POJOKSATU.id — Jagat maya mendadak geger setelah pernyataan seorang Profesor IPB yang juga Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Ikeu Tanziha.
Viral lantaran menyebut siswa yang mengunggah temuan belatung di makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai tindakan “tidak bersyukur”.
Publik sontak meledak dan geram, terlebih temuan belatung tersebut adalah persoalan higienitas yang berhubungan langsung dengan kesehatan anak sekolah.
Baca Juga: Kakek Saikam di Rawamerta Karawang Ternyata Penerima Aktif PKH
Kisruh bermula dari unggahan siswa di sebuah sekolah yang memperlihatkan belatung di dalam menu MBG.
Unggahan itu viral, memicu gelombang kritik terhadap kualitas makanan program MBG yang tengah diuji masyarakat.
Namun yang tak kalah membuat heboh adalah respons seorang akademisi yang justru menyalahkan siswa.
Baca Juga: Fantastis! Rp15,7 M Disiapkan untuk Gaji Ribuan PPPK Paruh Waktu Lebak 2026
Dalam pernyataannya yang dilansir tempo.co, Profesor Ikeu menyebut secara gamblang:
“Seperti tadi contoh ada belatung di menu MBG, apa untungnya buat anak?” ujar dia dalam diskusi soal MBG di Ruang Belajar Alex Tilaar, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Desember 2025.
Kutipan tersebut langsung menjadi pemantik polemik.
Baca Juga: Perbedaan BSU 2025 dan BSU 2026 dalam RAPBN, Ini Arah Kebijakan Kemnaker
Banyak warganet yang merasa pernyataan itu tidak pada tempatnya, terutama karena siswa dianggap hanya menyampaikan kondisi nyata dari makanan yang mereka terima di sekolah.
Tidak berhenti di situ, sang profesor juga mempertanyakan manfaat unggahan tersebut. Ia menyampaikan:
“Kami takutnya, itu malah membentuk jiwa tidak bersyukur dari anak-anak,” ucapnya.
Dalam pandangannya, siswa seharusnya melaporkan langsung kepada guru atau pihak sekolah.
Menurutnya, publikasi di media sosial justru memperkeruh suasana dan menunjukkan sikap yang tidak baik.
Baca Juga: Perbedaan BSU 2025 dan BSU 2026 dalam RAPBN, Ini Arah Kebijakan Kemnaker
Pernyataan inilah yang kemudian membuat reaksi publik semakin liar.
Banyak pihak menyayangkan komentar itu dan menilai bahwa siswa memiliki hak untuk bersuara, terlebih jika berkaitan dengan makanan yang tidak layak konsumsi.
Dalam konteks kesehatan anak, temuan belatung dianggap sebagai hal serius dan tidak seharusnya dibungkam hanya demi menjaga citra program.
Baca Juga: Mirip Camilan Biasa, Kejari Bogor Musnahkan 5 Kg Keripik Pisang yang Mengandung Narkoba
Di sisi lain, pihak pendidikan turut memberikan respons.
Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyebut banyak siswa dan guru memang merasa kesulitan.
Dalam menyampaikan keluhan melalui jalur resmi karena takut adanya tekanan struktural di sekolah.
Baca Juga: Fantastis! Rp15,7 M Disiapkan untuk Gaji Ribuan PPPK Paruh Waktu Lebak 2026
Mereka menilai keberanian siswa mempublikasikan temuan itu ke publik adalah bentuk kepedulian terhadap keselamatan teman-temannya.
Sementara itu, sebagian masyarakat menilai unggahan siswa justru membantu pemerintah melakukan evaluasi.
Keberadaan belatung menandakan adanya persoalan dalam rantai penyediaan makanan mulai dari dapur, proses distribusi, hingga pengawasan mutu.
Kisruh ini sekaligus membuka kembali berbagai catatan masalah MBG yang sebelumnya juga sudah mendapat sorotan.
Mulai dari mutu makanan yang dinilai tidak konsisten, kasus keracunan di beberapa daerah, hingga keluhan kebersihan dan porsi yang dianggap tidak layak.
Meski demikian, Profesor Ikeu tetap menekankan pentingnya mekanisme pelaporan resmi.
Baca Juga: Fantastis! Rp15,7 M Disiapkan untuk Gaji Ribuan PPPK Paruh Waktu Lebak 2026
Ia menyebut pemerintah tengah menyiapkan sistem pengaduan terpadu, sehingga siswa bisa menyampaikan keluhan tanpa harus memviralkan kejadian.
Namun, di ruang publik, pernyataan sang profesor terlanjur memicu gelombang reaksi besar.
Sebagian warganet membandingkan pernyataan itu dengan realitas di lapangan anak-anak sekolah mendapat makanan yang seharusnya bergizi, tetapi justru ditemukan belatung.
Baca Juga: Kakek Saikam di Rawamerta Karawang Ternyata Penerima Aktif PKH
Hingga artikel ini ditulis, perdebatan masih terus berlangsung. Publik menilai persoalan utama bukan pada unggahan siswa, melainkan pada mutu makanan yang tidak layak.
Sedangkan sebagian lainnya menilai komunikasi publik harus dilakukan dengan bijak agar tidak menimbulkan kegaduhan.
Yang jelas, kisruh ini menjadi alarm penting bagi pemerintah untuk meningkatkan standar kualitas MBG serta memperbaiki saluran pengaduan.
Baca Juga: Kakek Saikam di Rawamerta Karawang Ternyata Penerima Aktif PKH
Agar lebih aman, responsif, dan tidak membuat siswa merasa takut.***




