POJOKSATU.ID - Di balik sunyi dan terjalnya Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, tersimpan kisah perjuangan tim penyelamat yang mempertaruhkan keselamatan demi kemanusiaan.
Rusmandi, salah satu personel rescue Basarnas Makassar, membagikan pengalamannya saat mengevakuasi korban pertama pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan pegunungan tersebut.
Korban pertama ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Minggu, 18 Januari, sekitar pukul 13.43 WITA. Lokasinya jauh dari kata mudah.
Baca Juga: Demo Sopir Angkot di Bogor! Apa yang Sebenarnya Diminta dari Pemkot? Ini Penjelasannya
Jenazah berada di sebuah jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter dari puncak gunung, medan yang dikenal ekstrem bahkan bagi pendaki berpengalaman.
Korban berjenis kelamin laki-laki dan ditemukan dalam kondisi tersangkut di pohon, tak jauh dari bibir tebing.
Kemiringan lokasi mencapai sekitar 30 derajat, membuat setiap langkah tim SAR harus dilakukan dengan perhitungan matang.
Baca Juga: Demo Sopir Angkot di Bogor! Apa yang Sebenarnya Diminta dari Pemkot? Ini Penjelasannya
Rusmandi menceritakan, setelah memastikan kondisi korban, tim langsung melakukan prosedur standar dengan memasukkan jenazah ke dalam kantong jenazah.
Namun, proses tersebut tidak bisa dilakukan dengan cepat. Posisi korban yang sulit dijangkau serta kondisi medan yang rawan longsor membuat evakuasi berjalan penuh kehati-hatian.
“Proses memasukkan korban ke kantong jenazah saja memakan waktu sekitar satu jam,” ujar Rusmandi.
Baca Juga: DPR Dukung Pegawai MBG Jadi PPPK, Disaat Honorer Lain Masih Berjuang Cari Kepastian
Setelah itu, tim berupaya mengangkat jenazah ke arah atas sejauh kurang lebih 60 meter. Harapannya, korban bisa dievakuasi menuju titik yang lebih aman.
Namun, tantangan kembali muncul. Peralatan yang terbatas serta cuaca yang mulai memburuk membuat rencana tersebut tak bisa dilanjutkan.
Dalam kondisi itu, tim SAR memilih untuk berhenti sejenak dan melakukan diskusi di lapangan. Keselamatan personel menjadi pertimbangan utama.
Baca Juga: Di Tengah Perang Gaza, Indonesia Gabung Dewan Perdamaian Trump Bareng Saudi dan Qatar
Setelah melalui pertimbangan matang, diputuskan bahwa evakuasi ke arah atas terlalu berisiko.
“Kami sepakat mengubah jalur evakuasi. Ke atas tidak memungkinkan, jadi dipilih jalur ke bawah menuju kampung terdekat karena medannya lebih memungkinkan,” kata Rusmandi.
Keputusan tersebut mencerminkan dinamika operasi SAR di medan ekstrem, di mana setiap langkah harus menyesuaikan kondisi alam yang terus berubah.
Baca Juga: Minat Investor Indonesia Beralih ke Saham Global, Platform Digital Jadi Kunci Akses
Gunung Bulusaraung dikenal memiliki kontur curam, jurang dalam, serta cuaca yang bisa berubah drastis dalam waktu singkat.
Kisah Rusmandi dan tim SAR menjadi gambaran nyata betapa beratnya tugas di balik proses evakuasi korban kecelakaan pesawat.
Di tengah keterbatasan dan risiko tinggi, dedikasi mereka menjadi harapan bagi keluarga korban yang menunggu kepastian.
Baca Juga: Jenazah Korban Ketiga Pesawat ATR 42-500 Berupa 2 Potongan Tangan, SAR Juga Temukan Laptop Aktif
Proses pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 pun terus dilanjutkan oleh tim SAR gabungan, dengan mengedepankan prinsip keselamatan, ketelitian, dan kemanusiaan.***




