POJOKSATU.ID - Perjuangan dua orang guru di Serampah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menuai perhatian dan apresiasi luas dari publik.

Keduanya nekat menyeberangi aliran sungai yang deras demi bisa mengajar pada hari pertama masuk sekolah pascabencana, Senin (5/1/2026).

Aksi penuh risiko itu terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial.

Baca Juga: Pengungsi Bencana di Sumut Masih Terkonsentrasi di Tujuh Daerah, BPBD Lakukan Pemutakhiran Data

Dalam rekaman tersebut, terlihat dua guru menaiki flying fox untuk melintasi sungai yang meluap akibat banjir bandang beberapa waktu lalu.

Arus sungai tampak deras dan berbahaya, sementara akses jalan darat menuju sekolah diketahui terputus total.

Meski tanpa mengenakan pelampung atau jaket keselamatan, kedua guru tersebut tetap berani menyeberang.

Baca Juga: Kecanduan Video Pendek di Media Sosial! Dampaknya pada Fokus, Mental, dan Produktivitas

Dengan penuh kehati-hatian, mereka bergelantungan di tali flying fox hingga akhirnya berhasil mencapai seberang sungai dengan selamat.

Diketahui, aksi tersebut dilakukan karena tidak adanya akses alternatif menuju sekolah.

Jalan utama yang biasa dilalui rusak parah akibat banjir bandang, sehingga satu-satunya cara agar proses belajar mengajar tetap berjalan adalah dengan menyeberangi sungai menggunakan alat sederhana tersebut.

Baca Juga: Konten Viral Cepat Meledak tapi Mudah Dilupakan, Ini Alasannya

Perjuangan para guru ini menjadi gambaran nyata dedikasi tenaga pendidik di daerah terpencil.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan ancaman keselamatan, mereka tetap memilih hadir di sekolah demi memastikan hak pendidikan anak-anak tidak terhenti.

Aksi heroik tersebut sontak menuai reaksi emosional dari warganet.

Baca Juga: Beasiswa Türkiye Burslari Scholarship 2026! Tunjangan Besar dan Kuliah Gratis di Turki

Banyak netizen yang mengaku terharu dan memberikan pujian atas ketulusan serta pengorbanan para guru tersebut.

“Masya Allah, Bu Guru. Tidak ada panas, hujan, angin ribut yang menghalangi. Ilmunya jadi sedekah jariyah seumur hidup,” tulis salah satu netizen dalam kolom komentar.

Komentar serupa terus mengalir, memuji semangat para guru yang dinilai menjadi teladan bagi banyak pihak.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Soroti AS Serang Venezuela, Singgung Dunia Seolah Tanpa Pengawasan PBB

Tidak sedikit pula yang berharap pemerintah dapat segera memperbaiki infrastruktur di wilayah terdampak agar aktivitas pendidikan tidak lagi mempertaruhkan nyawa.

Peristiwa ini kembali menyoroti tantangan pendidikan di daerah rawan bencana dan terpencil.

Kerusakan infrastruktur pascabanjir bandang tidak hanya berdampak pada aktivitas ekonomi warga, tetapi juga mengancam keberlangsungan pendidikan anak-anak.

Baca Juga: Mau Ajukan PK? Ini 3 Ketentuan Baru Haji Khusus dari Kemenhaj RI

Masyarakat berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk mempercepat pemulihan akses jalan dan fasilitas umum.

Dengan infrastruktur yang memadai, para guru dan siswa dapat menjalankan aktivitas belajar mengajar dengan aman dan nyaman.

Perjuangan dua guru di Aceh Tengah ini menjadi pengingat bahwa dedikasi pendidikan tidak mengenal batas.

Baca Juga: Banjir Bandang Terjang Kepulauan Sitaro Seret Batu Besar ke Jalan, Korban Jiwa Bertambah 9 Orang

Di tengah segala keterbatasan, semangat mengajar tetap menyala demi masa depan generasi penerus bangsa.***