POJOKSATU.ID - Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkap fakta mengejutkan terkait dampak bencana alam terhadap sistem kelistrikan di Aceh.
Menurutnya, banjir dan longsor yang melanda Aceh serta sejumlah wilayah Sumatera pada akhir 2025 lalu justru menimbulkan kerusakan yang lebih luas dibandingkan tsunami Aceh 2004.
Hal itu disampaikan Darmawan saat mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga: Bicara di Swiss, Prabowo Pamerkan Indonesia Negara Paling Bahagia Sedunia Meski Hidup Sederhana
Dalam forum tersebut, ia memaparkan perbandingan skala kerusakan jaringan listrik antara dua bencana besar yang pernah melanda Aceh.
Darmawan menjelaskan, saat tsunami dahsyat menerjang Aceh pada 2004, titik kerusakan sistem kelistrikan PLN tercatat hanya berada di delapan lokasi.
Meski bencana tersebut menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dan menghancurkan berbagai infrastruktur, pemulihan listrik saat itu relatif bisa dilakukan dengan cepat.
Baca Juga: Di Panggung Dunia WEF Davos, Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Pernah Gagal Bayar Utang
“Dalam bencana tsunami Aceh, titik kerusakan sistem kelistrikan PLN ada di delapan titik. Dan dampak kerusakan itu berhasil kami tangani dalam waktu yang sangat cepat,” ujar Darmawan, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com
Namun situasi yang dihadapi PLN pada akhir 2025 sangat berbeda. Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh serta sejumlah wilayah di Sumatera berlangsung berulang dan disertai cuaca ekstrem berkepanjangan.
Akibatnya, skala kerusakan jaringan listrik jauh lebih besar dan kompleks.
Baca Juga: Hakim Tegur Saksi Fakta dalam Gugatan Rp119 Triliun CMNP, Keterangan Dinilai Tidak Relevan
Di Aceh saja, PLN mencatat sebanyak 442 titik kerusakan sistem kelistrikan. Jumlah tersebut belum termasuk kerusakan di wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yang juga terdampak cukup parah.
“Di Aceh saja ada 442 titik lokasi. Belum lagi di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Kami mengakui, kami belum pernah menghadapi bencana dengan skala seperti ini,” ungkap Darmawan.
Ia menambahkan, perbedaan utama antara tsunami dan banjir-longsor terletak pada karakter bencananya.
Tsunami datang secara tiba-tiba dan berlalu dalam waktu relatif singkat.
Sebaliknya, banjir dan longsor terjadi berulang kali, membuat upaya perbaikan jaringan listrik menjadi jauh lebih berat.
Baca Juga: Gabisa Aneh-aneh! Purbaya Sekarang Bisa Pantau Rekening Pejabat Kemenkeu
“Saat ini hampir di setiap lokasi, sistem kami rusak berat, tertimbun lumpur, dan membutuhkan upaya luar biasa untuk memulihkannya,” jelasnya.
Meski demikian, PLN terus berupaya maksimal memulihkan pasokan listrik bagi masyarakat.
Berdasarkan data per 18 Januari 2026, sebanyak 6.432 desa atau sekitar 98,9 persen desa di Aceh telah kembali menikmati aliran listrik.
Baca Juga: Ketua DPRD Karawang Geram ke BBWS: Kali Cilamaran Setahun Tak Dikeruk, Dua Kelurahan Banjir
Artinya, masih terdapat 68 desa atau sekitar 1,04 persen wilayah yang hingga kini belum sepenuhnya teraliri listrik.
PLN memastikan proses pemulihan terus dilakukan, meski menghadapi tantangan medan berat dan cuaca ekstrem.
Darmawan menegaskan, pemulihan listrik bukan sekadar soal infrastruktur, tetapi menyangkut kehidupan dan harapan masyarakat.***


