POJOKSATU.id - Viral sebuah unggahan yang menghebohkan media sosial dalam beberapa hari terakhir.

Video tersebut menampilkan seorang petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Solear, Kabupaten Tangerang, yang dengan lantang menyuarakan protesnya mengenai dugaan praktik penggajian yang dianggap tidak manusiawi.

Bukan tanpa alasan, petugas itu mengaku hanya menerima gaji sebesar Rp868 ribu per bulan, jumlah yang langsung memicu gelombang kemarahan warganet.

Baca Juga: Padat Wisata Saat Libur Tahun Baru, Kuda Andong di Malioboro Tiba-Tiba Tumbang Diduga Kelelahan

Dalam video yang beredar, petugas tersebut tampak menulis dengan suara penuh kecewa.

Ia menjelaskan bahwa upah yang diterimanya sangat jauh dari ketentuan yang seharusnya berlaku.

Bahkan ia menyebutkan bahwa sistem penggajian di SPBU tempatnya bekerja tidak sesuai dengan aturan yang seharusnya mengatur hak-hak para pekerja, terutama terkait upah minimum.

Baca Juga: Lulus PPG 2025 Tanpa NUPTK, Apakah TPG Bisa Cair? Simak Dampak dan Langkah Aman Guru

Unggahan itu sontak memancing perhatian publik, yang menilai angka Rp868 ribu per bulan tersebut tidak masuk akal untuk seorang pekerja formal.

Hebohnya unggahan ini langsung berdampak ke lapangan. Warganet melaporkan bahwa SPBU yang menjadi sorotan tersebut mendadak sepi dan kosong.

Tidak sedikit warga yang sengaja menghindari mengisi bahan bakar di lokasi itu sebagai bentuk protes spontan.

Baca Juga: Mudik dan Liburan Selama Nataru Lebih Tenang, Pertamina Regional JBB Hadirkan Layanan Antar BBM PDS 135

Beberapa komentar menyebutkan bahwa masyarakat merasa tidak sepantasnya SPBU sebesar itu menggaji pekerjanya di bawah standar.

Ada pula yang menilai tindakan tersebut merupakan bentuk eksploitasi terhadap karyawan yang seharusnya mendapat perlindungan.

Yang membuat publik semakin geram adalah kenyataan bahwa hingga kini belum ada klarifikasi resmi dari pihak SPBU terkait tuduhan tersebut.

Tidak ada pernyataan terbuka, penjelasan, ataupun pembelaan yang diberikan kepada masyarakat.

Absennya tanggapan inilah yang kemudian memperkuat kecurigaan warganet bahwa ada sesuatu yang memang tidak beres dalam sistem penggajian SPBU tersebut.

Baca Juga: Padat Wisata Saat Libur Tahun Baru, Kuda Andong di Malioboro Tiba-Tiba Tumbang Diduga Kelelahan

Sementara itu, unggahan asli petugas tersebut terus dibagikan ulang oleh ribuan pengguna media sosial di berbagai platform.

Kolom komentar dipenuhi sumpah serapah, keprihatinan, hingga tuntutan agar kasus ini segera diproses.

Yang menarik, banyak netizen yang secara langsung menandai akun Instagram resmi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dalam komentar mereka.

Baca Juga: Lulus PPG 2025 Tanpa NUPTK, Apakah TPG Bisa Cair? Simak Dampak dan Langkah Aman Guru

Langkah ini diambil sebagai bentuk desakan agar pemerintah turun tangan memeriksa kebenaran kasus tersebut.

Gelombang kemarahan publik ini tidak terbatas pada satu wilayah saja.

Pengguna dari berbagai daerah menilai bahwa jika apa yang disampaikan petugas SPBU itu benar.

Baca Juga: Lulus PPG 2025 Tanpa NUPTK, Apakah TPG Bisa Cair? Simak Dampak dan Langkah Aman Guru

Maka kasus ini harus dijadikan contoh bahwa praktik penggajian yang tidak sesuai aturan tidak boleh dibiarkan.

Beberapa netizen bahkan mendorong agar pemerintah daerah maupun pengawas ketenagakerjaan segera melakukan inspeksi mendadak ke lokasi.

Viralnya kejadian ini menjadi alarm bahwa persoalan upah pekerja masih menjadi isu serius yang harus terus diperhatikan.

Publik kini menunggu langkah lanjutan dari pihak terkait baik SPBU yang bersangkutan maupun pemerintah untuk memberikan kejelasan dan memastikan bahwa hak-hak pekerja tidak disepelekan.

Sementara itu, kisah petugas SPBU Solear ini terus menjadi bahan perbincangan panas di media sosial, memancing empati sekaligus kemarahan banyak pihak.***