POJOKSATU.ID - Niat baik seorang wali murid untuk memperhatikan asupan gizi anaknya justru berujung rasa takut.

Seorang orang tua murid di Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, mengaku mendapat intimidasi setelah mengkritik menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan untuk anak taman kanak-kanak (TK).

Peristiwa ini bermula saat wali murid tersebut mempertanyakan kelayakan menu MBG yang diberikan kepada anak usia dini.

Baca Juga: Apes! Pria Ini Terciduk Saat Ambil Sabu di Telukjambe Karawang

Menu yang disajikan berupa nasi, tempe, kol, timun, dan buah dinilai kurang sesuai untuk kebutuhan gizi anak TK yang masih dalam masa pertumbuhan.

Kritik tersebut awalnya disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan dan perkembangan anak.

Namun respons yang diterima justru jauh dari harapan. Wali murid itu mengaku menerima pesan WhatsApp bernada intimidatif dari pihak yang tidak ia kenal.

Baca Juga: Seleksi PPPK BGN 2025 Memasuk Tahap Akhir, Pelantikan Diprediksi Usai 23 Januari 2026

Tak berhenti sampai di situ, tekanan yang diterima semakin membuat resah.

Rumah wali murid tersebut bahkan didatangi langsung oleh oknum yang mengaku sebagai pekerja dapur MBG.

Kedatangan tersebut dinilai sebagai bentuk tekanan psikologis, sehingga membuat keluarga merasa tidak nyaman dan terancam.

Baca Juga: Cara Cek Progres PDSS SNBP 2026 Secara Mandiri, Lengkap dari Status Sekolah hingga Saran Agar Aman

Alih-alih dilakukan evaluasi atau klarifikasi terkait menu yang dipersoalkan, kritik dari wali murid justru dianggap sebagai upaya mencari sensasi dan perhatian.

Sikap tersebut disesalkan, mengingat tujuan awal orang tua semata-mata ingin memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang tepat.

“Kami hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak, bukan mencari masalah,” ungkap wali murid tersebut, dikutip pojoksatu.id dari instagram @lampung.live (18/1/2026).

Baca Juga: Antisipasi Banjir, Polres Karawang Monitoring Sungai Citarum dan Cibeet

Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan seharusnya menjadi bahan evaluasi demi perbaikan program, bukan dibalas dengan intimidasi.

Kasus ini memantik perhatian publik, terutama terkait pelaksanaan program MBG di tingkat daerah.

Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi anak justru berpotensi menimbulkan polemik apabila kritik masyarakat tidak diterima dengan baik.

Baca Juga: Info GTK 2026 Sudah Berubah, Ini Cara Login, Cek Validasi TPG, dan Langkah Aman Agar Pencairan Tidak Tertunda

Sejumlah pihak menilai, kritik dari orang tua merupakan bagian penting dalam pengawasan program publik.

Terlebih, menu makanan untuk anak usia dini seharusnya disusun berdasarkan standar gizi yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan mereka.

Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa ruang dialog antara pengelola program dan masyarakat perlu dibuka seluas-luasnya.

Baca Juga: MBG Menguatkan Gizi Anak di Sekolah, Tapi Kesejahteraan Guru Masih Tertinggal dan Perlu Perhatian Serius Negara

Kritik bukanlah ancaman, melainkan masukan agar program berjalan lebih baik dan tepat sasaran.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola MBG setempat terkait dugaan intimidasi tersebut.

Wali murid berharap ada klarifikasi dan jaminan keamanan agar kejadian serupa tidak terulang, serta orang tua tidak lagi takut menyuarakan kepentingan anak-anak mereka.***