POJOKSATU.id- Gelombang bantuan kemanusiaan dari Malaysia tiba mendadak di Aceh pada penghujung Desember 2025.

Memecah kebuntuan di tengah polemik nasional soal penerimaan bantuan asing.

Di saat pemerintah pusat masih berhitung dan publik menunggu kejelasan, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem justru tampil di barisan depan.

Baca Juga: Satu Keluarga di Situbondo Ditemukan Tewas Dibunuh, Polisi Buru Pelaku

Menyambut kedatangan bantuan dari negara tetangga dengan sikap tegas dan terbuka.

Bantuan tersebut datang dari sejumlah organisasi Malaysia seperti Majlis Ugama Islam dan Adat Resam Melayu Pahang serta Dewan Perniagaan Malaysia–Aceh.

Mereka mengirimkan paket logistik berisi sembako, pakaian layak pakai, perlengkapan bayi.

Baca Juga: Masih Perlukah Transmigrasi?

Dan barang kebutuhan pokok lain yang sangat dibutuhkan warga di kawasan banjir dan longsor.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis di Aceh Utara pada 28 Desember 2025, dan kembali dilaporkan oleh media lokal pada 29 Desember 2025.

Mualem, yang hadir langsung menerima bantuan itu, menyampaikan pernyataan yang segera menarik perhatian publik Indonesia maupun Malaysia.

Baca Juga: Kemenhut Kebut Pembersihan Banjir Aceh Tamiang, Ratusan Personel dan alat berat Kerja Bereskan Kayu Gelondongan

“Terima kasih banyak kepada saudara kita yang ada di Malaysia. Kami menerimanya dengan lapang dada, apa saja yang diberikan,” kata Mualem dikutip pojoksatu.id dari Antara.

Ungkapan tersebut dengan cepat menjadi sorotan karena muncul di tengah tensi yang sebelumnya meningkat akibat pernyataan pemerintah pusat mengenai bantuan internasional.

Sebagian pihak menilai pemerintah pusat terlalu membatasi masuknya bantuan asing, namun Aceh.

Dengan kondisi geografis yang sulit ditembus, dinilai membutuhkan dukungan cepat dari mana pun datangnya.

Karena itu, sikap Mualem dipandang sebagai langkah cepat yang memprioritaskan keselamatan warga ketimbang perdebatan politik.

Baca Juga: Satu Keluarga di Situbondo Ditemukan Tewas Dibunuh, Polisi Buru Pelaku

Bencana banjir dan longsor di Aceh merupakan salah satu dampak paling parah dari badai tropis Senyar yang melanda Sumatra pada akhir November 2025.

Ribuan rumah rusak, puluhan ribu warga mengungsi, dan berbagai wilayah terisolasi karena akses jalan putus.

Hingga akhir Desember, sejumlah titik masih mengalami genangan tinggi dan tanah longsor susulan.

Baca Juga: Kemenkeu Pastikan TPG THR Guru 100 Persen Cair Desember 2025, Ini Penjelasan Resmi dan Daerah Penerima

Dengan kondisi itu, setiap bantuan logistik memiliki nilai vital untuk memenuhi kebutuhan harian pengungsi.

Bantuan dari Malaysia bukan hanya berupa barang, tetapi juga bentuk solidaritas emosional.

Negara jiran itu memiliki ikatan sejarah kuat dengan Aceh, dari hubungan budaya hingga ikatan diaspora.

Baca Juga: Janji Kilat Pemerintah! 15 Ribu Rumah Korban Bencana Harus Jadi dalam 90 Hari, Mampukah Terpenuhi?

Tidak heran jika beberapa organisasi Malaysia bergerak cepat mengumpulkan donasi dan mengirimkannya ke wilayah terdampak.

Media Malaysia pun menyoroti momen penyerahan bantuan ini sebagai bukti hubungan erat kedua wilayah.

Apalagi setelah sempat terjadi salah paham publik terkait pernyataan pejabat Indonesia.

Sementara itu, di Aceh, respons masyarakat sangat positif. Video kedatangan bantuan dan sambutan Mualem ramai beredar di media sosial.

Banyak warga mengapresiasi keterbukaan pemerintah Aceh yang dianggap mampu menembus kebuntuan birokratis.

Di berbagai lokasi pengungsian, bantuan yang masuk langsung didistribusikan melalui pos-pos relawan lokal, termasuk di Aceh Utara dan Aceh Tengah.

Baca Juga: Satu Keluarga di Situbondo Ditemukan Tewas Dibunuh, Polisi Buru Pelaku

Mualem menegaskan bahwa Aceh akan terus menerima bantuan selama bersifat kemanusiaan dan tidak bertentangan dengan aturan negara.

Ia juga meminta masyarakat tidak terjebak dalam perdebatan politis yang dapat menghambat proses penyelamatan warga.

Dengan gelombang bantuan yang masih terus mengalir, Aceh tetap berharap pemerintah pusat dapat memberikan fleksibilitas lebih besar dalam situasi bencana besar seperti ini.

Baca Juga: Janji Kilat Pemerintah! 15 Ribu Rumah Korban Bencana Harus Jadi dalam 90 Hari, Mampukah Terpenuhi?

Solidaritas lintas negara yang muncul tiba-tiba dari Malaysia memperlihatkan bahwa jaringan kemanusiaan tetap bekerja meski politik kerap membuat segalanya rumit.***