POJOKSATU.id - Rata-rata nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika nasional yang hanya mencapai sekitar 30 dari 100 poin membuat pemerintah dan DPR RI pasang alarm keras terhadap kualitas pendidikan Indonesia.

Temuan ini dinilai bukan sekadar masalah pemahaman siswa, tetapi indikasi kuat adanya persoalan lebih besar kualitas guru dan kampus keguruan yang diduga melemah.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menegaskan bahwa hasil TKA yang merosot tahun ini bukan data biasa.

Baca Juga: Setelah Lulus PPG, Guru Wajib Tahu Urutan NUPTK dan NRG agar Sertifikasi Tidak Bermasalah

Pemerintah menyebut skor rendah tersebut memberikan gambaran nyata bahwa proses pembelajaran di sekolah masih belum menghasilkan kompetensi dasar yang memadai.

Bahkan, beberapa hasil mata pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris juga tercatat berada di bawah standar capaian nasional.

Kondisi ini memicu perhatian serius DPR, terutama Komisi X yang membidangi pendidikan.

Baca Juga: TPG THR 100 Persen Cair Pekan Ini? Ini Penjelasan Resmi dan Imbauan untuk Guru

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menegaskan bahwa rendahnya skor tersebut tidak bisa semata-mata dianggap sebagai kegagalan peserta didik.

Ia menilai hasil TKA justru menunjukkan adanya masalah mendalam dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Rendahnya nilai TKA Bahasa Inggris dan Matematika perlu dilihat sebagai peringatan bahwa ada persoalan struktural dalam pembelajaran, bukan semata kelemahan siswa,”.

Baca Juga: TPG THR 100 Persen Cair Pekan Ini? Ini Penjelasan Resmi dan Imbauan untuk Guru

kata Hetifah,dikutip pojoksatu.id dari times indonesia 26/12/2025.

Para anggota dewan menyebut hasil TKA 2025 sebagai “rapor merah” pendidikan Indonesia.

Mereka menilai pemerintah harus segera turun tangan untuk membedah penyebab merosotnya kemampuan akademik siswa secara nasional.

Dan salah satu fokus utama adalah kualitas pengajaran guru.

Baca Juga: Geger! Tiga Hakim Kasus Tom Lembong Terbukti Langgar Etik, KY Minta MA Bertindak

Menurut DPR, rendahnya hasil TKA menjadi tanda adanya masalah sistemik yang tidak bisa lagi ditutupi.

Kualitas guru yang langsung bersentuhan dengan siswa menjadi faktor krusial.

Bila siswa gagal memahami konsep dasar matematika, bahasa, hingga logika, maka akar persoalan harus ditelusuri dari proses pendidikan calon guru.

Pemerintah tidak menampik kekhawatiran tersebut.

Baca Juga: Setelah Lulus PPG, Guru Wajib Tahu Urutan NUPTK dan NRG agar Sertifikasi Tidak Bermasalah

Mendikti menyatakan pihaknya kini tengah mempertimbangkan evaluasi menyeluruh terhadap kampus keguruan, terutama yang mencetak tenaga pendidik.

Pemerintah menilai peningkatan kualitas guru tidak bisa hanya dilakukan ketika mereka sudah mengajar di sekolah, tetapi harus dimulai sejak masa pendidikan di kampus.

Salah satu alasan kampus keguruan mendapat sorotan adalah karena lulusan-lulusannya diharapkan mampu menjadi motor peningkatan pendidikan di Indonesia.

Baca Juga: Lulus UKPPPG Bukan Akhir, Guru Diimbau Segera Urus NUPTK dan NRG agar TPG Tidak Tertunda

Namun bila kualitas akademik dasar siswa menurun drastis, pemerintah menilai perlu ada audit terhadap metode pembelajaran, kurikulum kampus guru.

Hingga standar kelulusan calon pendidik.

Di sisi lain, pemerintah juga memastikan bahwa meski hasil TKA digunakan sebagai alat evaluasi nasional.

Nilai tersebut belum menjadi syarat wajib untuk SNBP atau seleksi masuk perguruan tinggi negeri.

Namun, hasil TKA tetap menjadi indikator penting untuk memetakan kemampuan siswa dalam skala nasional dan menjadi rujukan perbaikan kebijakan.

Baca Juga: Setelah Lulus PPG, Guru Wajib Tahu Urutan NUPTK dan NRG agar Sertifikasi Tidak Bermasalah

Para ahli pendidikan menilai hasil TKA yang rendah merupakan cerminan ketidaksiapan sekolah menghadapi perubahan kurikulum.

Lemahnya literasi matematika, hingga kurangnya pendampingan belajar.

Namun banyak pengamat juga menyoroti kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar karena guru menjadi fondasi utama pembentukan kompetensi siswa.

Baca Juga: Setelah Lulus PPG, Guru Wajib Tahu Urutan NUPTK dan NRG agar Sertifikasi Tidak Bermasalah

DPR menegaskan bahwa jika tidak dilakukan pembenahan serius, Indonesia bisa tertinggal semakin jauh dari negara lain dalam kemampuan akademik dasar.

Negara-negara dengan standar literasi tinggi rata-rata memiliki sistem pendidikan guru yang kuat, seleksi ketat, dan fasilitas pelatihan berkelanjutan.

Dengan hasil TKA yang menukik, publik kini menunggu langkah konkret pemerintah.

Baca Juga: Geger! Tiga Hakim Kasus Tom Lembong Terbukti Langgar Etik, KY Minta MA Bertindak

Evaluasi kampus keguruan yang direncanakan diharapkan bukan sekadar formalitas, tetapi mampu mendorong perubahan nyata dalam kualitas pendidikan nasional.

Meski demikian, pemerintah juga mengingatkan bahwa perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari guru, sekolah, kurikulum, hingga kesiapan siswa.

Rendahnya nilai TKA tidak boleh disikapi sebagai kegagalan satu pihak, tetapi sebagai peringatan kolektif bahwa ekosistem pendidikan membutuhkan pembaruan besar-besaran.

Perdebatan mengenai TKA kemungkinan masih akan berlangsung panjang.

Namun yang pasti, hasil TKA tahun ini telah membuka mata banyak pihak bahwa kualitas pendidikan Indonesia tidak sedang baik-baik saja.

Skor Matematika 30/100 hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang lebih dalam.***