POJOKSATU.ID - Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintahannya untuk menghapus kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Fokus utama diarahkan kepada kelompok desil 1 dan 2, yakni 20 persen penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Prabowo menargetkan upaya tersebut dapat tercapai sepenuhnya sebelum masa jabatannya berakhir pada 2029.
Baca Juga: Banjir di Cibuaya Karawang Mulai Surut, 2.600 Warga Terdampak
Komitmen itu disampaikan Prabowo saat meresmikan program Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan keyakinannya bahwa perubahan nasib masyarakat miskin ekstrem bukan hal mustahil, asalkan dilakukan melalui kebijakan yang tepat, terarah, dan berkelanjutan.
Prabowo menekankan bahwa negara harus hadir secara nyata untuk kelompok masyarakat paling rentan.
Baca Juga: Heboh! Dirjen Pajak Tegaskan Pegawainya Bisa Jadi Ahli Neraka Jika Lakukan Ini!
Menurutnya, fokus terhadap desil 1 dan 2 menjadi kunci agar program pengentasan kemiskinan tidak meleset dari sasaran.
Ia juga menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki kapasitas besar untuk bangkit dan menjadi negara maju serta sejahtera.
Optimisme tersebut bukan tanpa dasar. Prabowo menyinggung data penurunan angka kemiskinan ekstrem yang menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Cek Sekarang! Status BPNT Sudah Masuk atau Belum, Ini Ciri-ciri Saldo Resmi Cair
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), jumlah penduduk miskin ekstrem pada Maret 2025 tercatat sebanyak 2,38 juta orang atau sekitar 0,85 persen dari total populasi.
Angka tersebut menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya, menandakan bahwa berbagai program perlindungan sosial mulai menunjukkan hasil.
Meski demikian, Prabowo mengingatkan bahwa tantangan pengentasan kemiskinan ekstrem masih belum sepenuhnya selesai.
Baca Juga: WASPADA! Kontrak PPPK Tuban Resmi Tidak Diperpanjang, Karena Pelanggaran Ini
Salah satu tantangan besar datang dari perubahan standar kemiskinan ekstrem yang ditetapkan oleh Bank Dunia.
Perubahan metodologi tersebut berpotensi mempengaruhi perhitungan jumlah penduduk miskin ekstrem di Indonesia.
Menurut Prabowo, kondisi itu justru harus menjadi pemacu bagi pemerintah untuk bekerja lebih keras dan lebih cermat.
Baca Juga: Fantastis! Kilang Balikpapan Resmi Jadi Proyek Rp123 Triliun Termahal dalam Sejarah RI
Ia menekankan bahwa kebijakan sosial tidak boleh bersifat seremonial, melainkan harus benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat paling bawah.
Program Sekolah Rakyat yang diresmikan di Banjarbaru menjadi salah satu contoh pendekatan jangka panjang pemerintah.
Prabowo menilai pendidikan memegang peranan penting dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi, khususnya bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Baca Juga: Siswa Berprestasi Wajib Tahu! USK Buka Jalur Prestasi Talenta, Pendaftaran Mulai 17 Januari 2026
Presiden juga mengajak seluruh jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk bersinergi dalam upaya tersebut.
Menurutnya, target penghapusan kemiskinan ekstrem bukan sekadar ambisi politik, melainkan tanggung jawab moral negara terhadap rakyatnya.
Dengan sisa waktu pemerintahan hingga 2029, Prabowo menegaskan bahwa fokus pada kelompok paling miskin akan terus diperkuat.
Ia optimistis, dengan kebijakan yang konsisten dan pengawasan yang ketat, Indonesia mampu keluar dari jerat kemiskinan ekstrem dan melangkah menuju kesejahteraan yang lebih merata.***




