POJOKSATU.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini mulai dirasakan langsung oleh jutaan murid di sekolah.

Piring makan terisi, gizi diperhatikan, dan harapan tentang masa depan generasi sehat kembali menguat.

Negara hadir melalui kebijakan yang menyentuh kebutuhan paling dasar anak-anak.

Baca Juga: Hak TPG Guru Kini Dibaca Bulan Berjalan, Telat Update Bukan Ditunda, Ini Risiko yang Perlu Dipahami

Namun di balik kelancaran program tersebut, ada peran besar yang jarang disorot secara utuh: guru.

Di ruang kelas yang sama, para guru bukan hanya mengajar seperti biasa.

Mereka juga menjadi pengatur ritme baru sekolah, memastikan murid tertib, jadwal berjalan, dan program MBG tidak mengganggu proses belajar mengajar.

Guru Menjadi Penopang Tambahan Program MBG

Pelaksanaan MBG di sekolah bukan sekadar distribusi makanan.

Baca Juga: CPNS Polhut 2026 Diproyeksikan Besar-Besaran, Lulusan SMA atau SMK Berpeluang Besar

Guru berperan menjaga ketertiban, mendampingi murid, hingga menyesuaikan waktu pembelajaran.

Tugas-tugas ini menambah beban kerja yang sebelumnya sudah padat.

Sayangnya, tambahan tanggung jawab itu tidak selalu diikuti dengan tambahan perlindungan atau peningkatan kesejahteraan.

Bagi banyak guru, terutama honorer dan non-ASN, kondisi ekonomi masih menjadi persoalan mendasar yang belum terselesaikan.

Mereka mengajar sejak pagi, menyiapkan bahan ajar, mendidik dengan hati.

Namun setelah bel pulang berbunyi, sebagian masih harus memikirkan pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketimpangan antara Program Besar dan Nasib Guru

Program MBG menunjukkan negara mampu mengalokasikan anggaran besar demi masa depan anak-anak. Langkah ini patut diapresiasi.

Baca Juga: Kemendikdasmen Tegaskan Pentingnya Harmonisasi Lingkungan Sekolah, Rumah, dan Ruang Siber

Namun di sisi lain, kesejahteraan guru kerap terasa berjalan di tempat.

Pertanyaan yang muncul bukan soal menolak program gizi, melainkan soal keseimbangan kebijakan.

Guru adalah aktor utama pendidikan. Tanpa mereka, program apa pun akan kehilangan arah dan makna.

Baca Juga: TPG Bulanan Berlaku, Guru yang Telat Perbaiki Data Bisa Kehilangan Hak Bulan Berjalan

Ironinya, keberhasilan MBG juga sangat bergantung pada kesiapan dan ketulusan guru di sekolah.

Namun penghargaan terhadap peran tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kebijakan kesejahteraan.

Pendidikan Bukan Hanya Soal Asupan Murid

Pendidikan tidak berhenti pada apa yang dimakan murid hari ini.

Baca Juga: Breaking News 18 Januari 2026! TPG Guru Dibayar Per Bulan, Ini Dampaknya ke Hak Tunjangan

Pendidikan juga menyangkut bagaimana guru bisa bertahan secara layak untuk terus mengajar esok hari.

Guru yang sejahtera akan mengajar dengan lebih fokus, lebih tenang, dan lebih bermartabat.

Jika guru terus diminta beradaptasi, berkorban, dan menambah beban tanpa kepastian masa depan, maka kualitas pendidikan berisiko melemah dari dalam.

Negara tidak perlu memilih antara gizi anak dan kesejahteraan guru. Keduanya adalah satu kesatuan dalam sistem pendidikan yang adil dan berkelanjutan.

Saatnya Menyelaraskan Kebijakan Pendidikan

MBG adalah langkah maju, tetapi ia perlu disertai kebijakan lanjutan yang menyentuh kesejahteraan pendidik.

Penyelarasan ini penting agar pendidikan tidak timpang kuat di program, rapuh di pelaksana.

Guru ingin muridnya sehat dan cerdas. Namun guru juga membutuhkan kepastian hidup.

Karena ketika guru terus bertahan dalam ketidakpastian, pertanyaan akhirnya akan mengemuka: siapa yang akan mendidik generasi berikutnya setelah program selesai?***