiwa. Untuk korban yang masih dirawat karena luka-luka masih ada 5 orang lagi.
Sementara jumlah korban yang terdampak banjir dan longsor sebanyak 296.453 jiwa.
“Update data bencana banjir bandang dan longsor Kabupaten Tapanuli Tengah pada Jumat 23 Januari 2026,” tulis akun medsos resmi Pemkab Tapteng @Pemkab Tapanuli Tengah, Jumat (23/1).
Disebutkan, jumlah penduduk yang meninggal dunia sebanyak 130 jiwa, penduduk yang mengalami luka-luka 5 jiwa, dalam pencarian 34 jiwa, dan jumlah penduduk yang mengungsi sebanyak 4.801 jiwa.
“Update data ini hasil sinkronisasi antara BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah dengan Basarnas,”tulis akun medsos Pemkab Tapteng ini.
Baca Juga: Banjir Terulang, Warga Karawang Timur Pertanyakan Kerja Nyata BBWS
Pemkab Jalin Kerjasama
Sementara itu, Pemkab Tapteng melaksanakan penandatanganan Kesepakatan Bersama dengan Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia (Habitat for Humanity Indonesia) bertempat di Ruang Rapat Cendrawasih Kantor Bupati Tapteng, Kamis (22/1/2026).
Penandatanganan Kesepakatan Bersama ini dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan program peningkatan kualitas dan pembangunan perumahan.
Kemudian kawasan pemukiman akses layanan dasar, pengurangan resiko bencana, respon bencana banjir, tanah longsor, pohon tumbang, cuaca ekstrem, serta pemberdayaan masyarakat Kabupaten Tapteng.
Bupati Tapteng Masinton Pasaribu menyampaikan terima kasih atas kepedulian Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia (Habitat for Humanity Indonesia).
"Pada fase darurat ke pemulihan ini, kita lakukan bersama-sama baik itu Pemerintah Pusat, Kementerian Lembaga, Provinsi, Kabupaten, Jajaran TNI, Polri dan juga NGO, Swasta, maupun Relawan Kemanusiaan lainnya," kata Bupati Tapteng.
"Di era media sosial ini beredar informasi hoax atau berita bohong yang tidak paham penanggulangan bencana,” kata bupati.
Menurut Bupati, penanggulangan bencana itu dikerjakan bersama-sama, Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten, TNI, Polri, elemen masyarakat, swasta dan NGO.
Bupati Tapteng juga menegaskan, bahwa proses penanggulangan bencana ini dilakukan bersama-sama dan tidak ada yang hero (pahlawan) di sana, karena prinsip dalam penanggulangan bencana itu dilakukan bersama-sama.***


.webp)

