POJOKSATU.id, ACEH-- Lumpur masih basah di halaman SMAN 1 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang. Setiap langkah meninggalkan jejak, seolah mengingatkan bahwa bencana ini belum benar-benar berlalu.
Sekolah tua yang telah berdiri sejak 1965 ini menjadi saksi perjalanan pendidikan ribuan anak Aceh Tamiang. Sekolah ini kini terdiam, menunggu untuk kembali hidup.
Pada Rabu, 26 November 2025, banjir datang tanpa aba-aba. Air meluap, merangsek masuk ke ruang-ruang kelas, naik perlahan hingga lantai dua. Bangku, meja, buku, dan peralatan laboratorium hanyut dalam kekacauan.
Saat air surut, yang tersisa bukan hanya genangan, melainkan lumpur tebal yang menutup hampir seluruh sudut sekolah.
Di tengah kondisi itu, Hazairin Sitepu, Penanggungjawab Gerakan Anak Negeri, berdiri menatap ruang belajar yang tak lagi sama.
“Sekolah ini terendam sampai ke lantai dua,” ujarnya, sambil menunjuk bekas garis air di dinding, Kamis, 1 Januari 2026.
SMAN 1 Kejuruan Muda bukan sekolah biasa. Sekolah yang memiliki 28 Rombongan Belajar (Rombel) dengan lebih dari 900 siswa, dan 97 guru ini menjadi salah satu pusat pendidikan penting di Aceh Tamiang.
Namun kini, aktivitas belajar terhenti. Para siswa diminta kembali masuk sekolah pada 5 Januari 2026, sebuah tanggal yang terdengar optimistis, namun terasa berat jika melihat kondisi nyata di lapangan.
Sudah dua hari alat berat dikerahkan. Lumpur diangkut, disingkirkan, dan ditumpuk.
Namun kenyataan berbicara lain—lumpur masih setinggi betis, bahkan lebih, di sejumlah titik.
Baca Juga: Gerakan Anak Negeri Salurkan Perlengkapan Ibadah untuk Santri dan Warga Aceh Tamiang
“Katanya alat berat sudah bekerja. Tapi lumpurnya masih setinggi ini,” kata Hazairin, nada suaranya menahan kelelahan dan kegelisahan.
Banjir tak hanya menggenangi ruang kelas. Tapi empat laboratorium dan Perpustakaan pun tak luput dari rendaman. Rak-rak buku roboh, koleksi bacaan terendam, dan ruang yang selama ini menjadi sumber pengetahuan kini berubah menjadi ruang kosong yang sunyi.
Bagi Hazairin, kerusakan ini bukan sekadar persoalan bangunan. Ini tentang hak anak-anak untuk belajar, tentang masa depan yang tertunda.
“Bukan hanya soal anak-anak datang lalu bisa duduk di kelas. Laboratorium-laboratorium di sekolah ini juga harus kembali berfungsi,” katanya.
Baca Juga: Viral! Warga Aceh Mengeluh Lumpur Setinggi Orang Dewasa Tak Kunjung Dibersihkan Sudah Satu Bulan!
Ia percaya, sekolah memiliki peran lebih dari sekadar tempat belajar. Di tengah trauma pascabencana, sekolah adalah ruang pemulihan.
“Kalau mereka datang ke sini, bertemu teman-temannya, bertemu guru, itu bagian dari menyembuhkan. Kerinduan mereka untuk bersekolah bisa terobati,” ujarnya.
Namun harapan itu terasa jauh, selama lumpur masih menguasai ruang-ruang belajar.
Hazairin menilai, pembersihan dengan cara biasa tidak akan cukup.
Hazairin menyebut, kolaborasi masif dengan TNI menjadi langkah yang realistis untuk mempercepat pemulihan.
“Yang bisa bekerja cepat dalam kondisi seperti ini hanya teman-teman TNI,” tegasnya.
Ia pun mendorong Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Pemerintah Provinsi Aceh, hingga Pemerintah Pusat untuk memberikan perhatian serius, tidak setengah-setengah.
Menurutnya, perhatian terhadap sekolah-sekolah terdampak banjir harus berjalan paralel dengan penanganan sektor lain. Pendidikan tidak boleh menjadi urusan yang tertunda.
“Kami dari relawan hanya bisa membantu sedikit. Bantuan kami sangat kecil,” katanya.
“Pemerintah punya segalanya untuk menyelesaikan permasalahan ini,” tegasnya.
Kini, SMAN 1 Kejuruan Muda masih menunggu. Menunggu lumpur benar-benar pergi. Menunggu ruang kelas kembali bersih. Menunggu suara langkah kaki siswa yang rindu belajar.
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Di sekolah tua ini, harapan belum mati. Ia hanya tertahan oleh lumpur, oleh waktu, dan oleh keputusan-keputusan yang ditunggu untuk segera diambil.




